Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Kamera “Kebencian” Non-Muslim Inggris

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Oktober 2009 12:57
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Amil Khan berpura-pura berprofesi sebagai tukang cat dan dekorator paruh waktu, sementara Tamanna Rahman yang berkerudung, berpura-pura sebagai seorang wanita yang hanya bisa berbahasa Inggris sepatah dua patah kata saja.

Dua orang ini melakukan investigasi langsung untuk mengetahui sifat rasialis orang Inggris, hanya beberapa bulan setelah Trevor Philips, Kepala Equality and Human Rights Commission mengatakan dalam sebuah wawancara, memiliki tetangga yang berbeda suku bangsanya tidak lagi menjadi masalah bagi masyarakat Inggris modern, jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

Trevor Philips mengatakan, pernyataannya itu didasarkan pada hasil 2 jejak pendapat Mori, yang katanya menunjukkan mayoritas orang Inggris semakin bisa menerima keragaman atau perbedaan rasial.

Tapi kenyataan membuktikan, jauh panggang dari api.

Amil Khan dan Tamanna Rahman yang berwajah dan berkulit layaknya orang Asia dan tidak menunjukkan jika mereka fasih berbahasa Inggris, mendapatkan lebih dari 50 kali serangan bersifat rasial selama menetap di lingkungan perumahan Southmead. Tidak hanya berupa kata-kata hinaan, mereka bahkan mendapat serangan fisik.

Baca Juga

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi
Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam
Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’
Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

Dua reporter BBC yang merupakan orang keturunan Asia Selatan, sengaja melakukan penyamaran untuk mengetahui tanggapan orang Inggris terhadap Muslim. Berpura-pura sebagai pasangan suami-istri Muslim, mereka tinggal selama delapan pekan di lingkungan perumahan Southmead di kota Bristol.

Sebelum film itu dibuat, Support Against Racist Incidents (SARI), kelompok yang memperhatikan serangan-serangan rasial di Inggris, menunjukkan kepada BBC bahwa Southmead adalah lingkungan di mana kekerasan rasial sering terjadi, di samping banyak tempat lain tentunya.

Lingkungan perumahan Southmead adalah lingkungan kelas pekerja kulit putih. Namun, beberapa tahun belakangan semakin banyak orang kulit hitam dan etnis minoritas pindah ke sana.

Sejak awal memasuki jalan di lingkungan itu, Amil dan Tamanna mendapatkan tatapan tak bersahabat.

“Kami mendapatkan tatapan yang paling dingin yang pernah saya alami,” kata Tamanna.

Ternyata hal itu menjadi tanda atas apa yang akan segera dialaminya dalam dua bulan ke depan.

“Sering kali tiap keluar rumah saya mendapati dahi berkerut di wajah-wajah orang yang saya jumpai, dan umumnya sengaja dibuat untuk menunjukkan saya tidak diterima –baik ketika mereka berada di jalan, di kebun, sedang melihat dari jendela kamar, atau ketika mereka berada di dalam mobil.”

“Kami orang baru di sana, dan tidak ada orang yang datang untuk sekedar menyapa. Butuh waktu satu minggu berada di sana ketika akhirnya ada sebuah senyuman dari seorang wanita paruh baya yang saya jumpai di jalan,” cerita Tamanna.

Hari kedua, Tamanna mendapatkan sebuah lemparan batu ketika pulang dari berbelanja. Orang-orang bergumam membisikkan kata-kata kotor kepadanya ketika ia melintas. Selain itu ia juga dipanggil dengan sebutan “Paki.” Paki adalah sebutan bernada menghina yang ditujukan kepada orang-orang Pakistan.

Selama dua bulan tinggal di Southmead, Tamanna mendapatkan lemparan gelas, kaleng, botol, dan batu.

“Saya hampir dirampok 3 kali dan diancam dengan batu bata,”

Seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun bahkan pernah akan merampas dompetnya dan mengancam akan membunuh Tamanna.

Seorang remaja laki-laki berkata kepadanya, “Saya akan meledakkanmu dalam satu menit.”

“Saya dihina dua kali, disebut ‘Paki bau’ dan disuruh mandi. Pelecehan yang saya terima, termasuk sumpah serapah paling buruk yang bisa dibayangkan, baik itu dari anak-anak, remaja maupun orang dewasa,” kata Tamanna.

Tidak jauh berbeda dengan Tamanna, Amil Khan mengalami hal serupa. Ia bahkan ditinju oleh seorang laki-laki kulit putih.

Ketika akan berjalan di trotoar, seorang lelaki kulit putih –sambil disaksikan temannya yang tertawa nyengir di pinggir pagar– meneriakinya, “Bye-bye Paki.”

Laki-laki itu kemudian berjalan keluar pagar dan mendekatinya seraya berkata, “Saya akan menghajar kepalamu.” Seketika itu pula sebuah hantaman mendarat di kepala Amil Khan.

Pada satu malam di hari Jumat, Amil berjalan melewati sebuah lapangan, remaja-remaja kulit putih yang sedang berkumpul di sana mengganggunya.

Seorang remaja berjalan mendekatinya, sementara temannya yang lain berteriak, “Ia seorang Yahudi.”

Seorang pemuda berkata dengan nada mengancam, “Jam sembilan.”

“Ambil teleponnya, ambil teleponnya,” begitu kata mereka sambil mengikuti Amil dari belakang.

Sebuah lemparan kaleng pun terlihat melayang ke arah kepalanya.

Amil berjalan melintasi sekelompok pemuda, mereka pun segera bersahutan meneriakinya, “Oi kamu Taliban! Ooh kamu Taliban!”

Seorang pemuda pura-pura bertanya, “Siapa namamu?” Lantas dijawab oleh seorang temanya yang lain, “Jihad.”

Saat Amil sudah berada jauh dari mereka, masih terdengar teriakan, “Paki… Paki.”

Amil bercerita, satu saat ketika ia sedang berjalan kaki, ada yang berkata dengan nada mengejek, “Tolong jangan ledakkan kami.”

Tetap rasialis

Tahun 2000, ketika Tamanna masih berusia 16 tahun, di lingkungan sekolahnya yang multiras dan multikultur di Manchester, ia pernah ditanya oleh reporter berita dari sebuah televisi lokal. Memasuki millenium baru, apakah menurutnya rasisme di Inggris hanyalah merupakan bagian dari sejarah masa lalu?

Ketika itu dengan wajah yang cerah, naif dan optimis, ia menjawab, “Ya, rasisme telah mati.”

Hari berganti, bulan berganti, dan tahun pun berganti, tapi apa yang berubah di Inggris mengenai rasisme? Jawabnya sekarang, tidak ada.

Sebelum Tamanna melakukan investigasi langsung, ia telah banyak mendengar cerita dari orang-orang yang mengalami kekerasan rasial, termasuk dari teman-temannya sendiri.

Pengalaman pahit selama delapan pekan di Southmead rupanya begitu membekas pada diri Tamanna. “Saya sudah kembali ke Manchester sekarang, tapi saya masih berusaha menguatkan diri tiap kali saya berjumpa dengan sekelompok anak-anak yang bersepeda atau remaja yang berkumpul di pojok jalan. Meskipun anak-anak Manchester belum pernah punya masalah dengan saya, tapi sekarang (perasaan itu) seperti menjadi naluriah.”
Dengan menggunakan kamera tersembunyi, Amil Khan dan Tamanna Rahman merekam semua perlakuan yang mereka terima dari orang-orang Inggris sejak pertama kali memasuki lingkungan Southmead. Pengalaman mereka itu ditayangkan di BBC pada Senin (19/10) dalam program Panorama, dengan judul “Hate on The Doorstep”. [di/bbc/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Unta Mati, Aramco Dituntut 1 Juta Riyal
Tulisan selanjutnya Tahun 2010 Negara Teluk Punya Mata Uang Tunggal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Buka Bersama di Dam Square: Tikar Persaudaraan di Jantung Amsterdam

15 Maret 2026 16:19
Feature

South Lakes Islamic Centre Sambut Ramadhan dengan Buka Pintu bagi Jamaah dan Warga Non-Muslim

27 Februari 2026 07:00
Cermin

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta

3 Januari 2026 19:57
Feature

Mas Jazir: Dari Romo Mangun Sampai Masjidil Aqsha (bagian kedua)

26 Desember 2025 17:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?