Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Paus Diminta Minta Maaf pada Korban Pelecehan Seks di Argentina

Ama Farah
Terakhir diupdate: 20 Maret 2013 12:51 12:51 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 20 Maret 2013 12:51
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Sekelompok aktivis Katolik Roma mengatakan, Paus Francis saat sebagai Kepala Gereja Argentina memiliki rekor lambat dalam bertindak melawan pelecehan seksual oleh pastor. Mereka mendesak Paus meminta maaf atas perlindungan gereja terhadap dua pastor, yang kemudian dapat dihukum karena menyerang anak-anak secara seksual.

Seorang pengacara untuk beberapa korban, mengatakan, ketika Paus masih menjadi Uskup Agung Buenos Aires, dia tidak mau bertemu atau membantu para korban, dan para pejabat gereja tingkat menengah yang menutupi-nutupi masalah pelecehan itu, sampai sekarang masih bertugas seperti biasa.

Kantor Uskup Agung Buenos Aires juga tidak segera menangani persoalan itu, pun sampai hari Selasa (19/03/2013) Francis dikukuhkan sebagai Paus dalam upacara di Vatikan yang dilihat di seluruh dunia.

Kelompok Akuntabilitas Uskup yang berbasis di Amerika Serikat, seperti diberitakan CBC News, Selasa (19/03/2013), menyebutkan, ada dua pastor melakukan pelecehan; Pastor Julio Cesar Grassi, yang memiliki Yayasan Happy Children dan dihukum pedofilia pada tahun 2008, dan Pastor Napoleon Sasso, dihukum pada tahun 2007 karena melakukan pelecehan terhadap sejumlah gadis di dapur umum pinggiran kota Buenos Aires. Ia dimutasi ke tempat itu, setelah melakukan pedofilia di tempat lain.

Grassi sedang meminta banding atas kasusnya, yang mengajukan di antaranya justru Gereja Katolik Roma Argentina yang dipimpin Francis saat menjabat Uskup Agung Buenos Aires. Atas kasus Sasso, Francis ketika itu sebagai pengawas Konferensi Uskup Argentina saat Sasso ditugaskan ke dapur umum di satu kapel, kata Ernesto Moreau, pengacara bagi para korban.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Akuntabilitas Uskup yang juga seorang sutradara, Anne Doyle, mengatakan, Francis berada di belakang layar untuk menangkis segala upaya oleh pihak global dalam menangani pelecehan seks oleh para pastor gereja, yang meletus pada tahun 2002 setelah ribuan kasus menjadi muncul publik di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.

“Jika saja ia (Paus Francis) melakukannya di tahun 60-an atau 70-an, mungkin kami hanya cukup mengelus dada,” kata Doyle pada The Associated Press. “Tapi faktanya dia melakukan hanya pada lima tahun yang lalu, ketika para uskup di negara-negara lain mau bertemu korban dan menerapkan hukum, justru ia menyingkirkan ke belakang kasus-kasus rekannya sesama orang Amerika, itu sudah pasti.”

Kelompok itu mengatakan, sebagai bentuk tanpa toleransi untuk pelecehan seksual di gereja, Paus yang baru harus memberitahu Keuskupan Agung Buenos Aires untuk membuka file lengkap di Grassi dan kasus Sasso, juga membuka ke publik para pastor lain yang diduga melakukan pelecehan seks dan mendukung pelaporan oleh para pejabat gereja dalam penegakan hukum bagi mereka yang dicurigai.

Francis harus mengakui bahwa dia bertindak salah dalam membela pastor yang melanggar, meminta maaf kepada para korban Grassi dan Sasso, dan menawarkan untuk bertemu dengan mereka, kata kelompok itu.

Grassi dikenal di Buenos Aires dalam menggugah para selebriti untuk menyumbang ke yayasannya, Happy Children, yang menaungi anak yatim piatu dan program sosial lainnya. Sebelum ia dihukum karena pelecehan anak, Grassi memuji Francis yang “tidak pernah meninggalkan dia.”

Sasso ditugaskan ke dapur umum di satu kapel, yang kamar tidurnya bersebelahan dengan satu-satunya kamar mandi. Sebelumnya, ia tinggal di asrama para pastor, yang kemudian mendapat tuduhan pedofilia yang dilakukan di provinsi terpencil di San Juan terpencil.

“Kamar mandi itu memiliki dua pintu. Gadis-gadis akan masuk melalui pintu luar, dan pastor akan membawa mereka ke kamarnya melalui pintu lain. Terjadilah pelecehan seksual terhadap anak-anak,” kata Moreau. “Anak-anak itu benar-benar orang-orang miskin, yang berada di sana untuk mendapatkan makan gratis saat orang tua mereka bekerja. Di komputer sang pastor terdapat sejumlah besar pornografi anak…”

Sasso telah melakukan pelecehan terhadap 25 anak perempuan berusia tiga sampai 16 tahun. Tetapi ketika mereka memberitahu pejabat gereja, mereka diberitahu untuk “tetap sabar,” dan tidak ada penanganan lebih lanjut, kata Moreau.

Akhirnya, mereka mencari otoritas yang lebih tinggi dan kasus itu diambil oleh pengadilan pidana. Tetapi pejabat gereja tingkat menengah tetap menutupi kasusnya, sedangkan imam dan biarawati dipaksa bekerja di tempat lain, kata Moreau.

Sasso kemudian menjadi buronan dan bersembunyi selama satu tahun di gereja di keuskupan yang sama tempat pelecehan terjadi, ucap Moreau.

Sasso sekarang mendapatkan satu hari cuti bulanan dari penjara setelah menjalani setengah dari hukuman 17 tahun untuk pelecehan terhadap lima perempuan.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bila Syahwat Dunia Merasuki Juru Dakwah
Tulisan selanjutnya MUI: Ironis, Makanan Tidak Bersertifikat Halal Malah Disukai

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?