Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Ekonomi Syariah Bukan Sekadar Sektor Perbankan

Ahmad
Terakhir diupdate:
Ahmad
Dipublikasikan 22 Desember 2010 20:10
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Banyak orang berbicara ekonomi syariah hanya pada sektor perbankan, asuransi, dan pasar modal saja. Padahal, ekonomi syariah bermakna luas. Hal itu dikatakan pemilik Gerai Dinar, Muhaimin Iqbal saat menjadi pembicara dalam seminar “Peta Jalan Ekonomi Islam: Sinergi Keuangan Syariah dan Bisnis” di Unair, Surabaya, Rabu (22/12).
 
Cakupan ekonomi syariah, jelas Muhaimin, adalah seluruh aspek kehidupan. Karena itu, tidak bisa didikotomikan atau diambil sebagian saja. Universalisme ekonomi syariah harus menjadi perhatian serius. Pasalnya, jika tidak, banyak aspek lain yang diabaikan.
 
Muhaimin sendiri kaget ketika melihat gurita kapitalisme yang telah merajalela di negeri ini. Hampir seluruh sektor, dari industri retail, telekomunikasi, media, teknologi, energi, produk pangan, dan produk pertanian, dikuasai oleh kapitalisme.
 
Sebagai contoh, saat ia pulang ke kampungnya, Muhaimin melihat Alfamart dan Indomart telah berdiri besar di depan rumahnya. Toko pak haji dan toko-toko penduduk lainnya yang dulu jaya, kini terkulai lemas.
“Hilang kemana toko-toko tersebut kalau bukan digilas kapitalisme,” ujarnya.
 
Karena itu, ujar Muhaimin, jika berbicara tentang ekonomi syariah, maka juga harus berbicara tentang rakyat kecil, tentang pasar, tentang petani, dan lain sebagainya. Atau dalam kaidah fikihnya, “la dharara wa la dhirara” atau “tidak membahayakan diri sendiri dan tidak pula membahayakan orang lain”.  
 
Sedangkan, selama ini yang terjadi justru sebaliknya. Tidak mengapa orang lain bahaya, asal dirinya sendiri selamat. Itu adalah prinsip kapitalis, sama dengan survival of the fittest – yang dikembangkan dari teori Darwin. Karena itu, ujar Muhaimin, jangan heran jika Alfamart dan Indomart ada di mana-mana.
 
Empat prinsip
 
Ekonomi syariah sendiri, ujar Muhaimin, memiliki empat prinsip. Yaitu akses pada kapital, sumber daya manusia (SDM), pasar, dan akses terhadap nilai. Dari keempat prinsip itu, di Indonesia masih menggunakan konsep kapitalistik. Karena itu, realitas ekonomi masyarakat Indonesia amburadul dan miskin.
 
Muhaimin mencontohkan tentang pasar. Untuk pasar, di Indonesia hanya bisa diakses oleh orang yang punya uang. Orang yang ingin usaha, tapi tidak punya banyak modal siap-siap untuk gagal. Seperti pasar di Jakarta, buka usaha di pasar banyak tagihannya, belum pajak, pungutan liar, dikemplang preman, dan lainnya.

Sedangkan, dalam Islam, akses pasar tidak boleh dipersulit, tidak boleh dibebani, tidak boleh dizalimi, dan sebagainya. Padahal, terangnya, jika pasar bisa digunakan sebagai kail oleh berbagai kalangan, maka dengan sendirinya perekonomian akan meningkat. [ans/hidayatullah.com]

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Secara Umum Penyelenggaraan Haji Berjalan Baik
Tulisan selanjutnya 90 Persen Muslim Tuna Netra Buta Alquran Braile

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI Bersama 87 Organisasi Islam Sudah Siap Gelar KUII ke-VIII, Bahas Berbagai Isu Nasional dan Global

Berita
22 Juli 2026 10:20
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • ‘Israel’ Larang Masuk Siapa Pun yang Menyebutnya Negara Apartheid
  • MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina
  • MUI Bersama 87 Organisasi Islam Sudah Siap Gelar KUII ke-VIII, Bahas Berbagai Isu Nasional dan Global
  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
  • Spanyol Lumpuhkan Argentina di Piala Dunia 2026, Warga Gaza Bergembira
  • ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
  • Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade
  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?