Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

Belajar Ketabahan dari Ummu Sulaim

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Januari 2012 10:23 10:23 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Januari 2012 10:23
Bagikan
Bagikan

SUATU hari, anak Abu Thalhah meninggal dunia. Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, berkata kepada orang-orang yang menjenguk anaknya, “Janganlah ada yang memberi kabar kepada Abu Thalhah hingga akulah sendiri yang memberi kabar duka ini.”

Berkata begitu, Ummu Sulaim segera merapikan jenazah putranya.

Malam harinya, Abu Thalhah pulang. Ia segera menanyakan keadaan anaknya.

“Ia tenang seperti sedia kala,” jawab Ummu Sulaim.

Istri taat ini bergegas menyuguhkan makan malam bagi suaminya. Tak lupa mematut diri di depan cermin agar tampak lebih indah dari biasanya.

Baca Juga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?
Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha

Melihat istrinya yang berhias cantik, Abu Thalhah pun bergairah. Malam itu pun Ummu Sulaim melayani suaminya di atas tempat tidur.

Setelah Ummu Sulaim melihat suaminya tampak puas dan tenang jiwanya, ia pun berkata lembut, “Wahai Abu Thalhah, bila ada keluarga yang meminjam sesuatu kepada keluarga yang lain, lalu mereka meminta kembali barang pinjaman itu, tetapi keluarga itu menolak mengembalikan pinjaman itu, bagaimana menurut pendapatmu?”

“Sungguh, sekali-kali mereka tidak berhak untuk menolaknya karena barang pinjaman harus dikembalikan kepada pemiliknya,” jawab Abu Thalhah dengan segera.

Mendengar jawaban itu, Ummu Sulaim tersenyum, kemudian berkata lagi, “Sesungguhnya anakmu adalah barang pinjaman dari Allah, dan Allah telah mengambilnya.”

Seketika Abu Thalhah mengucapkan kalimat istirja’, Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.

Esok harinya, Abu Thalhah menceritakan kejadian itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah membenarkan sikap Ummu Sulaim dan bersabda, “Semoga Allah memberkahi malam kamu berdua.”

Buah Surga

Anak adalah permata jiwa yang senantiasa dinanti dan dirindui kehadirannya. Ketiadaan anak menjadikan hidup terasa sepi, sedang kehadirannya menjadikan hidup terasa menjadi ramai dan ceria. Karena itulah, ketika anak-anak telah hadir, mereka selalu berusaha dirawat dengan sebaik-baik perawatan, diasuh dengan sebaik-baik asuhan, dan dijaga dengan sebaik-baik penjagaan.

Harapannya, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga senantiasa sehat jiwa dan raganya. Anak-anak yang sehat, anak-anak yang tumbuh dan berkembang dengan baik, akan selalu tampil lincah dan ceria. Hari-harinya selalu dihiasi dengan gerak-gerik lincah, canda tawa, dan senyum nan menggelitik yang membuat kedua orangtuanya selalu diliputi perasaan suka dan bahagia. Inilah anugerah terindah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa diidam-idamkan oleh setiap orangtua.

Akan tetapi, harapan seringkali tak sesuai dengan kenyataan. Tak sedikit para orangtua yang harus menghadapi ujian berupa kematian anaknya, di saat usia sang anak masih amat belia. Kesedihan pun menyelimuti hati. Tak jarang begitu dalam. Bahkan, tak sedikit orangtua yang stres dan frustrasi, dan pada gilirannya mengumpat-umpat Allah ketika menghadapi ujian berupa kematian sang buah hati.

Seorang Muslim yang memiliki keimanan mantap tidak akan bertindak seperti itu. Sebab, ia mempercayai dengan sepenuh keyakinan bahwa hakikat kepastian, baik dan buruknya, itu dari Allah. Oleh karena itu, sungguh akan tampak kecil segala peristiwa dan musibah yang menimpa dirinya. Ia akan berserah diri kepada Allah, sehingga jiwanya akan merasa tenang, hatinya akan tabah menghadapi cobaan, ridha akan kepastian, dan tunduk kepada suratan takdir Allah.

Seorang ulama berkata, “Hendaknya kedua orangtua bersabar dan menerima ketentuan takdir Allah, karena putusan Allah pada seorang mukmin dalam hal yang tidak menyenangkan mungkin lebih baik daripada dalam hal yang menyenangkan hati.”

Apalagi, bagi orang-orang yang bersabar menghadapi kematian anak, akan memperoleh “buah manis” yang akan dipetik di akhirat nanti. Di antara buah manis itu tak lain adalah surga.

Rasulullah bersabda, “Jika anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah berfirman kepada malaikat, ‘Kalian telah mengambil anak hamba-Ku?” Mereka (malaikat) berkata, ‘Ya’. Allah berfirman, ‘Kalian telah mengambil buah hati hamba-Ku?’ Mereka berkata, ‘Ya’. Allah berfirman, ‘Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Ia memuji-Mu dan ber-istirja’.’ Maka Allah berfirman, ‘Bangunkanlah bagi hamba-Ku rumah di surga dan berilah nama Baitul-Hamd’.” (Riwayat At-Tirmidzi)

Bersedih, Boleh

Apakah dengan demikian, bersabar menghadapi kematian anak berarti tidak boleh bersedih? Tidak boleh menangis?

Tentu saja tidak serta merta seperti itu. Islam mengajarkan bolehnya bersedih menghadapi kematian anak karena itu merupakan hal yang manusiawi.

Bersedih adalah luapan ekspresi yang lumrah ketika seseorang berpisah dengan sosok yang disayanginya (anak). Bersedih seperti ini justru menunjukkan ekspresi kecintaan dan kasih sayang. Yang tidak diperbolehkan adalah ketika kesedihan itu telah berlebih-lebihan dengan diiringi suara tangis ratapan.

Rasulullah sendiri diriwayatkan begitu bersedih ketika menghadapi kematian Ibrahim, anak kesayangannya. Rasulullah bahkan menangis sehingga matanya basah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, kesedihan dan tangis Rasulullah itu terlihat jelas oleh sebagian kaum Muslimin yang bertakziyah di rumah beliau.

Berkatalah salah satu hadirin, “Mengapa Tuan menangis? Bukankah Tuan pernah melarang kami menangisi orang mati?”

Mendengar perkataan itu, Nabi bersabda, “Aku tidak pernah melarang berdukacita (bersedih), tetapi yang pernah kularang itu hanya mengangkat suara dengan menangis. Apa-apa yang kamu lihat kepadaku adalah bekas apa yang terkandung di dalam hati dari rasa cinta dan sayang. Barangsiapa yang tidak menyatakan kasih sayang, orang lain tidak akan menyatakan kasih sayang terhadapnya.”

Jadi, sedih menghadapi kematian anak dalam batas-batas yang wajar diperbolehkan syariat. Yang dilarang adalah jika tangisan itu dilakukan dengan meratap. Apalagi bila disertai dengan menampar pipi dan merobek-robek pakaian, maka hal ini jelas-jelas dilarang syariat Islam sebagaimana sabda Rasulullah, “Bukan dari golonganku orang yang (ditinggal mati keluarganya) memukul-mukul pipi dan merobek-robek (kain) saku dan menjerit-jerit dengan suara jeritan kaum jahiliyah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Karenanya, ketika harus menghadapi takdir kematian anak, bersedihlah dalam batas-batas yang wajar. Terimalah takdir kematian itu dengan sabar dan ikhlas. Mudah-mudahan dengan begitu, kematian anak akan menjadi “buah manis” yang akan dipetik di akhirat nanti. Ya, anak tersebut akan menjadi jalan menuju surga bagi orangtuanya.

Di sinilah kisah Ummu Sulaim di atas menemukan konteksnya sebagai pelajaran berharga tentang ketabahan yang luar biasa seorang ibu menghadapi kematian anaknya. Itu semua tentu sebagai akibat dari spirit keimanan yang benar-benar merasuk ke dalam kalbunya. Wallahu a’lam bi ash-shawab.*/Badiatul Muchlisin Asti, sahid

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Alfaafa dan Kejayaan Bangsa-Bangsa di Dunia
Tulisan selanjutnya MUI Minta Pemda Pertahankan Perda Miras

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Jendela Keluarga

Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

3 Desember 2022 20:55
Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?