Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Salam dari Salim

Rumah Sejati Kita

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Juli 2013 08:40 8:40 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Juli 2013 08:40
Bagikan
Kunci mencari rizki: Berdoa lalu berikhtiar
Bagikan

وَالأَصْلُ فِي الْمَبْنِيِّ أَنْ يُسَكَّنا

Asal dalam kemabnian ialah dihukumi sukun.

Ibn Malik Al Andalusy, Alfiyah: Bait XXI

KETIKA Jamaluddin ibn ‘Abdillah ibn Malik Ath Thay menyusun seribu bait syair menyejarahnya, tujuan beliau adalah untuk menghimpun semua Kaidah Nahwu (Tata-Susun) dan Sharaf (Tata-Bentuk) Bahasa Arab; menjelaskan berbagai kerumitan dengan bahasa yang ringkas, padat, dan indah; serta membuat pelajaran Lughah ini menjadi asyik dan menarik.

Tetapi sebagaimana “Adab” yang dapat berarti “Sastra” menjadi kata dasar bagi “Peradaban”, maka Alfiyah Ibnu Malik yang penuh berkah hingga disyarah lebih dari 40 ‘Ulama itu tak hanya sekedar menjadi kaidah berbahasa, melainkan juga kaidah berperadaban.

Di antara hal itu, kita kutip secuplik dari Bab Mu’rab dan Mabni di awal tulisan ini. Kutipan “Wal ashlu fil mabniyyi an yusakkana” bermakna bahwa bentuk asli dari Mabni adalah tersukun pada akhir kalimah, sebab ia merupakan syakal yang paling ringan. Oleh karena itu ia bisa masuk pada Kalimah Isim, Fi’il, maupun Harf.

Bukan di sini agaknya tempat berkerut-dahi dengan kaidah berbahasa. Izinkan kami meloncat ke pemaknaannya bagi hidup keseharian kita, bahwa dengan sedikit mengubah harakatnya kita akan membaca kaidah ini teterjemahkan sebagai, “Asal dalam bangunan adalah agar ia ditempati.”

Maka sungguh benar; ketika manusia hari ini membangun rumah, istana, dan gedung bukan untuk ditempati melainkan sebagai investasi, ia menjadi bencana tak cuma di akhirat, tapi telah tercicip kerusakan sejak di dunia. Tak ada ahli ekonomi yang menyangkal bahwa krisis ekonomi 1997 terpicu dari soal properti di Korea dan Thailand, lalu ada subprime morgage di Amerika, hingga Burj Dubai dan kredit hipotek di Eropa. Semua terjadi karena manusia tak lagi menghayati “Asal dalam bangunan adalah agar ia ditempati.”

Baca Juga

Sang Pangeran, Wine, dan Perempuan
Ibu dan Buku
Salafi
Bersama di Jalan-Nya
Gubernur

Para pendahulu kita yang shalih bukan hanya mentaati kaidah ini. Bahkan terhadap rumah yang benar-benar ditempati , tak lepas hati mereka dari was-was bahwa kediaman perehatan di dunia yang sementara itu akan melalaikan dari kampung akhirat yang abadi. Di hati mereka terus berdengung ayatNya, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.”

“Aku tak suka memperindah rumahku kecuali sekadar memuliakan tamu”, ujar ‘Abdullah ibn ‘Umar suatu kali, “Sebab ia membuatku mencintai dunia, melalaikan akhirat, memberatkan langkah ke Masjid, dan memalaskan jiwa dari jihad fi sabiliLlah.”

Imam Ath Thabrani mengetengahkan riwayat dari Abu Juhaifah, bahwa RasuluLlah ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Dunia akan dibukakan kepada kalian, hingga kalian menghiasi rumah sebagaimana Ka’bah dihias. Kalian pada hari ini lebih baik dibandingkan pada hari itu.” Syaikh Al Albani mengesahkan hadits ini dalam Shahih Al Jami’, no 3614.

Betapa jauh kita hari ini dari petunjuk RasuliLlah dan teladan orang-orang yang diridhaiNya. Betapa bangga kita tentang seluas apa, sejumlah lantai, seharga berapa, senyaman apa, dan bagaimana mempercantiknya. Tanpa sadar bahwa rumah abadi kelak kita di akhirat belumlah dipasang batu pertamanya.

“Kesimpulan dari para ahli ilmu tentang menghias dan memperindah rumah adalah”, tulis Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid dalam Akhthar Tuhaddidul Buyut, “Bahwa ia bisa makruh atau haram. Sebab di dalamnya, terdapat penyia-nyiaan harta dan kebergayutan hati terhadap dunia.”

Hari ini kita mengenang seorang wanita mukminah yang ditunjuk Allah menjadi teladan sepanjang zaman. Dia yang memilih Allah sebagai tetangganya, sebelum meminta padaNya rumah sejati. Dia yang memilih sebuah majlis kecil untuk bermesra dengan Sesembahannya, ketika suaminya memimpin dunia dengan keangkuhan dan kelaliman dari kemegahan mahligai istana dan singgasana. Hari ini kita merenungkan doanya yang bersahaja.

رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ

“Duhai Rabbi, bangunkan untukku di sisiMu, sebuah rumah di surga itu.” (Qs. At Tahriim [66]: 11)

Lebih dari Asiyah, hari ini kita amat berhajat memohon rumah sejati, rumah abadi.  Rumah yang sejak kini telah menjadi peraduan hati, memulihkan taat setiap kali kita tertatih. Agar ia menjadi tempat berteduh jiwa kita dari terik dan derasnya dunia. Agar kita yakin selalu bahwa hidup ini hanya persinggahan sejenak dan seberangan selintas. Agar di sana tersimpan segala puji-puji yang orang beri, sedang kita tak layak menerima. Agar ruh kita tentram dalam perjuangan ini, walau lelah-luka dan lara-duka menyobek raga.

Hari ini kita amat berhajat memohon rumah sejati, rumah abadi, di sisi Rabb Yang Maha Tinggi. Dan meminta pertolonganNya untuk mengetuk pintu rumah itu sejak kini, dengan bakti tak henti-henti.*

Sepenuh cinta, {tulisan ini dimuat dalam Majalah Hidayatullah-Juni 2013}

salim a. fillah @salimafillah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bangunandi sisi Allahrumah abadisurga
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Berdakwah di Atas Bis Kota
Tulisan selanjutnya Zionis Tak Akui Warga Palestina di Al-Quds Sebagai Penduduk

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina

Berita
20 Juli 2026 17:00
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Salam dari Salim

Ayah dan Ibu Kekasihku

5 Agustus 2016 08:20
Salam dari Salim

Menari di Atas Batas

3 Juli 2016 11:11
Salam dari Salim

Pelik Ceri dan KEBUN yang Serba Mengerti

26 Mei 2016 08:20
Salam dari Salim

Kemana Ilmu Membawa Kita?

19 Mei 2016 08:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?