Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Salam dari Salim

Salafi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Februari 2018 13:04 1:04 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Februari 2018 13:04
Bagikan
Bagikan

oleh: Salim A Fillah

 

KARENA kata “salaf“, “salafi“, dan “salafiyah” adalah sebuah kehormatan bagi setiap yang berada di atas jalan yang ditempuh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, ada syair yang sering dikutip tentang pendakuan dan kenyataan.

كُلٌّ يَدَّعِي وَصْلاً بِلَيْلَى

وَلَيْلَى لاَ تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَ

Baca Juga

Sang Pangeran, Wine, dan Perempuan
Ibu dan Buku
Bersama di Jalan-Nya
Gubernur
Ayah dan Ibu Kekasihku

“Semua orang mengaku sebagai kekasih Laila..

Sedang Laila tak merasa kenal satupun dari mereka..”

Siapakah salafi?

Saya dididik di Pondok Pesantren salaf, dalam makna asrama pendidikan yang tak memiliki lembaga resmi berjenjang-jenjang, yang alumninya takkan mendapat ijazah atau lembar kertas apapun yang menunjukkan dia pernah belajar apa, kapan, dan di mana. Kami mengaji sorogan dan bandungan, bermadrasah dan berkhithabah, membaca Maulidusy Syarifil Anam serta mengamalkan Ta’limul Muta’allim; semua mengalir sebagaimana kami memasak dan makan, lalu tidur di lantai berbantal persediaan beras yang membuat tak nyenyak ketika menipis di akhir bulan.

Baca: Saat Salaf Menuntut Ilmu Syar’i (1)

Ini pondok yang kami para santrinya bangga menempelkan stiker di kamar bertuliskan semboyan salaf ala kami itu. Bunyinya, “Lastu kahaiatikum.. Aku tidak seperti pertingkah kalian.”

Maka alangkah kagetnya saya ketika di tahap umur berikutnya berjumpa sesama muslim yang menisbat diri sebagai “salafi“, dan di matanya segala yang kami lakukan dulu keliru adanya. Ah, barangkali saya perlu duduk bersama mereka lebih lama, mengkaji bagaimana mereka mengaji, dan menemukan sesuatu yang berguna.

Dan sekian lama bersama, kesimpulannya adalah kami bersaudara. Dan siapa bilang saudara harus sama tanpa beda?

Saya pula berjumpa, dengan harakah yang bergerak dalam manhaj yang digariskan seorang besar bernama Hasan Al Banna, menjunjung syiar mereka sebagai Da’wah Salafiyah dan Thariqah Sunniyah.

Dan sekian lama bersama, kesimpulannya memang kami keluarga. Dan siapa bilang sekeluarga harus seragam tanpa ciri khas?

Saya menemukan kesalafian di dalam laku-laku hidup para mahaguru di berbagai penjuru. Kyai Zainal Abidin Munawwir Krapyak adalah sesalafi-salafinya salafi karena pada taraf paling hati-hatinya tak mau melewati gereja, tak suka memandang tiang listrik yang mirip salib, meminta agar pohon cemara yang identik sebagai simbol natal ditebang, tak sepeserpun mau menerima sumbangan pejabat, dan ketegasannya soal syubhat digambarkan Kakanda Iparnya, KH Ali Maksum sebagai “Cagaknya Langit.”

Baca: Teladan Salafus Shalih Dalam Muhasabah

Daftar yang seperti beliau di Nahdlatul Ulama, dengan berbagai varian tampilan lahiriah namun dalam etos yang sama, mungkin takkan habis saya tulis hingga umur saya berakhir. Etos salafi.

Saya juga melihat sesalafi salafinya salafi itu adalah KH AR Fakhruddin; yang lebih dari 2 dasawarsa memimpin Muhammadiyyah tapi tak pernah punya rumah, yang menafkahi keluarganya dari berjualan bensin, yang sepeda motor bututnya legendaris, yabg berulangkali menolak menjadi Menteri, yang menerima uang bermilyar-milyar tapi semua untuk persyarikatan dan digelari “Talang Ora Teles“, alias saluran air yang tak pernah basah.

Daftar yang seperti beliau di Muhammadiyyah, dengan berbagai varian tampilan lahiriah namun dalam etos yang sama, mungkin takkan habis saya tulis hingga umur saya berakhir. Etos salafi.

Saya juga melihat KH Rahmat Abdullah sebagai sesalafi-salafinya salafi dalam budaya belajarnya, ketekunan pengkajiannya, keteguhannya membina anak muda, penjagaan ashalah dakwahnya, kekuatan ruhiyah, dan kezuhudannya pada dunia.

Etos salafi sejati yang dihidupkan dalam akhlaq imani, bukan klaim disertai kerasnya hati, yang akan mempesona bagi semua nurani, menyatukan ummat dalam barisan hakiki.*

Twitter/IG @salimafillah

Foto: Tempo hari bersama Allaahu yahfazhuh KH. Ahmad Fauzi Mohammad Tijani, Pengasuh Pesantren Al Amien, Prenduan, Sumenep. Pesantren dengan 7000-an santri yang disebut ‘modern’, tapi terpancar etos salafi dari para Masyaikh hingga santri-santrinya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Dakwah SalafiyahPesantren salafsalafSalafisalafiyahsalafush sholihTa'limul Muta'allimThariqah Sunniyah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kepala Pengadilan Antikorupsi Nigeria Terima Suap
Tulisan selanjutnya Aktivis Dakwah itu Aktivis HAM

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pemerintah, DPR, dan MUI Sambut Positif Wacana RUU Pidana LGBT

Berita
3 Juli 2026 20:45
Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026

Terbaru

  • Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
  • Sindikat Pakistan Selundupkan Plasenta Manusia untuk Injeksi Anti Penuaan
  • Otoritas Eropa Masih Imbau Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran dan Timur Tengah
  • Dihantam Rudal di Selat Hormuz Kapal Kontainer CMA CGM akan Jadi Besi Rongsokan
  • Dua Pria Rumania Dibui karena Menikam Jurnalis Iran di London atas Suruhan Teheran
  • Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas
  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan
  • OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
  • DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji

Mungkin Anda Juga Suka

Salam dari Salim

Menari di Atas Batas

3 Juli 2016 11:11
Salam dari Salim

Pelik Ceri dan KEBUN yang Serba Mengerti

26 Mei 2016 08:20
Salam dari Salim

Kemana Ilmu Membawa Kita?

19 Mei 2016 08:20
Salam dari Salim

Obsesi 7 Abad dan Keterjajahan Kita

26 April 2016 14:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?