Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Lebih Seribu Tahun Masih Dianggap Imigran

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Juni 2012 09:54
Bagikan
Etnis Rakhine terlibat membawa pedang
Bagikan

Hidayatullah.com–Cukup sulit berpegang pada angka-angka berapa banyak jumlah Muslim di Myanmar (dulu Burma, atau Pyidaungsu dalam bahasa lokal). Data tahun 2007, jumlah Muslim sekitar 10% daro 48 juta warga negaraatau sekitar 5-6 juta orang.

Islam merupakan agama terbesar ke-2 setelah Buddha. Bahkan Human Right Watch (HRW) pada laporan 2002 menengarai jumlah Muslim di Myanmar mencapai 20 persen.
 
Angka ini juga dikemukakan Religious Freedom Report pada 2006. Sedangkan Asosiasi Muslim Myanmar (BMA) melalui ketuanya, U Kyaw Zwa menyatakan kepada Suara Hidayatullah, angka moderatnya sekitar  15 persen. Di kota-kota utama negara itu seperti Yangon, Mandalay, Pathein, Sittwe, dan Pegu, cukup mudah ditemukan masjid atau madrasah.
 
Perihal angka yang tidak jelas ini bermula dari diskriminasi yang dialami mereka yang mengaku Muslim. Dalam mengurus KTP dan surat keterangan lain, yang paling mudah bila mengaku beragama Buddha.

 Yang Muslim masih harus menjawab banyak pertanyaan. Tanpa KTP semua urusan menjadi rumit, dan mustahil dapat bebas bepergian ke kota lain.
 
Pemerintah Myanmar yang telah beberapa kali berganti rezim tidak mau menyebut mereka sebagai Muslim Myanmar, tapi cenderung mengklasifikasi sebagai keturunan India atau Kala, keturunan Pakistan, dan keturunan Melayu. Sebutan itu selanjutnya meminggirkan status mereka sebagai warga negara. Padahal sejarah mengakui, mereka telah hadir di Burma lebih 1.000 tahun lalu. Janganlah membayangkan situasi mudah, bebas, semua bisa protes atau menuntut bila tidak puas.
 
Rezim militer yang berkuasa sejak 1998 ini sangat represif, menumbuhkan ketakutan bagi rakyat. Salah seorang narasumber Suara Hidayatullah di kota Yangon harus menanyakan berbagai hal sebelum bersedia menjawab pertanyaan via telepon. Ia juga menolak memberi tahu nomor telepon genggam dan nomor kontak lainnya. “Kami harus menjaga segala sesuatu saat ini,” kata ibu rumah tangga yang tidak bersedia disebut namanya.
 
Genosida

Kisah paling memilukan yang menimpa umat Islam di Myanmar belum lama ini adalah pembersihan etnis (genosida) di Negara Bagian Arakan (Rakhine) di pantai barat dekat perbatasan Bangladesh, sekitar tahun 1197.  Kaum Muslim –biasa disebut etnis Arakan atau Rohingya– menjadi mayoritas di beberapa lokasi.
 
Namun karena kultur dan bahasa mereka sama dengan penduduk negara tetangga, maka pemerintah menganggapnya sebagai pendatang haram dari Bangladesh. Dengan alasan mengatasi pemberontakan, militer Myanmar melakukan operasi besar-besaran selama beberapa tahun. Akhirnya, memang banyak sekali Muslim Rohingya menyelamatkan diri ke Bangladesh atau Thailand, hidup sebagai pengungsi.
 
Tidak dipungkiri, keinginan merdeka masih menyala di beberapa negara bagian Myanmar,  sekalipun menurut Kyaw Zwa tidaklah seserius yang diberitakan. Kampanye ‘Free Rohingya’ masih berjalan di internet sampai sekarang, dimotori kalangan intelektual Muslim di luar negeri.
 
Meski etnis lain juga menuntut merdeka seperti Kristen Karen dan Chin, perlakuan terhadap Muslim Rohingya adalah yang paling mengenaskan. “Tuntutan rakyat Rohingya sebenarnya sekedar mencari hak hidup layak dan keterwakilan yang memadai secara politik dan etnis,” kata Zwa.
 
Kondisi abnormal di Myanmar  mulai serius sejak Jenderal Ne Win berkuasa pada 1962. Padahal kaum Muslimin termasuk kelompok yang berjuang merebut kemerdekaan. Beberapa tokoh Muslim juga dikenal sebagai pahlawan, seperti Abdul Razak (U Razak) yang aktif sejak mahasiswa. U Razak yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan pada kabinet persiapan kemerdekaan ini merupakan salah seorang dari beberapa tokoh yang ditembak mati oleh perusuh. Peristiwa itu selanjutnya diperingati setiap tahun sebagai hari Pahlawan.
 
Kini merupakan saat sulit bagi umat Islam untuk bersikap. Junta militer masih sangat kuat, meski menghadapi tekanan internasional. National League for Democracy (LND) yang memenangkan 392 dan 485 kursi parlemen pada pemilu 1990 pun hingga kini tidak dapat berkuasa, bahkan parlemennya belum pernah bersidang, dan pemimpinnya, Aung San Suu Kyi masih ditahan.
 
Democratic Voice of Burma (DVB) melaporkan, pasca gelombang demonstrasi, 100-an aktivis Muslim ditangkap, sebagian besar tidak jelas nasibnya. Tujuh orang di antaranya yang diberitakan memberikan minum kepada para biksu dan tertayang melalui video clip dipukuli tentara secara brutal.

DVB juga melaporkan kalangan Muslim yang menyumbangkan hand phone untuk komunikasi para demonstran, dan beberapa pemilik mobil yang menghalangi laju truk-truk tentara.
 
Minoritas vs Mayoritas

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Protes terhadap junta mungkin dapat meningkatkan hubungan baik kalangan Muslim dengan Buddhist, namun masih meragukan untuk jangka yang lebih lama. Masalahnya, pada kenyataannya selama ini Muslim Myanmar bukan hanya berhadapan dengan rezim otoriter, tapi juga tekanan dari lingkungannya yang dimotori bara biarawan.
 
HRW mencatat, pasca terjadinya perstiwa 911, menyusul kabar dibakarnya sebuah pagoda di Afghanistan, terjadi penjarahan terhadap rumah-rumah, toko-toko, dan masjid-masjid milik umat Islam di kota Pegu, Taunggyi, dan Sittwe. Amuk massa itu biasa disebut kala Burma adigayone yang berarti pertikaian Muslim-Buddhist, yang tercatat telah 5 kali terjadi sejak 2001.
 
BMA dalam laporannya di hadapan Parlemen Inggris (2007) menyampaikan hancurnya lebih 1.000 rumah kaum Muslimin, dan robohnya 30 masjid di berbagai lokasi akibat kekerasan massal.
 
Dalam  kontak email dengan Hidayatullah.com, U Kyaw Zwa pernah menyatakan, hubungan yang tidak harmonis itu sengaja dipelihara oleh militer dan digunakan sebagai kambing hitam atas berbagai persoalan yang sebenarnya dilakukan oleh militer sendiri.
“Kami sungguh percaya bahwa perlawanan anti-junta ini dapat menurunkan tingkat permusuhan Muslim-Buddhist,” tulis Zwa yang memilih tinggal di London, Inggris.
 
Sentimen anti-Islam juga didorong terus bertambahnya jumlah Muslim melalui perkawinan, yang biasanya didahului pengislaman calon pengantin.
 Perkawinan antar suku adalah hal biasa di Myanmar, termasuk dengan suku keturunan Cina. Tapi seseorang yang menikah dengan Muslim seakan kehilangan identitas suku karena Muslim di Myanmar tidak diwakili suatu suku pun.
 
Sebagaimana diketahui, Myanmar dibentuk oleh 7 negara bagian yang mewakili etnis, ditambah 7  kota, sehingga pada benderanya tercantum 14 bintang. Di semua suku itu terdapat Muslim dan pada sebagian terdapat Kristen.
 
Bagaimana nasib kaum Muslim setelah peristiwa kelabu Senin (11/6/2012) di ibukota Sittwe ini?  Belum bisa diramalkan.

Hanya saja, melalui grup media ini, Zwa pernah menitipkan harapan agar persoalan diskriminasi Muslim di Myanmar yang terus diangkat agar menjadi perhatian Muslim Indonesia.*/BM Wibowo

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Innalillah! Pembantaian Muslim Myanmar Berlanjut
Tulisan selanjutnya Ensiklopi Koruptor Indonesia Diluncurkan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?