Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Negeri 2 Kiblat di Kampung Jawa Yang Jauh [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Februari 2016 13:28 1:28 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Februari 2016 13:28
Bagikan
Dai asal Suriname, Mr Henry Soeharto (pakai kopiyah)
Bagikan

PERNAH mendengar Suriname? Sebuah negeri di kawasan Amerika Latin ini dulu adalah kawasan dimana banyak orang Jawa yang dihijrahkan ke sana dengan kapal oleh penjajah Belanda. Tepatnya di tahun 1890an atau lebih dari satu abad yang lalu.

Negara besar yang penduduknya tidak lebih dari 1 juta jiwa itu, sekitar tujuh puluh ribuan warganya adalah keturunan Jawa yang dulu bapak-bapak mereka hijrah ke sana menaiki kapal selama dua bulan perjalanan.

Kini, kebanyakan mereka adalah keturunan yang ketiga. Untuk generasi pertama dan kedua, mereka fasih berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Bahasa Jawa merupakan bahasa diantara mereka nomor wahid, disamping bahasa resminya adalah bahasa  Belanda. So, jangan heran kalau anda bertemu dengan salah satu diantara mereka, kita akan menyangka dia orang “kita”. Hidungnya, warna kulit, dan bahasa Jawa nya. Tapi satu, mereka tidak bisa berbahasa Indonesia.

Dalam sebuah pertemuan yang dihelat di Puncak Cipanas, saya berkesempatan untuk bertemu dengan da’i asal negara Amerika Latin yang berbatasan dengan Brazil tersebut.

Namanya Mr Henry Soeharto. Dulu, konon ayahnya lahir di kapal saat menuju Suriname dari Indonesia. Pria alumnus Universitas Islam Madinah jurusan Syariah ini kini menjabat sebagai Ketua SIS, sebuah kantor urusan keislaman dibawah Kementrian Dalam Negeri Suriname.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Sangat ramah. Ia banyak ngobrol khusus tentang “Jawa” dan Islam di negeri itu. Ada beberapa catatan yang saya rangkum dalam diskusi denganya.

Yang pertama, fenomena masjid dua kiblat.

Di Suriname, masih ada sampai saat ini masjid yang kiblatnya berlawanan dengan arah Ka’bah. Kalau ka’bah ada di sebelah timur, sebaliknya mereka justru sholat menghadap Barat (kulon).

Ceritanya, dulu ketika orang-orang Jawa ini hijrah ke sana, mereka terbiasa shalat mengahadap Barat kulon. Ya, memang kalau dari Indonesia Ka’bah berada di arah barat. Sehingga, terjadi salah kaprah di sebagian masyarakat zaman dahulu bahwa kiblat itu barat. Ketika mereka pindah ke Suriname, mereka tetap bertahan dengan keyakinan tersebut. Padahal, Kiblat ada ke arah timur Suriname. Ketika dijelaskan kepada mereka tentang arah kiblat yang salah, sebagian mereka keukeuh dan berfikir bahwa bumi itu bulat. Meskipun kita membelakangi Kiblat, ujung-ujungnya juga ketemu Ka’bah.

Sebagian kalangan menerima koreksi dan megubah arah sholat, sebagian tetap dengan keyakinannya yang salah. Fenomena tersebut kalau diruntut runtut, karena pada zaman dahulu di era 1800-an, dakwah tidak berkembang seperti sekarang. Jumlah dai, lembaga pendidikan islam tidak sebanyak sekarang. Di saat kejahilan mereka belum terJawab, mereka keburu hijrah ke tanah yang nyaris tidak ada islam. Belakangan, ada beberapa da’I  dari Indonesia yang berdakwah ke sana.

Kedua, fenomena adzan dengan Bahasa Jawa

Dulu, ada seorang guru yang datang dari Indonesia sekitar 30 tahun yang lalu. Ketika sampai, sang dai menangis saat mendengar adzan yang dikumandangkan dari masjid dengan berbahasa Jawa.

“Allah Moho Ageng.. Allah Moho Ageng..”(terjemah Jawa Allahu akbar… Allahu akbar…)

Saat itu bahkan hingga sekarang, masih didapati beberapa masjid yang adzannya dengan Bahasa Jawa.

Mr Henry menyebut, masih ada lebih dari 50 masjid yang adzan dengan Bahasa Jawa. Namun, belakangan sudah berkurang jumlahnya. Semangat  keislaman mereka belum sebanding dengan ilmu yang mereka miliki dan sedikitnya jumlah da’I yang ada.*/diceritakan Mr Henry Soeharto pada M Adnan Fairuz   (bersambung)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BelandaislamJawaka'bahkiblatSuriname
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aparat Iran Tangkap Pengikut Erfan-e Halgheh
Tulisan selanjutnya KPAI: Perilaku LGBT Bahayakan Tumbuh Kembang Anak

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?