Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Berhutang Budi kepada Gontor

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Mei 2016 09:41 9:41 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Mei 2016 09:41
Bagikan
Bagikan

Oleh: Fadh Ahmad Arifan

 

“Ya allah jika perguruan yang saya pimpin ini tidak memberi faedah kepada masyarakat, lenyapkanlah dari pandangan mata saya dengan segera,” begitulah doa yang dipanjatkan KH. Imam Zarkasyi. Pendiri Ponpes Modern Gontor bersama kedua kakak kandungnya.

Kiai Zarkasyi bukanlah orang sembarangan. Pendidikan keislamannya diperoleh dari perguruan Thawalib dan Kulliyatul Mualimin al-Islamiyah di Padang yang diasuh oleh Prof Mahmud Yunus. Sepulang dari daratan Minangkabau, beliau terapkan hal hal yang ia lihat di daratan penghasil para Buya itu.

Didirikan Badan Wakaf Pondok Modern Gontor. Tanah wakaf yang dimiliki Gontor luasnya 255.931 Hektar. Dalam hal administrasi perwakafan, Gontor jauh lebih cepat dibandingkan Nahdlatul Ulama. Ormas yang dijuluki sebagai tiTradisionalisti ini baru memiliki hak kepemilikan tanah dari Menteri dalam negeri pada tahun 1986 (Ensiklopedi Ulama Nusantara, hal 424-426).

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Mulai tahun 1936 didirikan juga pendidikan tingkat menengah pertama dan menengah atas yang lazim dikenal dengan “Kulliyatul mualimin al-Islamiyah”. Sistem KMI hampir sama dengan yang pernah ditempuh kiai zarkasyi di Padang. Sepeninggal Trimurti, badan wakaf Gontor menetapkan 3 nama pengganti, KH. Shoiman, KH Abdullah Syukri Zarkasyi dan KH Hasan abdullah Sahal.

Saat 3 tahun pertama berdiri, jumlah santri 300 an, 7 tahun berdiri meningkat 500 orang baik santri putra dan putri. Pernah tersisa 16 santri karena masyarakat sekitar menganggap aneh sistem pembelajaran yang diterapkan kala itu. Tahun 1985 jumlahnya 2.200 dan 1996 melonjak jadi 3200 santri. (Majalah hidayatullah edisi Mei 2006, hal 76-78).

Banyak pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan kiai-kiai Gontor. Sehingga pesantren ini terkenal di Asia tenggara. Alumninya tersebar hingga Thailand, Malaysia dan Australia. Masih lekat dalam ingatan saya, Ibu memakai Gontor sebagai senjata pamungkas. Maksudnya bila saya tidak patuh dan menolak disuruh beli gula maupun rawon di hari minggu, ibu menakut nakuti, “Nggak patuh sama orang tua, minggu depan diberangkatkan ke Gontor”. Pusinglah kepala saya tiap mendengar hal itu. Kalau ayah saya lain, beliau bilang Gontor bercorak modern, nanti kalau dikirim ke sana bisa dijamin bisa bahasa Inggris dan bahasa Arab. Memang benar, rata rata lulusannya menguasai salah satu bahkan dua bahasa asing tersebut.

Usia Pesantren Gontor akan memasuki 90 tahun. Para alumni merayakan dengan sujud syukur. Peringatan 90 tahun Gontor dipusatkan di masjid Istiqlal. Dihadiri 1500 alumni dan tokoh Nasional seperti Dr Hidayat Nurwahid dan Lukman Hakim Saefuddin. Wapres Jusuf Kalla turut diundang juga (CNN Indonesia today 28/5/2016).

Sujud Syukur Bersama Ribuan Santri Pondok Gontor, Wapres: Alhamdulillah!

Saya bukan alumni Gontor, tapi guru, kolega, tetangga depan rumah dan teman kuliah saya adalah alumni Gontor. Ustadz Hamzah Utama, guru saya semasa SD adalah alumni Gontor, kini beliau berkhidmat untuk Ponpes Muhammadiyah al-Munawwaroh. Kemudian, kolega saya Pak Abdul Hamid, Bapak dua anak ini sekarang diamanahi menjadi Manajer di Ayam penyet Surabaya cabang Kota Malang. Tetangga depan rumah saya yakni dr. Muhammad Fauzi yang kini menjadi direktur RS Salsabila Husada di Kabupaten Malang . Begitu juga teman kuliah di Pascasarjana UIN Malang yang bernama Lia Noviana, kini ia menjadi dosen Hukum keluarga Islam di STAIN Ponorogo.

Dekat dengan mereka saya menangkap gambaran santri yang modern, berwawasan dan suka baca. Mereka tidak kolot dan enak diajak diskusi yang berat berat untuk ukuran anak pesantren pada umumnya. Mereka nyambung bila diajak ngobrol tentang Pemikiran Syed Naquib Alatas, Kuntowijoyo, konflik Suriah, ISIS hingga manajemen Franchise/waralaba.

Salah seorang alumni saat saya tanyai apa bedanya menuntut ilmu di Gontor dibanding pondok pesantren lainnya? ia bilang, “Di pondok lain saya merasa diperbudak dan tidak mendapat pencerahan, tetapi saat di Gontor saya diberi pemahaman dan pencerahan. Saya berhutang budi kepada Gontor,” kata alumni yang pernah tergabung dalam Pengurus Aswaja center NU Malang.

Saya bukan alumni Gontor, tapi… tidak menutup kemungkinan bila nanti punya anak, akan saya kirimkan ke Gontor. Wallahu’allam.*

Alumni Pascasarjana UIN Maliki Malang

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Darussalam Kulliyatul Mualimin al-IslamiyahGontorKH. Imam ZarkasyiPondok Pesantren
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Seniman Kristen Yordania Membuat Replika Kubah Al-Shakhrah
Tulisan selanjutnya Ihh… Gemes!

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?