Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Ibnu Thawus dan Racun ‘Pemimpin Kafir Tapi Adil itu Lebih Baik’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 April 2016 08:55 8:55 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 April 2016 08:51
Bagikan
Dalam KItab Al-Adab As-Sulthaniyah wa Ad-Duwal Al-Islamiyah disebutkan, ucapan ini muncul saat panglima bengis Hulagu Khan mengumpulkan ulama dan meminta 'fatwa' agar bisa berkuasa
Bagikan

oleh: Imron Mahmud

 

PEMIMPIN merupakan satu elemen yang sangat penting dalam semua aspek kehidupan. Pemimpin memiliki peranan yang sangat urgen untuk mencapai satu tujuan. Pemimpin juga memiliki peranan yang sangat besar dalam mengarahkan pencapaian suatu tujuan yang diridhai Allah Subhanahu Wata’ala.

Maka, berbicara tentang kepemimpinan tidak bisa lepas dari Islam, karena Islam telah mengatur segala aspek kehidupan termasuk kepemimpinan.

Pihak-pihak yang bermaksud melepaskan kepemimpinan dari Islam adalah orang-orang yang ingin menempatkan Islam hanya sebatas ritual keagamaan yang berada di masjid-masjid yang jauh dari urusan politik, ekonomi, sosial dan aspek kehidupan lainnya.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Berbeda dengan orang yang berpaham sekuler, seorang muslim memilik cara pandang yang tauhidi yang tidak memisahkan antara dunia dan akhirat, antara fisik dengan metafisik. Karena bagi seorang muslim dunia adalah wasilah untuk menggapai kebahagiaan di akhirat.

Bagi kaum muslimin, memilih pemimpin adalah suatu perkara yang sangat vital. Karena baik-buruknya kehidupan mereka di dunia dan di akhirat tidak lepas dari peranan seorang pemimpin.

Oleh karena itu, dengan tegas Allah melarang orang-orang yang beriman untuk mengambil pemimpin dari kalangan orang-orang kafir atau orang-orang munafik. Dalam Surat Ali Imron ayat 28 Allah memperingatkan orang-orang beriman agar jangan menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka;

لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّـهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّـهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّـهِ الْمَصِيرُ ﴿٢٨﴾

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”

Dan Allah menerangkan bahwa mengangkat orang-orang kafir sebagai pemimpin akan mendatangkan laknat dan murka Allah Subhanahu Wata’ala. Dalam Surat Al Maidah ayat 80 Allah berfirman;

تَرَىٰ كَثِيرًا مِّنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنفُسُهُمْ أَن سَخِطَ اللَّـهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ ﴿٨٠﴾

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaanmereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan”.

Bolehkah Kita Memilih Pemimpin Kafir?

Istilah Pemimpin Kafir yang Jujur Lebih Baik adalah Propaganda Berbahaya

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda;

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشدّ بَعْضُه بعضًا

“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya itu bagaikan sebuah bangunan, yang satu menguatkan yang lain.”

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah juga bersabda;

المسلم أخو المسلم: لا يظلمه، ولا يُسْلِمُه

“Seorang muslim itu saudara muslim lainnya, tidak boleh mendhaliminya, dan tidak boleh pula menyerahkannya (kepada musuh).”

Dan para ulama pun telah bersepakat akan haramnya seorang muslim menjadikan pemimpin dari kalangan orang-orang kafir.

Tokoh Syiah

Belum lama ini beredar pernyataan menyesatkan  yang menyebar di masyarakat bahwa ‘pemimpin kafir tapi adil itu lebih baik dari pada pemimpin muslim yang dzalim’. Ironisnya ungkapan ini disandarkan kepada perkataan Sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu.

Sekilas ungkapan ini kelihatan benar, tapi sebenarnya salah dan rancu menurut Islam. Bukankah Islam mengharamkan pemeluknya untuk berlaku dhalim, dan sebaliknya Islam selalu memerintahkan kepada keadilan?

Sama halnya Islam mengharamkan pemeluknya untuk mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang kafir selain orang-orang mukmin.

Dalam sejarah Islam memang ditemukan pemimpin-pemimpin yang dhalim, dan Islam tetap memandang perbuatannya sebagai sebuah kedhaliman. Dan dalam sejarah peradaban manusia banyak juga dijumpai pemimpin-pemimpin kafir dan diantara mereka ada yang adil, tetap saja Islam memandang mereka sebagai orang yang dhalim karena kekafiran mereka. Bukankah kekafiran dan kemusyrikan merupakan kedhaliman yang besar di sisi Allah?

وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Dan orang-orang kafir, mereka adalah orang-orang yang dhalim” (QS: Al-Baqarah : 254)

Ungkapan tersebut tidak lebih dari propaganda  hanya untuk melegitimasi kepemimpinan orang kafir di tengah mayoritas kaum Muslim dan berusaha menggiring opini umat Islam untuk menerima pemimpin dari kalangan non-muslim.

Faktanya, pernyataan itu bukan  ungkapan  Sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib yang dimuliakan.

Yang benar ungkapan diatas adalah pernyataan dari seorang tokoh Syiah bernama Ali Bin Musa Bin Ja’far Bin Thawus atau dikenal Radhiuddin Ali bin Thawus ketika Mongol menguasai Negeri Baghdad tahun 1258 M atau 656 H untuk mencari selamat pemimpin mereka Hulagu Khan.

Sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab Al-Adab As-Sulthaniyah wa Ad-Duwal Al-Islamiyah yang ditulis Ibnu Ath-Thoqthoq, setelah meluluhlantakkan Kota Baghdad dan menenggelamkan kitab-kitab yang dikarang oleh para ulama ke Sungai Dajlah, saat itu pasukan Tatar yang dipimpin panglima kafir yang dikenal bengis Hulagu Khan kemudian mengumpulkan para cerdik pandai dan ulama.

Ketika Pasukan Tartar Mejadikan Buku Para Ulama Sebagai Tempat Penyeberangan

Mongol, Penakluk yang Tertaklukkan

Untuk mencari legitimasi kekuasaan dan demi meraih simpati rakyat Baghdad, Hulagu Khan kemudian bertanya kepada mereka, mana yang lebih baik pemimpin kafir tapi adil atau pemimpin muslim tapi dzalim? Maka dijawablah dengan lantang oleh seorang pemuka ulama Syiah Radhiuddin Ali bin Thawus;

الحاكم  العادل الكافر أفضل على المسلم الجائر، ذلك بأن لنا عدل الكافر العادل عندما يحكم وعليه وزر كفره لوحده بينما لنا ظلم المسلم الجائر إذا حكم، وله لوحده إسلامه الذي يثاب عليه

“Pemimpin kafir yang adil lebih baik daripada pemimpin muslim yang dhalim. Karena keadilan pemimpin kafir untuk rakyatnya dan dosa kekafirannya untuk dirinya sendiri. Sedangkan kedhaliman pemimpin muslim yang dhalim adalah untuk rakyatnya, sedangkan islamnya pahalanya untuk dirinya sendiri.”

Maka, jelaslah ungkapan diatas adalah kedustaan yang diatasnamakan Sahabat Ali bin Abu Thalib dan sebuah propaganda untuk menggiring opini umat Islam agar memilih pemimpin kafir dan bentuk legitimasi dan loyalitas yang diberikan kepada orang-orang kafir untuk menjadi penguasa di negeri muslim.

Seharusnya, ungkapan tersebut lebih layak disandarkan kepada para penjilat kekuasaan daripada disandarkan kepada sahabat Nabi yang mulia, Ali bin Abi Thalib.

Sebab, adalah suatu hal yang sangat mustahil bagi seorang sahabat sekaliber Ali bin Abi Thalib untuk membuat pernyataan yang bertentangan dengan firman Allah;

لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin.” (QS: Ali Imron: 28).

Apalagi para ulama sedunia sepakan urusan pemimpin ini dan tidak ada perselisihan dengannya.

Sebagai Muslim yang baik, seharusnya kita tidak terkecoh kalau ada ungkapan yang hampir mirip dengan yang telah disebutkan diatas. Bahwa seolah-oleh “pemimpin kafir yang jujur lebih baik daripada pemimpin muslim yang korup.”

Kita dituntut cerdas untuk membaca situasi dan kondisi yang tengah dialami oleh bangsa dan negara kita akhir-akhir ini. Sebab dari 200 juta umat Islam, masih banyak kita temukan pemimpin Muslim yang jujur dan tidak korup. InsyaAllah.*

Seorang guru agama, tinggal di Gresik

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ali Bin Musa Bin Ja’far Bin ThawusBaghdadHulagu KhanIbnu Thawuspemimpin kafirpemimpin Muslimsyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Zakir Naik Berharap UMNO dan PAS Saling Bekerja Sama
Tulisan selanjutnya Dituding Tidak Ada Ikan, Nelayan Kirimi Ahok Hasil Tangkapan dari Teluk Jakarta

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Berita
4 Juni 2026 08:06
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?