Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Innalillah! Pembantaian Muslim Myanmar Berlanjut

Dija
Terakhir diupdate:
Dija
Dipublikasikan 13 Juni 2012 09:14
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Pasukan keamanan Myanmar berpatroli di negara bagian Rakhine, menyusul berlanjutnya kekerasan yang terjadi atas Muslim Myanmar oleh penduduk mayoritas Budha di daerah itu.

Dilansir oleh Al Jazeera, pasukan pemerintah, Senin (11/6/2012) terlihat mengumpulka mayat-mayat dari puing-puing rumah yang hangus terbakar pada akhir pekan. Sementara penduduk yang ketakutan berlindung di rumah-rumah mereka.

Polisi di ibukota Sittwe, mengumpulkan empat mayat, salah satunya perempuan yang diduga dari etnis Rakhine yang mengampung di sungai. Tiga orang lainnya terbungkus selimut, namun tidak diketahui identitasnya.

Polisi mengevakuasi dua keluarga Muslim dari kawasan yang sama, karena rumah mereka berada di antara rumah-rumah penduduk Rakhine yang didominasi warga Budha. Daerah itu merupakan tempat tinggal kelompok minoritas Muslim yang dikenal sebagai orang Rohingya.

Sementara itu, penduduk Muslim yang banyak terdapat di kota Maungdaw, mengungsi ke pos-pos polisi terdekat, seiring dengan pemberlakuan jam malam di daerah itu.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Seorang jurufoto Associated Press di Sittwe mengaku melihat banyak rumah terbakar di distrik Mi Zan.

Toko-toko, sekolah dan bank, serta pasar besar Sittwe tutup. Sejumlah orang Rakhine terlihat berdiri di depan rumah-rumah mereka dengan membawa pedang buatan sendiri, atau mengendarai sepeda motor.

“Kami belum tidur selama lima hari,” kata Ma Ohn May, penduduk Sittwe pemilik toko kain berusia 42 tahun.

Tentara ikut diterjunkan di kota Maungdaw dan Buthidaung untuk membantu polisi.

PBB Ikut Mengungsi

Aksi pembakaran rumah dan kekerasan yang berlangsung sejak hari Jumat lalu sedikitnya sudah mengambil nyawa tujuh orang dan menghanguskan ratusan rumah.

Ketegangan itu merupakan lanjutan dari peristiwa pembantaian 10 warga Muslim Myanmar oleh warga Budha di Rakhine.

Pada hari Ahad pagi ( 3/6/2012), Persatuan Patriotik Rakhine membagikan selebaran di kota Taunggup, yang berisi berisi foto wanita Budha bernama Ma Thida Htwe dan cerita tentang pemerkosaan yang dialaminya tanggal 28 Mei lalu Dalam selebaran itu mereka menuduh warga Muslim sebagai pelaku pemerkosaan dan pembunhan atas wanita tersebut.lapor koran The New Light of Myanmar (5/6/2012). Taunggup adalah sebuah kota pinggiran pantai di negara bagian Rakhine, sekitar 200 kilometer arah barat Yangon.

Disulut oleh selebaran itu, sekelompok massa terdiri dari sekitar 300 orang menyerang sebuah bis yang mengangkut penumpang Muslim dekat Thandwe di jalan menuju Yangon. Ratusan orang itu membunuh 10 Muslim Myanmar dan menghancurkan kendaraan yang mereka tumpangi, kata jurubicara pemerintah.

“Para korban diserang saat dalam perjalanan pulang dari Thandwe untuk tujuan ibadah,” tulis koran Myanmar tersebut.

Al Jazeera melaporkan, akibat ketegangan yang terus berlanjut itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa ikut mengevakuasi 44 pekerjanya, serta keluarga mereka, dari markas yang ada di Maungdaw negara bagian Rakhine, kata koordinator bantuan kemanusiaan PBB di Yangon, Ashok Nigam.

Tidak bisa menyelamatkan diri

AFP melaporkan, petugas perbatasan Bangladesh mengusir balik delapan perahu yang mengangkut sekitar 300 Muslim Rohingya –kebanyakan perempuan dan anak-anak– yang berusaha menyelamatkan diri.

“Ada lebih dari 300 Rohingya di perahu-perahu yang datang dari kota Akyab (Sittwe) Myanmar. Penumpangnya sebagian besar perempuan dan anak-anak, yang kebanyakan menangis dan kelihatan sangat ketakutan,” kata Shafiqur Rahman, seorang penjaga perbatasan Bangladesh berpangkat mayor kepada AFP.

“Kesemua delapan perahu itu didorong kembali ke wilayah Myanmar,” imbuhnya.

“Keadaannya seperti kotak sumbu,” kata Phil Robertson, wakil direktur Human Rights Watch wilayah Asia. “Orang-orang itu merasa seperti terjebak dalam sebuah kotak, dikelilingi musuh, dan tingkat frustasinya sangat tinggi.”

Minoritas Muslim tidak diakui

Warga Muslim adalah kelompok minoritas di negara Myanmar (dulu bernama Burma/Birma), yang mayoritas penduduknya beragama Budha. Negara bagian Rakhine berbatasan dengan Bangladesh, sebuah negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Penduduk Muslim di Myanmar kebanyakan keturunan etnis minoritas Bengali, yang kemudian biasa disebut sebagai suku Rohingya.

Muslim Rohingya dianggap pemerintah Myanmar sebagai imigran ilegal dari Bangladesh. Pemerintah tidak mengakui mereka secara resmi sebagai etnis minoritas bagian dari negara Myanmar.

Padahal, sebagian dari orang Rohingya sekarang merupakan keturunan dari orang Rohingya yang sudah menetap di Myanmar selama berabad-abad.

Pemerintah Myanmar bersikukuh menyatakan orang Rohingya tidak punya negara.

Kelompok-kelompok pemerhati hak asasi manusia mengatakan bahwa orang Rohingya sudah sejak lama mengalami diskriminasi.

Badan pengungsi PBB memperkirakan, terdapat sekitar 800.000 orang Rohingya di tiga distrik di Rakhine.

Pada hari Ahad (10/6/2012) di Yangon, sekitar 600 orang Rakhine berkumpul di tempat suci Budha di Pagoda Shwedagon, menuntut “orang-orang Bengali” (Rohingya) agar “diusir dari Myanmar.”

Jumlah kasus kekerasan yang dialami Muslim Myanmar diyakini banyak yang tidak dilaporkan media, terutama oleh media pemerintah. Di bawah penguasa militer sebelumnya, peristiwa pembantaian semacam itu biasanya dibiarkan begitu saja tanpa ada pemberitaan dan hanya mendapat perhatian sebentar.*

Redaktur: Dija
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sumbangan 10% ke Gereja Dipertanyakan Umat Kristiani
Tulisan selanjutnya Lebih Seribu Tahun Masih Dianggap Imigran

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?