Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Menjemput Hidayah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Februari 2016 07:54 7:54 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Februari 2016 07:54
Bagikan
Kini aku sudah pensiun main gitar dan musik
Bagikan

“Ngapain pulang ?! Pergi sana! Gak usah kembali-kembali lagi!,” Sengat bapak kepadaku dengan muka memerah.

Di lain sisi, Aku hanya bisa terdiam dan menunduk. Namun seperti biasa, nasehat-nasehat/teguran-teguran yang beliau sampaikan kepadaku baik itu dengan cara lembut ataupun kasar semisal hardikan di atas, sama sekali tidak membekas.

Ya, tak ubahnya seperti istilah yang sering diucapkan orang; “Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.” Atau, “Anjing menggonggong kafilah berlari.”

Itulah respon yang alu berikan ketika kedua orang tuaku ataupun siapa saja berusaha menasehatiku untuk menghentikan kebiasaan burukku.

Ya, salah pergaulan telah membuat masa laluku penuh dengan kesia-siaan. Bergaul dengan pemuda-pemuda yang suka hura-hura, membuatku ikut terjerumus ke dunia yang tak semestinya.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Menghabiskan waktu malam di pinggir jalan dengan di temani gitar telah menjadi rutinitas. Terlebih kalau sudah ada konser musik/orkes di suatu tempat, meski jauh akan kami sambangi. Apa lagi kalau bukan bertujuan untuk berhura-hura.

Bergabung dengan komunitas pecinta musik aliran keras, semakin memperosokkan diri ke jurang penistaan.

Keuntunganku waktu itu hanya tidak ikut-ikutan teman untuk menum-minuman serta menghiasi tubuh dengan berbagai gambar (tato), meski sering dipaksa melakukannya.

Dengan pilihan gaya hidup seperti ini, maka sudah bisa ditebak, bagaimana kondisi keagamaanku. Sholat jarang kutegakkan. Mengaji pun terbata-bata.

Padahal, ayahku adalah seorang ustadz. Beliau adalah guru ngaji desa. Beliau lulusan pesantren. Namun jalan hidup yang kutempuh sangat berseberangan dengan prinsip – prinsip yang beliau pegang.

Hingga suatu hari, ada tawaran datang kepada ayah dari seorang sahabatnya untuk mencari pemuda yang berhasrat melanjutkan studinya (kuliah) di salah satu pesantren yang miliki perguruan tinggi. Disampaikan bahwa seluruh biaya akan ditanggung alias gratis, tis.

Singkat cerita, ayah menawariku untuk mengambil kesempatan itu. Terang aku menolak. Ditambah lagi mendengar kalimat ‘pesantren’. Semakin menguatkan keenggananku.

Namun, kalimat terakhir ayah benar-benar membuatku termangu. Sepontanitas seolah aku terhanyut, terbawa ke dalam pikirannya, yang kemudian membuatku tidak berdaya untuk membenarkan dan mengiyakan permintaannya.

“Abdullah,” ucapnya dengan nada lembut, “Coba perhatikan masjid dekat rumah kita itu. Kalau kamu tidak juga mau mengambil kesempatan itu, lalu siapa gerangan kelak yang akan menghidupkan masjid itu.”

“Dan juga perhatikan,” tambahnya, “TPA (Tempat Pembelajaran Al-Qur’an) di sampingnya. Siapa yang akan melanjutkan perjuangan untuk mengajar anak-anak mengaji, kalau kamu juga enggan untuk mengajar mereka.”

Kalimat-kalimat yang beliau sampaikan benar-benar menggugah kesadaranku dengan apa yang terjadi di desaku dan pada diriku.

Soal masjid yang beliau sebutkan itu. Aku faham betul bahwa beliaulah satu-satunya orang yang berupaya menjaga ‘kehidupan’ masjid itu. Acap kali beliau harus azan, sholawatan, iqomah, dan menjadi imam sekaligus sebagai makmumnya seorang diri.

Pun demikian dengan TPA. Selain (juga) berjuang seorang diri untuk mengajar, beliau juga mendapati kenyataan minimnya minat anak-anak untuk belajar mengaji. Celakanya, di antara orang tua juga kurang perhatian tentang hal yang satu ini. Buahnya, hari berganti hari jumlah murid semakin berkurang.

Sedangkan yang terakhir, terkait dengan diriku, akupun menyadari jauhnya idealitas yang diharapkan ayah kepada diriku dengan realitas yang ada. Ini juga menjadi bahan renunganku.

“Akankah aku terus menerus seperti ini?, tanyaku membatin.

Pada kesimpulannya, aku menerima tawaran ayah itu. Aku bersedia masuk pesantren.

Dan Subhanallah. Aku sangat bersyukur bisa masuk pesantren.  Selain mendapat pencerahan tentang ilmu agama, di sanapun aku dapati pola hidup nan islami yang menenangkan jiwa.

Menjaga sholat jamaah, sholat lail, puasa sunnah (Senin dan Kamis) di antara amalan yang senantiasa kami jaga.

Sedikit demi sedikit aku coba melebur segala keburukan yang pernah kukerjakan dan menggantinya dengan amalan-amalan kebaikan. Segala hal yang berbau dengan masa lalu kutinggalkan, tak terkecuali gambar wall paper media sosial (medsos) yang kumiliki.

Dulunya bergambar anak mental yang sekujur tubuhnya di penuhi dengan tato, kini kuganti dengan kalimat agung yang berat timbangannya melebihi berat langit dan bumi serta seisinya, yaitu: Laa ilaaha illaah. 

Juga demikian dengan status-status yang kuunggah. Kini telah berubah total, hanya mengajak untuk kebaikan; “Gunakanlah medsos untuk berdakwah, karena itu juga berpeluang untuk menjadi wasilah orang mendapat hidayah Allah. Dan itu ganjarannya sangat besar.”

Itulah kalimat yang pernah kuterima dari seorang ustadz di pesantren yang kemudian semakin menguatkanku untuk menanggalkan pernak-pernik masa lalu, meski hanya sekedar pajangan di medsos.

Doaku, semoga aku bisa terus istikomah dan diberi kessabaran dalam menapaki jalan ini. Sebab memang tidak mudah bagiku. Batu sandungan masih kerap kudapati, baik itu berupa ejekan hatta makian dari teman-temanku terdahulu.

“Allahumma mushorrifal quluub shorrif  quluubanaa ‘ala tho’atik” (Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu).*/Khairul Hibri, sebagaimana yang dikisahkan Abdullah (nama samaran) kepada penulis.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gitarhidayahmedia sosiaMedosmusikmusik cadaspesantrenustadz
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kritik Gubernur Babil Iraq, Rumah Gadis Berusia 13 Tahun ini Terbakar
Tulisan selanjutnya Saat Ini Umat Islam Dikepung Tiga Fitnah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?