Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Rekonsiliasi, tapi Tak Hapus Kejahatan PKI [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 November 2015 09:04 9:04 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 November 2015 09:04
Bagikan
International People Tribunal (Pengadilan Rakyat Internasional) di Den Haag untuk mengadili negara Indonesia
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Agung Pribadi

K.H. Shalahudin Wahid ketika menjadi anggota Komnas HAM tahun 2003 juga bercerita seperti ini di Teater Utan Kayu, Jakarta Timur.

Suwarno, salah seorang saksi sejarah, mengatakan bahwa dalam peristiwa Cemedok tahun 1965, ada sekitar 50 anggota Banser, GP Anshor mati diracun oleh anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), organisasi underbouw PKI.

Saksi lain yang bernama Ishak juga menuturkan, ia melihat ayahnya dibantai oleh anggota PKI dan baru ditemukan jasadnya sepekan kemudian. Sedangkan korban lainnya mengaku bahwa PKI selalu mengintimidasi guru Madrasah, mengambil paksa tanah milik Yayasan Islam dan para kiai, serta sering membakar masjid. Itulah sebabnya, mereka berharap agar peristiwa sejarah itu benar-benar menjadi pelajaran dalam kehidupan berbangsa di masa mendatang (Liputan6.com 01/10/2002 ).

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Salim Said ahli politik dan sejarawan mengatakan, “Saat itu, sebelum ditumpas, PKI banyak melakukan aksi sepihak di daerah. Mereka membagi-bagikan tanah milik kiai. Mereka menekan kiai. Di pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur, PKI tak hanya berkonflik dengan umat Islam. PKI dan kaum Marhaen juga saling membunuh.

Tapi yang mengherankan, saat itu di Jakarta pimpinan Marhaen (Soekarno, red) dengan pimpinan PKI saling berpelukan,” tandas Salim dalam acara Tabayyun Kebangsaan; Pemberontakan PKI 1948/65 di mata NU/GP Ansor, di kantor PP GP Ansor, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (15/10) (NU online).

Pada 1965 ini, fitnah, penghinaan, serta pembunuhan dilakukan PKI di berbagai tempat, sehingga terjadi konflik sosial yang bersifat horizontal antara pengikut PKI dengan kelompok Islam, terutama NU.

Serang-menyerang terjadi di berbagai tempat ibadah, perusakan pesantren dan masjid dilakukan, termasuk perampasan tanah para kiai. Bahkan pembunuhan pun dilakukan. Saat itu NU melakukan siaga penuh yang kemudian dibantu oleh GP Ansor dengan Banser sebagai pasukan khusus yang melindungi mereka.

Choirul Anam (Cak Anam), mantan ketua GP Anshor Jawa Timur yang menjadi saksi sejarah tahun 1965, mempertanyakan sikap Komnas HAM yang tak melakukan investigasi terhadap sejumlah pembunuhan terhadap kiai dan santri. Salah satunya pembantaian terhadap para anggota GP Ansor, beserta para kiai di Magetan yang jumlah korbannya mencapai ratusan orang. Belum lagi di daerah lain.

Kisah-kisah di atas sebenarnya hanya sebagian dari begitu banyak kasus penyerangan, pembunuhan, dan pembantaian yang dilakukan PKI ketika mereka sedang berada di atas angin.

Sayangnya tidak banyak saksi korban PKI yang mau menuliskan memoar atau catatan atas apa yang mereka alami di pertengahan tahun 60-an tersebut.

Sebaliknya, banyak mantan anggota PKI atau simpatisan PKI yang menuliskan memoar tentang berbagai peristiwa seputar gerakan PKI, tetapi menyembunyikan fakta kekejaman PKI dan hanya mengungkap betapa mereka menjadi korban. Bahkan tidak sedikit mantan anggota PKI yang menyangkal bahwa mereka dulu anggota PKI, padahal banyak saksi yang jelas-jelas di masa lalu melihat mereka begitu aktif sebagai aktivis gerakan PKI atau organisasi di bawahnya.

Sebagai contoh, penulis merasa kurang puas membaca buku memoar Oei Tjoe Tat, terutama yang berkenaan dengan peristiwa G30S. Di sana ia mengatakan tidak mengetahui peristiwa itu.

Atau ketika penulis bertemu langsung dengan Pramoedya Ananta Toer, yang setelah bebas selalu berkelit bahwa ia bukan angota PKI dan menunjukkan sikap seperti tidak tahu banyak tentang PKI. Sekalipun mungkin saja ia bukan anggota PKI tapi sepak terjangnya sangat menguntungkan PKI.

Suatu hari, penulis bertemu langsung dengan Pram dalam sebuah seminar di Universitas Indonesia. Saat itu penulis bertugas sebagai moderator dan Pram menjadi pembicaranya.

Pram saat itu berkata dia tidak tahu apa-apa tentang komunis. Kemudian penulis langsung bertanya, “Pak Pram, saya di rumah punya buku karangan Pak Pram, judulnya Realisme Sosialis, yang menjelaskan panjang lebar tentang komunisme marxisme dan teori realism sosialis dalam sastra. Artinya, Pak Pram sangat tahu benar tentang komunis. Bagaimana pendapat Pak Pram?” Dan Pramoedya Ananta Toer tidak menjawab pertanyaan penulis.

Sejarah mencatat, ketika Soekarno mencanangkan Demokrasi Terpimpin sebagai haluan negara dengan Nasionalis, Agama, dan Komunis (Nasakom) sebagai akarnya para sastrawan yang antikomunisme menggabungkan diri mereka dalam Manifest Kebudayaan (Manikebu) yang didirikan pada 17 Agustus 1963 dan menyebut diri mereka sebagai penganut humanism universal.

Padahal saksi hidup penanda tangan Manifes Kebudayaan tahu benar sepak terjang Pramoedya yang di masa lalu berusaha menjegal seniman dan sastrawan lain.

Pram meneror para sastrawan Manifes Kebudayaan agar dipecat dari jabatan publiknya dan karya-karya mereka dilarang untuk diterbitkan, serta tulisan-tulisan mereka dilarang dimuat dalam majalah dan koran.

Akhirnya, Presiden Soekarno membubarkan Manikebu pada 18 Mei 1964. “Para sastrawan Manikebu kemudian menjadi sengsara, terpojok, dan tanpa karya,” kata Taufiq Ismail.

Penulis juga tahu bahwa ada ketidakadilan yang dialami Pram sehingga mendekam di penjara, tapi itu bukan berarti Pram juga boleh menutup-nutupi keterlibatannya dan aksinya di masa lalu.

Sekarang Pram digambarkan seperti orang tidak bersalah dan korban ketidakadilan HAM. Padahal jika dilihat background-nya, ia korban dari aksinya sendiri.

Sekarang memang saatnya rekonsiliasi, saling memaafkan untuk masa depan yang lebih baik. Tapi bukan berarti sejarah pembantaian yang dilakukan PKI boleh dihapuskan. Wallahu A’lam Bish Shawab.*

Penulis buku  “Gara-Gara Indonesia”, alumnus Jurusan Sejarah Universitas Indonesia

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:International People TribunalPartai Komunis IndonesiapembantaianPKIrekonsiliasiulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tiga Fatwa Persatuan Ulama Dunia Terkait Serangan Paris
Tulisan selanjutnya Hamas Ungkapkan Capaian Kekalahan Zionis pada Perang Hijaratus Sijjil 2012

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

Berita
31 Agustus 2026 20:04
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
Turki Luncurkan Atlas Sejarah Islam Digital, Rekam Berbagai Peradaban Selama 1.300 Tahun

Terbaru

  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?