Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Tak Semua Pengungsi Suriah Lari ke Eropa

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Januari 2016 06:36 6:36 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Januari 2016 06:36
Bagikan
Murid-murid asal Suriah di sekolah pengungsian di Turki
Bagikan

Mohammed (22) telah tinggal di Turki selama empat tahun sejak dia lari dari Suriah, hanya sebulan setelah perang sipil mulai berkecamuk di negara kelahirannya.

Tetapi tidak seperti ribuan pengungsi Suriah yang tahun ini menyeberangi laut Aegean untuk mencari kehidupan yang lebih baik di Eropa, dia tidak berencana untuk meninggalkan Turki.

“Aku tidak bermimpi untuk pergi ke Eropa,” kata Mohammed, yang berasal dari Latakia wilayah pesisir Suriah, pada AFP di kamp pengungsian Osmaniye wilayah selatan Turki bulan Desember lalu.

“Aku akan melanjutkan pendidikanku dengan izin Allah dan membangun kehidupan di sini sebelum kembali ke Suriah setelah berakhirnya perang,” dia menambahkan. Meskipun saudara-saudaranya telah pergi menuju Belgia.

Mohammed secara rutin telah mengikuti kelas bahasa Turki dan pada 2013 diterima oleh sebuah universitas yang terletak di kota Mardin. Dia mengatakan dia sekarang ingin lulus dan membangun kehidupan baru di Turki.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Uni Eropa ingin melihat kasus-kasus seperti Mohammed — orang-orang menemukan kondisi yang tepat agar mereka tinggal di Turki daripada bepergian ke Eropa, dan ingin kembali ke Suriah ketika keadaan sudah normal.

Dalam menyelesaikan tingginya arus imigran, Brussel memberi bantuan senilai tiga trilliun euro pada Ankara bertujuan untuk membantu Turki menahan arus imigran, dan juga sebagai bentuk bantuan pada pengungsi Suriah.

Bulan Desember, Kanselir Jrerman Angela Merkel memimpin sebuah pertemuan untuk membahas krisis imigran, yang terparah sejak Perang Dunia II, dengan delapan negara Eropa dan Turki.

Lebih dari 2,2 juta pengungsi berada di Turki.

Turki merupakan rumah bagi sekitar 2,2 juta pengungsi Suriah setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan mengumumkan kebijakan untuk membuka pintu bagi pengungsi ketika perang di Suriah baru saja dimulai.

Tetapi Turki memprotes tidak adanya bantuan finansial yang dari negara-negara Eropa untuk melayani para pengungsi, walaupun Turki sendiri telah menggelontorkan dana sebesar delapan trilliun dollar.

Dubes Uni Eropa untuk Turki, Hansjirg Haber, yang ditemani AFP dalam kunjungannya ke kamp pengungsi Osmaniye, mengatakan bahwa akan ada fokus baru dalam bantuan dana segar di bawah kesepakatan Brussel-Ankara.

“Saya pikir kita harus bersandar pada dua hal. Pertama adalah membuat tinggal di Turki lebih menarik bagi pengungsi Suriah di negara ini,” dikutip middleeasteye.net.

“Dan kedua adalah bahwa kita harus menekan perdagangan manusia di perbatasan dengan bantuan kepolisian Turki,” dia mengatakan pada AFP.

Hanya sekitar 260.000 pengungsi Suriah yang tinggal di kamp-kamp dekat perbatasan, dengan mayoritas besar terpisah di sepanjang Turki termasuk kota besar seperti Istanbul.

Para pengungsi di kamp mendapatkan pelayanan seperti pendidikan dan layanan kesehatan. Tetapi banyak keluarga yang mengandalkan para pemuda mereka bekerja di luar untuk mendapat penghasilan sebagai buruh yang digaji lebih murah dari gaji rata-rata.

“Kami tidak dapat bertahan hidup tanpa bekerja di luar,” kata Azimet Tusuz lelaki berumur 35 tahun, yang sedang membanding-bandingkan harga minyak goreng dari dua merk berbeda di sebuah supermarket.

Pendidikan adalah satu dari tantangan utama. Pada September, pemerintah Turki berjanji untuk melipatgandakan jumlah pengungsi Suriah yang disekolahkan, dari 230.000 menjadi 460.000.

“Itu merupakan satu keinginan yang harus terealisasikan. Kami sedang mengerjakan bersama dengan menteri pendidikan untuk memastikan terealisasinya tujuan ini,” Philippe Duamelle, perwakilan Turki untuk UN Children’s Fund (UNICEF), mengatakan pada AFP.

Dia mengatakan UNICEF menghadapi tantangan ganda untuk meningkatkan standar dari kamp-kamp dan dalam memperhatikan lebih dari 85 persen pengungsi yang tinggal di luar kamp.

“Oleh karena itu, terdapat kebutuhan untuk meningkatkan skala pelayanan keduanya.”

Dia juga mengatakan terdapat tantangan lain, 150.000 anak Suriah telah dilahirkan di Turki sejak dimulainya krisis.

Maha Abdullah (38 tahun), yang sedang menunggu anak perempuannya berumur 12 tahun di sebuah pusat pelatihan untuk perempuan Suriah di kota Sanliurfa yang didanai oleh UE, mengatakan bahwa mencari penghasilan adalah sebuah prioritas.

“Kami tidak memiliki masalah dengan sekolah,” kata dia.

“Tetapi biaya sewa, listrik dan tagihan air merupakan masalah terbesar.”

Badan Pangan Dunia (WFP), yang menyediakan kupon elektronik bagi pengungsi Suriah, berharap dapat memanfaatkan dana lebih setelah kesepakatan Brussels-Ankara agar bantuan mereka dapat mencapai pengungsi Suriah yang tinggal di luar kamp-kamp.

“Jika kita tidak dapat menyediakan mereka bantuan bahkan yang paling sedikit, mereka mungkin lebih suka untuk berpindah lagi,” perwakilan Turki di WFP Jean-Yves Lequime mengatakan pada AFP.

Beberapa pengungsi bahkan marah pada teman mereka yang mempertaruhkan hidup mereka dengan pergi ke Eropa.

“Orang-orang hampir mati karena pergi ke Eropa, sedangkan yang lain hampir mati karena mempertahankan tanah mereka di Suriah. Aku tidak ingin pergi ke Eropa. Tidak ada yang seperti tanah kelahiranmu,” Ahlem Hanefi, 33 tahun, mengatakan di kamp Osmaniye.*/Nashirul Har AR

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Eropapengungsisekolah pengungsisuriahTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dewan Da’wah Aceh Bantu Rohingya
Tulisan selanjutnya Komunitas Lingkar Peradaban Undang Salim A Fillah Ceramah di Pulau Bali

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?