Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Saatnya Berjihad dengan Kata!

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Oktober 2012 14:32 2:32 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Oktober 2012 14:32
Bagikan
Bagikan

oleh: Syaiful Anshor

ANDA mungkin pernah dengar buku Altneland (The Old New Land) dan Der Judenstaat (The Jewish State)? Buku The Old New Land tidak lain adalah buku sastra biasa yang ditulis seorang Yahudi bernama Theodore Herzl.

Lalu, apa pentinganya dan apa kaitan buku tersebut dengan tulisan ini?” Penulis sengaja menjadikan nama buku ini sebagai lead artikel.

Ada dua hal pentiang. Pertama, untuk memancing rasa penasaran Anda. Kedua, untuk mengungkap fakta di balik efek buku tersebut.

Mohammad Fauzdhil Adhim, kolumnis rubrik khusus Majalah Suara Hidayatullah dalam bukunya, Inspiring Words for Writers, menulis sangat menarik. Ia mengatakan, gara-gara buku fiksi tersebut, jutaan orang Yahudi terinspirasi untuk mendirikan sebuah negara Israel. Dan, benar! Jutaan orang yahudi yang kala itu tersebar di berbagai belahan dunia beramai-ramai datang ke negara Islam yang terdapat kiblat pertama, Al Aqsha, Palestina. Awalnya, mereka datang sebagai pengungsi dan dikasihani. Namun, tampaknya mereka tidak berbalas budi. Sifat asli sebagai orang penindas lambat-laun ditampakkan.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Mimpi negara Israel pun terwujud. Mereka lalau berhasil mendirikan negara Israel—meski kita tidak mengakuinya karena ilegal—setelah menjajah Palestina. Tidak saja itu, mereka bahkan telah menguasai Masjidil Aqsha. Parahnya, mereka mengusir sang tuan rumah. Mencaplok tanah penduduk asli Palestina. Menyiksa dan membunuh mereka tanpa pandang bulu dan belas kasihan. Dan, ironisnya lagi, mereka memenjarakan umat Islam Palestina di sebuah sel yang dinamakan “Penjara raksasa.” Tak terhitung lagi pejuang yang syahid. Tak terhitung lagi bayi, bocah, anak, dan ibu-ibu yang meregang nyawa tanpa dosa. Sekali lagi, itulah efek “The Old New Land,” sebuah buku fiksi tipis.

Kita tinggalkan buku tersebut. Kini, mari sejenak berjalan-jalan ke perpustakaan dan toko buku Islam, yang ada di kota kita. Atau juga ke perpustakaan pribadi yang terdapat di setiap rumah umat Islam. Coba lihat buku-buku yang tersusun rapi di rak, terutama kolektor kitab tafsir al Quran. Mari, kita ambil saja satu. Sebut saja, Kitab Tafsir Ibnu Katsier. Al Hafidz ‘Imaduddin Abu Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir atau yang sering disebut Ibnu Katsir adalah penulis kitab masyhur ini. Kitab tafsir itu sangat bernas dan populer serta menjadi rujukan umat Islam di belahan bumi manapun. Coba terka berapa usianya sekarang. Tentu berbeda ratusan tahun dengan Anda.

Pertanyannya: kenapa beliau masih dikenal dan pemikirannya masih dikaji jutaan umat atau bahkan milyaran umat Islam hingga abad ini? Jawabanya satu dan pendek: karena Kitab Tafsir Ibnu Katsier yang beliau tulis! Andai tanpa warisan kitab tersebut, mustahil beliau akan “hidup” hingga sekarang dan karyanya bisa dinikmati. Bukankah tidak sedikit tokoh hebat yang memiliki pemikiran cemerlang, namun karena tidak meninggalkan warisan tulisan, lalu hilang seperti hembusan angin. Karena itu, benang merahnya: Jika Anda ingin hidup “kekal” dan dikenang orang hingga ratusan tahun atau bahkan ribuan tahu, buatlah warisan tulisan. Ya, mari kita tradisikan mewarisi tulisan untuk generasi di bawah kita. Karena itu, maka menulislah!

Buku jauh lebih “berharga” dari pada warisan harta yang bisa habis begitu saja, hilang tanpa bekas. Lalu, kenapa penulis itu bisa “kekal?”. Sebab, tulisan itu akan menjadi tabungan akhirat yang tak akan habisnya. Warisan tersebut, jika bermanfaat dan membuat pembacanya dekat kepada Allah dan termotivasi untuk beramal shaleh, maka akan menjadi amal jariyah yang tidak terputus. Pahalanya akan terus mengalir. Setiap larikan kata dalam kalimat yang membentuk paragraf hingga bait terakhir akan berubah menjadi amal jariyah yang tidak terputus. Dahsyat, bukan?

Dari kitab Ibnu Katsier, mari kita beralih ke buku fiksi yang ditulis sastrawan Muslim masa kini: Habiburrahman El Shirazi. Siapa tak kenal alumnus Universtitas Al Azhar, Kairo Mesir ini? Kalau Anda pergi ke toko buku, karya-karya beliau selalu menghias dan dipajang di rak-rak utama dan semuanya Best Seller. Sebut saja misalnya Ayat-Ayat Cinta, Cinta Suci Zahrana, Ketika Cinta Bertasbih, dan sebagainya. Beberapa novelnya bahkan telah naik layar lebar dan menyedot jutaan penonton. Tidak sedikit yang mengapresiasi dakwah bil qalam Kang Abik. Ia telah memberi sentuhan dakwah dalam dunia sastra.

Dari buku tersebut, kini kita beralih ke terorisme. Loh, apa kaitanya? Ada relasi yang sangat kuat antara pena dengan istilah terorisme. Terorisme hanyalah istilah. Tepatnya istilah yang dibuat oleh yang memiliki kepentingan. Tentu kita sedang tidak membahas substansi apa itu terorisme, karena hingga kini, yang penulis ketahui, definisi terorisme masih debateable dan tidak ada kesepakatan antara dunia Barat dan Timur. Sama-sama punya kepentingan.

Namun, yang disayangkan, term terorisme merugikan umat Islam. Terorisme diidentikkan dengan Islam. Jika terjadi pengeboman, penembakan, pembunuhan, perampokan atau aksi anarkisme lainnya baik di dalam maupun luarnegeri, jari pasti menunjuk umat Islam biang keladinya. Padahal itu belum tentu. Padahal itu oknum. Padahal itu belum diproses secara hukum kronologi penyebab sebenarnya. Dan, lebih berbahayanya lagi, simbol-simbol Islam dibawa. Mulai dari jenggot, cadar, celana cingkrang, herbal, bekam, dan yang berbau Islam lainnya.

Padahal, kalau mau dicerna baik-baik apa kaitannya simbol-simbol tersebut dengan terorisme? Anak kecil saja ketawa mendengarnya. Analisa yang mengada-ada. Irasional. Namun, karena hal itu diulang-ulang media, mindset masyarakat jadi terbentuk dan memercayainya. Itulah efek dramatis sebuah media. Seorang Yahudi pernah berkata: “Kebohongan yang diulang-ulang itu akan menjadi nyata.”

Karena itu, bukan tidak sengaja hal itu dilakukan. Ada propaganda besar di baliknya. Paling tidak, ada usaha untuk menstigmatisasi Islam. Islam diidentikkan dengan ekstrimisme, anarkisme, dan terorisme. Paham-paham yang tidak sejalan dengan ruh Islam. Dan hal itu bertujuan untuk menciptakan Islamophobia: takut kepada Islam. Benar saja. Kini, masyarakat awam banyak yang termakan dengan propaganda Islamophobia tersebut. Banyak orang awam yang alergi bahkan anti dengan Islam.

Kembali ke tema tulisan. Islamophobia itu tidak lain karena tulisan, karena media! Melawan tulisan harus dengan tulisan. Kita tidak bisa berteriak-teriak sendiri dan memaki-maki mereka. Harus cerdas. Karena itu, harus lahir pejuang-pejuang pena yang bisa menggerakkan dan merubah pola pikir. Memutar balik fakta yang telah diplesetkan. Ada kalimat menarik ketika penulis mengikuti daurah jurnalistik Majalah Suara Hidayatullah beberapa tahun lalu. Salah seorang pemateri dan juga redaktur senior di media Islam terbesar itu berkata, “Mereka boleh punya seribu bom nuklir. Tapi, kita punya sejuta kata-kata. Kita bom mereka dengan kata-kata.”

Kita pernah mendengar sejarah ketika Rasulullah dan para sahabat berperang melawan kafir Quraisy. Dengan jumlah yang tidak berimbang namun selalu meraih kemenangan. Jawabanya satu: pertolongan Allah. Ketika mereka menarik dan membusurkan panah, melembar tombak, dan menyabet pedang sesungguhnya Allah yang menggerakkan. Tangan-tangan mereka hanya sebatas wasilah. Kini, umat Islam di dunia belum sepenuhnya bersatu melawan yahudi untuk merebut kembali al Quds dan Palestina.

Bukan tidak mungkin dengan secarik kertas, dengan beberapa paragraf berita, dan dengan beberapa lembar buku kita bisa menggerakkan hati umat Islam untuk bangkit dan menciutkan nyali orang-orang Yahudi. Sebagaimana buku fiksi tipis The Old New Land tersebut. Yakinlah, bukan ada kekuatan yang Allah hembuskan dalam setiap larik kata. Pegang dan goreskan tinta sekarang. Hidupkan komputer dan tekan tombol key board Anda. Saatnya menulis. Saatnya mewariskan ilmu. Saatnya membuat sejarah!

Penulis adalah Guru Madrasah di Jogjakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya “Kami menolak pemberontakan terhadap pemimpin yang masih Muslim”
Tulisan selanjutnya Taliban Olok-Olok Perang Amerika di Afghanistan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?