Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Tidak Ada Dikotomi Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Ahmad
Terakhir diupdate:
Ahmad
Dipublikasikan 20 Februari 2013 06:49
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–DPW Hadhramaut Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman kembali menggelar diskusi pemikiran kekinian pada Kamis (15/02/2013). Diskusi yang digelar di Auditorium Universitas Al-Ahgaff ini merupakan salah satu wujud program kerja dari Departemen Pendidikan dan Dakwah.

Hadir sebagai narasumber kali ini, Muhammad Roby Ulfi Zaini dengan mengangkat tema seputar masalah “Dikotomi Ilmu Pengetahuan” dalam dunia Islam.

Menurut Roby, tujuan mengangkat topik ini tak lain adalah untuk memberikan pemahaman kepada semua orang tentang istilah dikotomi ilmu pengetahuan dalam Islam yang selama ini telah salah dipahami.

Roby berharap bias menyadarkan agar umat Islam lebih berfikir kritis hingga tidak lagi dianggap sebagai umat yang terbelakang dalam hal ilmu pengetahuan.

Mantan Sekretaris PPI Yaman 2011-2012 dan wakil ketua PCI NU Yaman ini memulai presentasinya dengan memaparkan sejarah ilmu pengetahuan beserta cabang-cabangnya serta mengutip beberapa tokoh ulama dalam berbagai disiplin keilmuan.  Misalnya, Al-Farabi, Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Ghozali, Ibnu Rusyd dan lain sebagainya.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Mereka,  menurut Roby, merupakan bukti bahwa tidak ada dikotomi ilmu pengetahuan dalam Islam.

Munculnya dikotomi ilmu pendidikan menurut Roby dimulai ketika kaum Barat melakukan invansi ke pelbagai negara Islam yang saat itu begitu maju perkembangan ilmu pengetahuannya, seperti Palestina (1095 M), Baghdad (1259 M), dan Andalusia (1429 M).
Setelah penaklukan ini, model dikotomis mulai mewujud dalam realitas sejarah pendidikan Islam. Implikasi dari adanya dikotomi ini,  terlihat dalam pengembangan pendidikan Islam yang lebih berorientasi pada keakhiratan, sedangkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan masalah dunia dianggap tidak urgen.

Bahkan, sudah banyak generasi selanjutnya yang beranggapan bahwa ilmu-ilmu pengetahuan umum bersumber dari orang Barat. Padahal, sejatinya ulama Islamlah yang merintis berbagai disiplin keilmuan tersebut.

Selanjutnya, Muhammad yang hadir sebagai pembanding, juga sependapat  bahwa sebenarnya tidak hanya faktor eksternal saja yang mempengaruhi munculnya istilah dikotomi dalam Islam, tapi juga faktor internal dalam umat Islam itu sendiri.

Seperti kurangnya dukungan moral dan materi dari Khalifah pada zaman itu terhadap para ilmuan Islam dalam penelitiannya. Berbeda jauh jika ada seorang penyair yang memuja dirinya maka seketika itu pula bantuan moral dan materi mengalir.

Tidak hanya itu, faktor lain dari penyebab munculnya istilah dikotomi ilmu pengetahuan dalam Islam karena umat Islam kurang menyadari bahwa segala bentuk ilmu pengetahuan umum sejatinya telah termaktub dalam al-Qur’an. Jika saja umat Islam mampu cermat dalam menerapkan teks ke konteks dalam artian menerapkan isi kandungan al-Qur’an terhadap realitas kekinian, maka dari situ telah diketahui bahwa Islam pun menganggap penting ilmu pengetahuan umum.

Disksusi semakin seru manakala sampai pada sesi tanya jawab. Setelah sepakat bahwa tidak ada istilah dikotomi ilmu pengetahuan dalam Islam, berbagai pendapat serta saran banyak bermunculan apalagi—meminjam istilahnya Agus Maftuh Abegebriel — ketika para “santri garuda” ini beradu pendapat tentang sistem pendidikan apakah yang cocok untuk diterapkan di Indonesia kelak.

Sebagian ada yang berpendapat agar menyetarakan porsi ilmu agama dengan umum. Sebagian lagi berpendapat sistem pendidikan yang baik adalah melihat sisi kemampuan siswa itu sendiri tanpa meninggalkan dasar ilmu agama.

Diskusi yang berlangsung selama dua jam setengah ini akhirnya menghasilkan keputusan sebagai rekomendasi untuk pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud, Kemenag maupun lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Pertama, menjadikan ranah pendidikan sebagai komoditi murah meriah bagi seluruh rakyat dalam setiap jenjangnya. Kedua, mengikis kebijakan dikotomi antara sekolah umum, madrasah dan pesantren. Ketiga, meminimalisir setiap sistem pendidikan yang menciptakan pandangan dikotomis. Keempat, merevitalisasi sistem pendidikan yang tidak sesuai dengan spirit Pancasila dan UUD 1945. Kelima, untuk para cendekiawan Muslim, agar berupaya merumuskan sistem pendidikan Islam terpadu yang ideal.

Launching Buku

Setelah acara diskusi, dilanjutkan dengan launching buku “Kodifikasi Interdisipliner”: Kumpulan Paper Presented.” Sebuah buku mungil yang memuat karya ilmiah yang secara khusus menyoroti pemikiran tokoh Muslim klasik-kontemporer dan isu-isu seputar keindonesiaan.

“Buku ini merupakan wujud dari potensi pelajar timur tengah untuk bisa menggambarkan pengetahuan mereka dalam bentuk tulisan disela-sela kesibukan tuntutan belajar yang tiada henti,” tutur Pandi Yusron, Ketua DPW Hadhramaut dalam peluncuran buku tersebut. */Adly Al-Fadlly, Mahasiswa jurusan syariah Universitas Al-Ahgaff, Hadhramaut-Yaman

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamold migratePPIyaman
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Relawan Indonesia Sampaikan Amanah Rakyat Palestina untuk Rakyat Suriah
Tulisan selanjutnya Israel: Eropa Pusat Hizbullah yang Sebenarnya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?