Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Hamid: Islam Moderat Isinya Ya liberalisasi (1)

Bambang S
Terakhir diupdate: 10 Maret 2016 14:39 2:39 pm
Bambang S
Dipublikasikan 10 Maret 2016 14:39
Bagikan
Dr. Hamid Fahmy Zarkasy
Bagikan

UMAT Islam sekarang sedang dilanda westernisasi danliberalisasi dalam pemikiran. Tentu saja gerakan berbahaya ini mesti dilawan. Salah satu tokoh yang gigih melawan itu adalah Hamid Fahmi Zarkasyi, Direktur  INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), sebuah lembaga penelitian dan kajian yang sangat konsen pada pemikiran dan peradaban.

“Pemikiran harus dihadapi dengan pemikiran, tidak bisa dengan demo,” kata Hamid yang juga putra pendiri  Pondok Pesantren Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur ini.

Untuk melawain westernisasi dan liberalisasi  itu, antara lain mendirikan Program Kaderisasi Ulama (PKU) di ISID. Program ini diikuti ulama-ulama muda dari berbagai pesantren dan berlangsung selama 6 bulan. “Tujuannya membekali para ulama muda agar paham soal peradaban Barat dan mampu menangkal virus-virus pemikiran dari Barat yang merusak Islam,” jelas yang menyelesaikan doktornya di di ISTAC (The International Institute of Islamic Thought and Civilization) Malaysia.

Di Gontor pula Hamid mendirikan Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS). Lembaga kajian ini aktif menggelar kajian-kajian dan peneletian, terutama terkait dengan peradaban Islam dan Barat.

Dari sebuah dusun yang bernama Gontor, ayah tiga anak yang kini  juga diberi amanah menjadi Ketua MIUMI tampaknya sedang menggoyang Barat, yang sekarang menghegemoni dunia. Karena aktivitas ini tak jarang ia dituduh anti Barat? Bagaimana sesungguhnya? Ikuti wawancara berikut ini, dikutip dari majalah Suara Hidayatullah

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Anda sangat kritis terhadap Barat. Apa tidak takut dituduh anti Barat?

Memang saya sering dengar tuduhan itu. Orang yang menuduh begitu, kebanyakan tidak memahami Barat. Itu satu. Kedua, mereka kebanyakan pemahaman Islamnya tidak scientific (ilmiah). Ketika saya menjelaskan perbedaan Barat dengan Islam, orang tersebut berkesimpulan begini: mengapa kita harus membeda-bedakan Islam dan Barat, yang pada akhirnya kita akan melakukan pemilahan: kafir atau bukan. Kalau kafir maka layak dibunuh. Inilah, katanya, yang menyebabkan terorisme.

Jawaban Anda?

 Jawaban saya gampang saja. Kita membicarakan Islam dan Barat bukan dalam konteks ideologi, tapi dalam  konteks epistimologi atau ilmu. Tugasnya ilmuwan adalah  membedakan, kalau tidak mampu membedakan bukan ilmuwan namanya.

Membedakan konsep-konsep Islam dan Barat itu wajib bagi kita. Al-Qur`an sendiri julukannya al-furqan, pembeda atau penjelas. Jika kita tak bisa membedakan mana yang Islam dan mana yang tidak, kapan kita beridentitas Muslim. Jika Barat dan Islam sama, kita tak perlu identitas.

Bagaimana sikap Barat sendiri kepada Anda?

Saya tidak tahu. Tapi di sebuah simposium di Tokyo saya sempat berselisih dengan seorang tokoh dari Rand Corporation, lembaga yang memberi resep kepada pemerintah Amerika soal bagaimana menyebarkan Islam moderat. Asal tahu, Islam moderat itu kalau dibuka isinya yaliberalisasi. Dengan seenaknya dia bilang, Islam moderat adalah orang yang mendukung feminisme, kesetaraan gender, demokratisasi, pluralisme, dan anti terorisme. Itu sama dengan mengatakan orang yang tidak mendukung pluralisme sama dengan radikal.

Pendapat itu saya bantah. NU dan Muhammadiyah jelas menentang pluralisme. Tapi tidak berarti dua organisasi itu radikal. Maka saya katakan pada dia, “The majority of Indonesian Moslem are moderate and not radical.”  Mayoritas Muslim di Indonesia moderat dan tidak radikal. Dia tampaknya tidak suka dengan pendapat saya ini. “Kita memang beda,” katanya kemudian. Saya tidak tahu, apa pendapatnya tentang saya.

 Mereka tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap Anda?

Sejauh ini belum ada. Cuma, semua yang kami (INSISTS) lakukan, termasuk tulisan saya, sudah ada di perpustakaan Kongres Amerika. Rupanya di Indonesia ada agennya, yang kerjaannya memantau semua yang kami lakukan.

Apa sisi negatif Barat sehingga Anda begitu kritis?

Barat itu peradaban yang punya karakter sendiri yang  sangat berbeda dengan Islam. Karena itu, kita mesti berhati-hati bila ingin mengambil atau diberi sesuatu dari Barat, sebab bisa jadi sangat bertentangan dengan Islam. Dalam hal ini, kita tidak bisa pakai ukuran baik atau buruk. Sesuatu yang buruk menurut kita, bisa jadi baik  bagi Barat. Contohnya, hidup bersama tanpa nikah. Bagi masyarakat Barat itu baik-baik saja, sejauh tidak mengganggu orang lain dan mereka suka sama suka.

barat dan Islam
Membedakan konsep-konsep Islam dan Barat itu wajib bagi kita. Al-Qur`an sendiri julukannya al-furqan, pembeda atau penjelas

Barat dalam konteks ini bukan persoalan letak geografis, tetapi lebih mencerminkan pandangan hidup atau suatu peradaban. Pandangan  hidup Barat, seperti dijelaskan Hamid di dalam buku Misykat, cirinya adalah scientific worldview (pandangan hidup keilmuan). Artinya, cara pandang terhadap alam ini melulu keilmuan dan tidak lagi religious.

Menurut pandangan Barat, hal-hal yang tidak dapat dibuktikan secara empiris tidak dapat diterima, termasuk metafisika dan teologi.* (Bersambung)

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratislamliberalisasipandangan hiduppemikiranwesternisasiworldview
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Wisatawan Sering Berperilaku Buruk, Spanyol Batasi Penjualan Miras di Mallorca
Tulisan selanjutnya Wapres Ikut Bantu Datangkan Zakir Naik ke Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?