Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Swiss: Masalah Pemakaman Islam dan Toleransi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 April 2010 13:14 1:14 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 April 2010 13:14
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Beberapa waktu lalu Farhad Ashar, President of the Coordination of Islamic Organization in Switzerland membuat pernyataan yang mengejutkan kalangan muslim dan nonmuslim di mingguan Sonntag. Farhad menegaskan bahwa dia akan mengajukan proses hukum dengan dasar hambatan kebebasan beragama, setelah masyarakat kampung Könitz menolak usulan adanya kuburan terpisah bagi masyarakat muslim.

“Dia itu kurang kerjaan saja, padahal tidak begitu maksudnya. Dengan cara demikian, dia mengubah sesuatu menjadi masalah… Padahal seharusnya tidak bisa dilakukan dengan cara demikian,” demikian dikatakan Stephanie Lathian, seorang pakar Islam Swiss dari University of Lausanne, sebagaimana dikutip oleh Swiss Info.

Sesungguhnya bagi masyarakat muslim di Swiss, tidak ada larangan untuk menguburkan jenazah secara Islam dan di tempat pemakaman Islam. Di beberapa kota besar seperti Zurich, Jenewa, Bern, Basel, dan lain-lain sudah ada tempat khusus pemakaman bagi warga muslim. Tidak ada diskriminasi sama sekali dann tidak ada larangan.

Penolakan dari kampung Könitz barangkali hanya disebabkan di Bern sudah ada pemakaman muslim, meski di kampung lain. Dengan demikian seharusnya tempat yang ada dimaksimalkan dulu, bukan lantas membuka kompleks pemakaman baru seperti yang diusulkan itu. Beberapa kalangan muslim sendiri menganggap cara yang ditempuh Farhad akan bisa merugikan kepentingan masyarakat Islam.

Pengalaman saya yang sudah hampir satu bulan tinggal di Swiss tidak mengalami hambatan apapun dalam menunaikan kewajiban saya sebagai muslim. Setiap Jumat, saya menghadiri jamaah di masjid yang dikelola muslim Albania dari Kosovo. Yang dimaksud masjid di sini memang mirip musholla di kantor-kantor di Indonesia, bukan bangunan khusus yang ada menaranya. Satu-satunya tanda pengenal ialah, dipintu masuk ada tulisan kaligrafi “Bismillahirrohmanirrohim”.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Bagi kita warga Indonesia, yang kita pahami sebagai masjid adalah tempat kita shalat berjamaah dan secara reguler tempat itu diselenggarakan shalat Jumat. Sedang masyarakat Timur Tengah umumnya mengatakan, sebuah bangunan baru disebut masjid kalau gaya arsitekturnya ada kubahnya dan menaranya.

Di Bern yang berpenduduk hanya sekitar 300.000 orang, ada sekitar empat masjid yang memenuhi “kriteria” orang Arab. Tetapi sesungguhnya ada puluhan masjid tanpa menara seperti milik kaum muslimin Albania Kosovo itu.

Warga Indonesia sendiri di seluruh Swiss kurang dari 2000. Dari jumlah sebanyak itu, muslim Indonesia yang tinggal di ibu kota Bern hanya beberapa puluh saja. Setiap bulan sekali dilaksanakan pengajian di aula KBRI, pada hari Ahad. Karena aulanya sempit, mulai bulan april ini saya minta dipindahkan ke Wisma Indonesia yang lebih luas.

Sebagai Dubes, saya memang berkepentingan juga untuk ikut membina pengajian warga yang dinamakan “Jamaah An Nur” itu. Beruntung di antara staf lokal KBRI ada Desrial Anwar yang pernah sekolah di Kairo, Mesir, sehingga mempunyai ilmu agama yang lumayan.

Ketika saya ditugaskan sebagai koresponden Jawa Pos di Washington DC 20 tahun yang lalu, saya juga sempat jadi pengurus pengajian warga Indonesia di sana, bahkan sesekali menjadi khatib sholat Jumatnya.

Sedang di Bern sampai saat ini komunitas muslim Indonesia belum bisa mendirikan jamaah shalat Jumat. Rencananya akhir pertengahan April atau Mei ini akan kami lakukan jika persiapannya sudah memadai.

Terus terang saja, saya sudah rindu dengar adzan seperti di Indonesia. Maklum masjid milik orang Arab atau Albania sangat kering dengan qiraat. Adzannya tidak ada lagu sama sekali, begitu pun bacaan imam tidak senikmat di Indonesia. Belum lagi, masjid di Swiss tidak riuh seperti di kampung mertua saya yang kiri kanan adalah masjid NU, di mana mesti ramai dengan puji-pujian atau tarkhim di pagi hari. Memang, di negeri orang seperti Swiss ini, meski latar belakang saya Muhammadiyah, saya kadang juga kangen tradisi keagamaan NU di kampung- kampung kita.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia sering menjadi tumpuan harapan untuk bisa menjelaskan “Islam Moderat” di negara Barat.

Karenanya, Inter Faith dialogue (atau dialog antariman) menjadi salah satu platform diplomasi Indonesia. Sayangnya kedatangan saya di Swiss sudah mepet waktunya dengan pelaksanaan Muktamar NU. Rasanya perhelatan akbar di Makassar kemarin itu layak diketahui warga Swiss. Banyak mereka yang kemudian berubah pemahaman tentang Islam setelah dijelaskan bahwa Islam tidak identik dengan Timur Tengah atau konflik di Timur Tengah.

Orang Swiss akan terheran-heran bahwa orang Islam setiap hari setidaknya harus mencuci bersih wajah dan anggota badan lainnya lima kali. Juga bahwa menjaga kebersihan itu merupakan sebagian dari iman.

Sayangnya ajaran Islam yang bagus itu banyak diabaikan oleh umatnya. Contohnya, meski sudah diajarkan untuk menjaga kebersihan, masih banyak masjid atau langgar kita di kampung yang jorok. Sudah tahu merokok itu tidak ada manfaatnya, masih juga di pengajian merokok dengan santai.

Meski demikian orang Swiss tetap kagum bahwa kasus alkoholisme sangat rendah di Indonsia dan negara Islam lainnya. Rupanya untuk menghindari alkohol dan makan babi, umat Islam relatif masih taat, tapi tidak untuk merokok dan kedisiplinan lainnya.

Memang, kawan-kawan dari Indonesia yang baru tiba di Swiss sering berkomentar, “Di Swiss tidak banyak orang yang membaca syahadat, tetapi mereka sangat disiplin, kerja keras, menjaga kebersihan, dan yang penting, korupsinya sangat rendah.” Tak ada salahnya kita meniru yang baik dan perlu. [[email protected]/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kasus Ibu Menganiaya Anak Terus Meningkat
Tulisan selanjutnya Muhammadiyah Jangan Jadi Subordinat Kekuasaan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang

Berita
5 Juni 2026 05:00
Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’
Suriah Buru Pelaku Kejahatan Perang, Eks Komandan Assad Ditangkap
Sedang Menangkap Ikan, Remaja Palestina Syahid Dihantam Tembakan Kapal ‘Israel’
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Terbaru

  • Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
  • MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa
  • Jenderal ‘Israel’ Naik Pangkat Usai Bunuh Anak Palestina, Kini Dipecat karena Skandal Moral
  • Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
  • Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’
  • BPJPH Dorong Pelaku Usaha Urus Sertifikat Halal Jelang Wajib Halal 2026
  • Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet
  • Turki: Insya Allah Kita akan Saksikan Pembebasan Baitul Maqdis
  • MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola
  • Penjajah ‘Israel’ Lancarkan Serangan di Berbagai Wilayah Gaza, 10 Orang Syahid

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?