Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Uni Afrika Temukan Bukti Kanibalisme Paksa di Sudan Selatan

Ama Farah
Terakhir diupdate: 29 Oktober 2015 11:58 11:58 am
Ama Farah
Dipublikasikan 29 Oktober 2015 11:58
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Para penyelidik dari Uni Afrika menemukan kuburan-kuburan massal di Sudan Selatan, serta bukti-bukti bahwa telah terjadi pembunuhan, pemerkosaan, serta kanibalisme secara paksa.

Dalam sebuah laporan terbaru yang dirilis hari Selasa malam (27/12/2015), AU juga menuding faksi Presiden Salva Kiir terlibat dalam konflik di negara pecahan Sudan itu, dengan merekrut dan mempersenjatai pasukan yang terdiri dari suku-suku pedalaman sebelum pecah perang di negara baru itu pada Desember 2013.

AU juga beranggapan ada upaya kudeta pada bulan yang sama oleh mantan wakil presiden, Riek Machar.

Para saksi kekerasan di ibukota Juba mengingat kejadian mutilasi tubuh-tubuh manusia, pembakaran jasad manusia, dan bahkan pengeringan (pengeluaran) darah dari tubuh orang yang baru dibunuh. Demikian laporan itu menyebutkan.

Orang-orang lainnya dipaksa “meminum darah atau memakan daging tubuh manusia yang telah dibakar.”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Pasukan pemerintah Sudan Selatan melakukan pembunuhan berencana atas orang-orang dari suku Nuer di Juba, tulis laporan itu.

Ketika kekerasan itu terjadi, Machar, yang berasal dari suku Nuer, bangkit menjadi pemimpin pemberontakan.

Machar dan Kiir, yang berasal dari suku Dinka, belum lama ini menandatangani perjanjian damai.

Puluhan ribu orang telah tewas akibat konflik di Sudan Selatan itu, dan diperkirakan dua juta orang terpaksa mengungsi.

Menurut tim penyelidik AU yang dipimpin mantan presiden Nigeria Olusegun Obasanjo, konflik di negara itu dimulai pada 15 Desember 2013, ketika bentrokan pecah antara pasukan pengawal presiden yang berasal dari suku Nuer dan Dinka. Bentrokan itu disulut oleh ketegangan politik antara Kiir dan Machar, yang sebelum itu pada bulan Juli dipecat sebagai wakil presiden.

Laporan tersebut seharusnya dirilis beberapa bulan lalu, namun ditunda oleh Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika.

Dalam konflik itu ratusan pria Nuer dijajarkan lalu ditembak, dan kuburan massal mereka telah ditemukan.

Para pelaku –yang digambarkan sebagai pasukan pemerintah dan sekutunya– diduga kuat mernyiksa para korban, termasuk dengan memaksa mereka masuk ke dalam kobaran api atau dagingnya dimakan.

Pembunuhan itu merupakan “sebuah operasi militer terorganisir yang tidak mungkin akan berhasil tanpa adanya upaya bersama dari berbagai pelaku dalam lingkungan militer dan pemerintahan,” tulis laporan AU itu, seperti dikutip Aljazeera.

“Penutupan jalan atau pos-pos pemeriksaan didirikan di seluruh wilalyah Juba dan pemeriksaan dari rumah ke rumah dilakukan oleh pasukan keamanan.”

“Selama operasi itu para pria Nuer menjadi target, diidentifikasi, langsung dibunuh di tempat atau dikumpulkan di satu tempat lalu dibunuh.”

Laporan itu mengatakan bahwa Menteri Pertahanan Kuol Manyang Juuk menjeslakan tentang sebuah kelompok bayangan yang disebut “Selamatkan Presiden” yang membunuh orang-orang di Juba pada 15-18 Desember, dan kelompok itu bahkan “lebih kuat dibandingkan pasukan yang terorganisir.”

Kelompok bayangan itu terdiri dari sejumlah serdadu Dinka yang dimobilisasi menyusul krisis perbatasan tahun 2012 dengan Sudan.

Sebagian dari serdadu itu kemudian dipindahkan ke selatan, ke pertanian pribadi milik Kiir di dekat Juba pada tahun 2013. Mereka itu yang kemudian berpartisipasi dalam pembunuhan-pembunuhan tersebut, tulis laporan AU mengutip keterangan dari para informan.

Ketika terjadi pembantaian di Juba, Machar melarikan diri dari ibukota lalu memobilisasi sebuah kelompok bersenjata dengan tujuan membalas dendam terhadap Dinka, menyulut serangkaian kekerasan di Bor, Malakal dan Bentiu. Aksi tersebut, menurut laporan AU, termasuk pemerkosaan dan pembunuhan orang-orang yang berada di gereja.

Serangan-serangan balas dendam itu terjadi sangat cepat dan juga kelihatan terkoordinasi.

Kiir dan Machar menandatangani perjanjian damai pada bulan Agustus lalu, akan tetapi bentrokan di lapangan terus terjadi.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Patrialis Sambut Baik Kehadiran PULDAPII, Dakwah Organisasi yang Baik
Tulisan selanjutnya Melawan Asap dengan Beriqra’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?