Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Jejak Soekarno di Maroko

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Februari 2015 05:33 5:33 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Februari 2015 16:50
Bagikan
Bagikan

Sambungan artikel KEDUA

Oleh: Tiar Anwar Bachtiar

ACARA berlanjut dengan sesi-sesi pemaparan makalah dari para pembicara dari berbagai belahan dunia. Mereka membicakan masalah-masalah pemuda Muslim di negaranya masing-masing, baik dari segi politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan sebagainya.

Pada hari kedua di sela-sela penyampaian materi, hadir Syeikh Dr. Ishom Basyir, Ketua Lembaga Fikih Islam Sudan, ulama yang juga sering tampil di berbagai saluran televisi berbahasa Arab. Ia bukan hanya sekadar terkenal karena sering terlihat di televisi, tetapi juga kemampuan orasi dengan bahasa Arab yang sangat baik (fashahah) diselingi syair-syair yang ia letakkan sangat tepat di tengah-tengah pidatonya menjadi daya tarik tersendiri bagi para hadirin. Tidak mengherankan apabila WAMY mengundangnya sebagai keynote speaker kedua, selain karena kepakarannya dengan tema Al-Syabâb wa Mutaghayyirât Al-‘Ashr (Pemuda dan Perubahan Zaman). Ia menekankan bahwa ada tiga hal yang dapat mengarahkan para pemuda ke jalan yang benar sekalipun dunia terus berubah, yaitu ilmu, pendidikan, dan pandangan yang terbuka terhadap realitas yang tengah dihadapi. Ilmu dan pendidikan yang dimaksud tentu saja adalah ilmu yang pokok pijakannya Islam dan pendidikan Islami. Keterikatan pada agama yang kuat melalui dua hal tersebut akan menyebabkan penyikapan yang benar terhadap realitas yang tengah dihadapi.

Pada hari yang sama, selain terus digelar seminar-seminar marathon, para utusan organisasi yang terdaftar sebagai anggota Majelis Umum WAMY menggelar pertemuan di tempat berbeda untuk memilih kepengurusan baru WAMY Internasional.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Dari Indonesia Pemuda Persis, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda PUI, HMI, KAMMI, dan JPRMI memiliki hak suara pada Majelis Umum. Dalam musyawarah tersebut Dr. Shalih bin Sulaiman Al-Wuhaibi terpilih kembali sebagai Sekjen WAMY untuk periode empat tahun ke depan.

Selain itu dipilih anggota Majelis Umana’ sebanyak 12 orang dari negara di luar Saudi dan 10 orang dari wilayah Saudi. Dari Asia Tenggara yang terpilih sebagai anggota Majelis Umana’ adalah Prof. Dr. Abang Abdullah Abang dari Malaysia menggantikan Ustad Makmur Hasanuddin dari Indonesia. Susunan pengurus baru ini diumumkan pada akhir pertemuan hari kedua. Pada hari ketiga acara terus dilanjutkan dengan pembahasan-pembahasan sisa dari 42 makalah yang diterima WAMY.

Acara diakhiri pada tanggal 31 Januari 2015 malam dengan pementasan seni berupa pembacaan puisi, nasyid, ramah-tamah di antara para peserta.

Indonesia dan Maroko

Selain membawa pengalaman bertemu kembali para aktivis Islam dan ulama dari berbagai belahan dunia, perjalanan ke Maghrib kali ini juga mengingatkan kita pada hubungan masa lalu negara ini dengan Indonesia.

Masih tertinggal jejak-jejak hubungan itu hingga saat ini. Di Indonesia, tercatat dalam sejarah bahwa salah seorang ulama yang tergabung dalam Wali Songo ada yang berasal dari Maghrib, yaitu Maulana Malik Ibrahim atau dikenal juga dengan nama Maulana Maghribi.

Jejak Indonesia juga bisa dibaca dalam buku catatan perjalanan Ibnu Bathuthah. Dua catatan sejarah ini menunjukkan bahwa sudah sejak lama wilayah-wilayah di negeri ini berhubungan baik dengan wilayah Maghribi, terutama saat wilayah ini dikuasai oleh Daulah Murabithun. Sayang sekali jejak yang ditemukan di masa lampau baru sebatas itu. Mungkin ada cerita-cerita lain yang tersimpan, namun hingga kini belum banyak yang menelusurinya.

Bahkan, hingga saat ini sudah ratusan mahasiswa Indonesia yang lulus dari Maroko, namun belum ada satupun yang mengambil konsentrasi sejarah, terutama sejarah hubungan Maroko-Indonesia. Padahal, bila dapat diungkap sejarahnya dengan baik, Indonesia dapat memanfaatkan posisi Maroko yang merupakan salahs atu pintu masuk menuju Eropa untuk berbagai kepentingan umat Islam dunia, terutama dalam menegakkan persatuan umat Islam.

Pada masa lebih modern, bubungan antara Indonesia dan Maroko kelihatannya lebih intensif dan lebih berarti. Bila kita menginjakkan kaki di Rabat, ibu kota Maroko, di tengah kota kita akan menemukan nama J Soekarno (Rou Soukarno). Bila ada tokoh dari negara lain namanya diabadikan sebagai nama jalan utama, tentu peran Soekarno dan Indonesia cukup istimewa. Bagi negara-negara di Afrika, nama Soekarno memang menjadi idola dan cukup disegani.

Tahun 1955, Soekarno berhasil mengadakan perhelatan akbar Konferensi Asia Afrika di Bandung yang menjadi cikal bakal lahirnya Gerakan Non Blok (GNB) yang juga diketuai Soekarno.

Gerakan ini merupakan gerakan besar dunia yang menandingi dua kekuatan dunia lain yang tengah bersaing dalam Perang Dingin, yaitu Blok Barat (Amerika) dan Blok Timur (Uni Soviet).

Keberanian Soekarno inilah yang menginspirasi para pemimpin di Afrika Utara untuk memerdekakan diri dari penjajahnya masing-masing. Tahun 1956, Maroko berhasil memerdekakan negaranya dari Prancis. Dukungan kuat dari GNB menyebabkan kemerdekaan Maroko menjadi sangat berarti. Di sinilah peran Soekarno menjadi penentu. Selain itu, melalui Soekarno, Indonesia yang telah medapat pengakuan di PBB tujuh tahun sebelumnya menjadi negara pertama yang memberikan pengakuan pada Kemerdekaan Maroko. Pengakuan ini tentu manjadi kekuatan politik lain yang semakin memuluskan proses lepasnya Maroko dari Prancis. Oleh sebab itu, nama Soekarno dipandang layak dikenang oleh rakyat Maroko.

Sejak saat itu, hubungan Indonesia-Maroko menjadi semakin intensif. Bukan hanya terbuka hubungan politik, melainkan juga hubungan sosial, budaya, dan ekonomi. Hubungan sosial dan budaya yang nyata hingga kini adalah pengiriman pelajar Indonesia ke Maroko. Pemerintah Maroko memberikan kesempatan kepada banyak anak-anak muda Indonesia untuk menuntut ilmu di negerinya para ulama ini. Pemerintah Maroko tidak membebankan biaya pendidikan sama sekali kepada semua yang datang belajar di sini.

Di Negeri penghasil arghan oil ini biaya pendidikan memang ditanggung sepenuhnya oleh kerajaan sejak TK hingga S3. Perhatian yang besar terhadap pendidikan ini pula yang menyebabkan negeri ini menjadi salah satu tempat yang kondusif untuk belajar. Hingga saat ini sudah ratusan mahasiswa Indonesia yang menyelesaikan kuliahnya sejak S1 hingga S3 di sini.

Hingga saat ini, melalui Kementerian Agama RI, kesempatan berkuliah di Maroko tetap dibuka setiap tahun. Ini adalah kesempatan yang sangat baik yang dapat dimanfaatkan para pelajar Indonesia untuk semakin mematangkan ilmu di negara yang ulamanya banyak mengembangkan teori-teori maqâshid al-syarî‘ah. Wallau A’lam.* (habis)

Penulis Ketua Umum PP Pemuda Persatuan Islam,Peserta Muktamar XII WAMY 28-31 Januari 2015 di Maroko

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:marokoSoekarno
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ini Alasan Din Syamsuddin Yogyakarta Jadi Tempat Kongres Umat Islam
Tulisan selanjutnya Khitan perempuan DPR Dukung Peningkatan Penerima Beasiswa ke Mesir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro

Berita
5 Juni 2026 18:57
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?