Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

5 Rumus Kemenangan, Jadikan Hidup lebih Diridhoi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 November 2013 13:10 1:10 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 November 2013 13:10
Bagikan
Bagikan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُواْ وَاذْكُرُواْ اللّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلَحُونَ

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian berjumpa dengan pasukan (musuh di medan perang), maka teguhkanlah hati kalian dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu mendapat kemenangan. Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian bertengkar (diantara sesama kalian) yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kehilangan kekuatan kalian, serta bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al–Anfal [8]: 45-46)

Ayat ini turun dalam momen yang berkaitan dengan rentetan jihad di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana isi kandungan surah al-Anfal pada umumnya. Tentu saja, ia juga bisa berlaku di zaman kapan pun dan tempat mana pun, ketika situasi dan kondisinya terulang, seperti di Palestina dan Suriah saat ini. Hanya saja, bila direnungkan lebih jauh, ternyata rumus-rumus kemenangan yang Allah beberkan di dalamnya juga bisa berlaku di luar medan perang dan dalam suasana damai. Logikanya sederhana. Jika rumus-rumus itu bisa efektif dalam suasana genting maka ia pasti lebih efektif lagi dalam suasana stabil. Dengan kata lain, jika kita – sebagai pribadi, jamaah, organisasi, umat – ingin mendapat kesuksesan dan kemenangan dalam urusan-urusan kita, maka inilah rumusnya.

Rumus pertama, teguh hati. Tidak ada masalah yang akan selesai jika kita tidak memiliki mental tangguh untuk menuntaskannya. Bayangkanlah suasana Mudik Lebaran, dimana jutaan orang harus menempuh ribuan kilometer untuk mencapai kota-kota tujuannya. Banyak diantara mereka yang menggunakan mode transportasi pribadi roda dua, mulai dari Jakarta sampai ke kepualauan Nusatenggara atau ujung jazirah Sumatera. Lelah, cemas, panas, debu, asap mesin, lapar, haus, ancaman kecelakaan dan kejahatan, serta stres oleh lalu-lintas, adalah menu sepanjang jalan. Tetapi, apakah mereka berhenti? Tidak! Mereka meneruskan perjalanan hingga sampai di tujuan, atau terhenti oleh sebab-sebab yang di luar kendali mereka.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Mengapa mereka terus maju diatas seluruh kesulitan yang menghadang? Itulah keteguhan hati, yang lahir dari harapan dan keinginan kuat di dalam dada. Bagaimana aplikasinya dalam aspek-aspek kehidupan yang lain? Seharusnya, seorang muslim memiliki keteguhan lebih hebat dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya, karena harapannya lebih tinggi dan keinginannya lebih besar, yaitu keridhaan Allah dan surga-Nya. Apakah keduanya bisa diraih dengan kemalasan dan tekad asal-asalan? Jelas mustahil!

Rumus kedua, banyak berdzikir, yaitu menyebut nama Allah, membaca al-Qur’an, dan berdoa, sebagaimana disitir al-Hafizh Ibnul Jauzi dalam Tafsir Zaadul Masir.

Dalam surah ar-Ra’du: 28 dinyatakan bahwa dengan banyak mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang. Ketika menafsirkan ayat ini, Imam al-Biqa’iy berkata, “(Pengertian) dzikir adalah hadirnya suatu makna ke dalam jiwa, dan ini merupakan isyarat bahwa siapa saja yang tidak bisa merasa tenang dengan dzikir, maka sebenarnya ia tidak mempunyai hati, dan tentu saja tidak mungkin ada akal di dalamnya. Bahkan, sebenarnya dia adalah benda mati belaka.” Dengan kata lain, ketika hati seseorang tidak tenang, maka ia sebenarnya tidak memiliki akal sempurna yang akan membimbingnya untuk berpikir secara jernih dan menimbang segala sesuatu dengan bijak. Keputusan-keputusan yang dibuatnya hanya bersandar pada emosi dan nafsu sesaat. Ada kemungkinan besar ia akan terjatuh dalam penyesalan berkepanjangan. Jelasnya, jika kita tidak tenang maka kemenangan akan jauh dari genggaman. Banyak perlombaan dan kejuaraan yang mempertemukan para jagoan di bidangnya, dan di puncak kompetisi yang sangat ketat itu, ternyata faktor terbesar yang menentukan kemenangan mereka adalah ketenangan, fokus, dan konsentrasi; bukan lagi kecerdasan dan ketrampilan.

Rumus ketiga, taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah menjamin bahwa kemenangan pasti berpihak kepada hizbullah (lihat surah al-Ma’idah: 56 dan al-Mujadilah: 22). Siapakah hizbullah itu? Ayat-ayat lain di depan dan belakang kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu beriman, menegakkan shalat, menunaikan zakat, loyal dan komit kepada agama Allah, rendah hati kepada sesama muslim, tegas kepada kaum kafir, dst. Alhasil, semakin baik ketaatan kita dalam menjalankan syariat Islam, maka semakin besar pula peluang untuk sukses dan menang.

Rumus keempat, tidak bertengkar dengan teman sendiri. Akibat dari perpecahan dan perselisihan dengan kawan sendiri sudah sangat jelas, yaitu menggentarkan hati dan melenyapkan kekuatan. Jika umat atau organisasi mendapat tantangan dari luar, biasanya mereka cenderung solid dan merapatkan barisan. Hasilnya: mereka semakin kokoh dan berlipat ganda kekuatannya. Namun, ketika mereka berselisih secara internal, pasti goyah dan bahkan hancur berantakan. Maka, kaum kafir tahu persis bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dari kaum muslimin selama kita masih belum bersatu dan gemar berselisih dengan teman sendiri. Realitas menunjukkan bahwa kita memang belum benar-benar berpadu sebagai umat yang satu (ummatan wahidah). Kita masih terjerat meninggikan bendera-bendera nasionalisme, kesukuan, ormas, partai, madzhab, atau jamaah pengajian, dibanding bendera Islam. Subhanallah.

Rumus kelima, sabar. Berulangkali Allah menyatakan bahwa Dia bersama orang-orang yang sabar (lihat surah al-Baqarah: 153 dan 249, serta al-Anfal: 46 dan 66). Tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana efektifitas rumus ini. Siapakah yang sanggup mengalahkan pribadi atau umat yang disertai dan didukung oleh Allah, Tuhan semesta alam? Jadi, ketika kesabaran telah tertanam, maka tidak ada lagi yang bisa mengalahkannya. Wallahu a’lam.*/ Alimin Mukhtar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Kemenangankesabaranmenang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menentang UU Demonstrasi, Tamarud Kecam Al-Sisi
Tulisan selanjutnya Wagub Jatim: “Ekonomi Syariah Mampu jadi Ekonomi Alternatif Masyarakat”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?