Hidayatullah.com—Musibah pembunuhan massal di Paris hari Jumat yang menewaskan setidaknya 129 orang mulai berdampak pada kaum Muslim. Beberapa politisi dan pemimpin Eropa bahkan berencana menutup masjid. Di antaranya usulan datang dari Donald Trump dan Perdana Menteri Prancis, Manuel Valls.
Bakal calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump, hari Senin, mengatakan, Amerika Serikat (AS) harus “benar-benar melakukan pertimbangan” untuk menutup sejumlah masjid sebagai bagian dari upaya mencegah serangan garis keras di negara itu.
“Kita harus mengawasi dan meneliti masjid-masjid itu, karena banyak pembicaraan terjadi di tempat-tempat itu,” kata Trump dikutip stasiun televisi MSNBC.
Sementara itu, Perdana Menteri Prancis Manuel Valls mengatakan, Senin, masjid-masjid dan kelompol radikal yang menyerang nilai-nilai negaranya harus ditutup.
Ditanya lagi apakah penutupan masjid itu bakal melanggar kebebasan beragama, Trump punya jawaban tersendiri. “Aku tidak akan suka melakukan hal itu. Tapi ini adalah sesuatu yang perlu benar-benar dipertimbangkan. Karena beberapa ide kebencian dan paham radikal datang dari tempat-tempat itu,”
Atas komentar Trump, komunitas Muslim di Amerika pun mengaku berang. Mereka begitu kecewa bagaimana mungkin kandidat calon Presiden Partai Republik bisa memberikan pendapat yang makin menguatkan ketakutan publik atas agama Islam itu. Namun senada dengan Trump, Peter King, kandidat lain calon Presiden Partai Republik juga memberikan komentar tak kalah pedas.
“Trump berbicara sebelum dia tahu apa yang dia omongkan. Aku juga sudah mendapat kritik dari komunitas Muslim. Tapi kenyataannya adalah tak mungkin untuk menutup masjid-masjid. Kita punya masalah di negeri ini dan itu adalah Muslim. Kalian tahu, Presiden kita salah satunya,” ungkap King tanpa menyadari bahwa Presiden Obama beragama non Muslim.
Bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, dikenal kerap mengeluarkan pernyataan kontroversial.
Sejak awal mencalonkan diri sebagai kandidat dari Partai Republik, ia kerap melontarkan komentar keras terkait persoalan imigran, hingga akhirnya ia sulit menggaet suara dari kelompok minoritas, termasuk pada kaum Muslim.*