Hidayatullah.com – Iran pada hari Senin memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat melancarkan serangan lagi terhadap Iran, Teheran akan mengerahkan senjata baru dan menghantam target-target yang belum pernah disasar sebelumnya.
Juru bicara Korps Garda Revolusi (IRGC), Hossein Mohebbi, mengatakan bahwa Iran juga akan mengubah “geografi perang” jika serangan lain terjadi.
“Jika terjadi agresi baru, kami pasti akan mengerahkan senjata baru dengan kemampuan baru ke dalam pertempuran, dan dunia akan dibuat takjub,” ujarnya dikutip kantor berita Fars (21/09/2026).
“Target-target kami pun tidak akan sama lagi. Kami memiliki target baru yang belum pernah diserang sebelumnya,” imbuh Mohebbi. Ia menambahkan bahwa Iran juga siap menghadapi “perang berkepanjangan.”
Ancaman ini muncul setelah komandan Khatam al-Anbiya—komando operasional gabungan angkatan bersenjata Iran—menyatakan pada akhir pekan lalu bahwa ia telah menerima informasi yang mengindikasikan Amerika berencana melanjutkan operasi terhadap Iran.
Komandan tersebut memperingatkan bahwa jika hal itu terjadi, pangkalan dan kepentingan AS di kawasan tersebut akan menghadapi serangan yang “berkelanjutan, efektif, dan menyakitkan.”
Iran: Amerika Sudah Kalah
Hossein Mohebbi menegaskan bahwa AS telah kalah dalam perang melawan Iran. Namun, negara tersebut tidak memiliki keberanian untuk mengakui dan menerima “kekalahan bersejarah dan memalukan” itu, tambahnya.
Menurut Hossein, Washington tidak hanya gagal mencapai tujuannya dalam konflik ini, tetapi juga mengalami kemunduran. Termasuk ketidakmampuan untuk membuka kembali Selat Hormuz, sekaligus mematahkan klaim tentang kemampuan superior maritim AS.
“Serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Iran terhadap pusat komando dan logistik AS di negara-negara kawasan melumpuhkan sebagian besar pangkalan tersebut dan memaksa kapal-kapal Armada Kelima AS untuk mundur hingga jarak 400 kilometer dari Teluk Persia,” ujarnya.
“Penargetan markas intelijen AS di kawasan tersebut, serta respons rudal dan drone Iran, telah meruntuhkan persepsi di kalangan rival maupun sekutu Washington bahwa teknologi militer canggih AS—seperti jet F-35 dan sistem Patriot—tidak dapat ditembus.”
Mohebbi menambahkan bahwa serangan terhadap lokasi sipil, termasuk sebuah sekolah di Minab dan acara pernikahan, ditambah dengan uji coba senjata non-konvensional di Lamerd, telah mengikis legitimasi moral AS.
Juru bicara tersebut menegaskan bahwa IRGC telah mempersiapkan diri untuk menghadapi perang atrisi (perang pengurasan kekuatan) yang berkepanjangan, dan akan merespons dengan senjata baru serta mengubah peta geografis konflik jika musuh mengulangi tindakan gegabahnya.*




