Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Kisah Dua Rekanan: Mukmin dan Kafir (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Mei 2016 20:59 8:59 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Mei 2016 20:59
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

SETELAH keseluruhan uangnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin, si mukmin praktis tidak memiliki apa-apa lagi. Ia pakai gamis dari kain katun dan jubah luar dari kain wol, kemudian ia ambil tali dan ia letakkan di lehernya. Dengan kekuatannya ia kerjakan sesuatu dan gali sesuatu.

Suatu ketika, ia didatangi seorang laki-laki yang kemudian berkata kepadanya, “Hai hamba Allah, maukah kau bekerja padaku dengan gaji bulanan, bulan demi bulan, dengan pekerjaan memberi makan hewan-hewan tungganganku dan menyapu kandangnya?”
Tanpa pikir panjang ia jawab, “Siap.”

Ia pun mempekerjakan diri dengan gaji bulanan, mengurus hewan-hewan tunggangan. Setiap hari si pemilik memeriksa hewan-hewan tunggangannya. Jika ia lihat ada seekor hewan yang kurus, ia langsung berkata kepadanya dengan nada menuduh, “Semalam kau curi gandum pakan hewan ya?”

Melihat perlakuan kasar tersebut, si mukmin merasa tidak tahan dan berkata dalam hati, “Aku datang saja kepada rekanan kerjaku yang kafir dan bekerja di tanahnya. Semoga ia mau memberiku makan hari demi hari dan mengganti dua helai pakaianku ini jika keduanya rusak.”

Ia pun bertolak menuju ke tempat rekanan kafir tersebut. Jelang malam ia akhirnya sampai ke depan pintu rumahnya yang bak istana pencakar langit. Di sekelilingnya berdiri para penjaga pintu, ia pun berkata kepada mereka, “Beritahukan kedatanganku kepada pemilik istana ini. Ia pasti akan senang jika kalian melakukannya.”

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Mereka menjawab, “Langsunglah jika memang Anda berkata benar. Silakan tidur di pojok, dan jika sudah pagi, menghadaplah kepadanya!”

Si mukmin melenggang masuk, lalu ia gelar sebagian kainnya di bawahnya dan sebagiannya lagi di atasnya, kemudian tidur. Pagi harinya, rekanannya datang, dan ia pun segera bersiap menemuinya.

Si rekanan yang kafir keluar rumah dengan menaiki kendaraan, dan begitu melihatnya, ia langsung mengenalinya. Ia pun berdiri di depannya dan menyapanya, sambil menjabat tangannya.

“Bukankah kau sudah mengambil uang seperti yang aku ambil?” tanya rekanan kafir itu kepada si mukmin.

“Ya,” jawab si mukmin.

“Kondisiku begini dan kondisimu begitu?”

“Ya.”

“Ceritakan kepadaku apa yang kau perbuat dengan uangmu!”

“Jangan tanyakan itu kepadaku!”

“Lalu apa keperluanmu datang kemari?”

“Aku datang ingin melamar kerja di tanahmu ini. Cukup kau beri aku makan hari demi hari dan kau belikan aku dua kain ini jika sudah rusak.”

“Tidak, bahkan aku akan berbuat sesuatu yang lebih baik daripada ini denganmu. Tapi kau tidak akan melihat kebaikan dariku sampai kau beritahukan kepadaku apa yang telah kau buat dengan uangmu!”

“Aku meminjamkannya.”

“Kepada siapa?”

“Kepada yang sangat terhormat dan bisa dipercaya,” jawab si mukmin.

“Siapa?”

“Allah, Tuhanku.”

“Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?” tanya si kafir sambil mencabut tangannya dari tangan si mukmin yang menjabatnya, kemudian pergi meninggalkannya.

Melihat si kafir tidak menggubrisnya lagi, si mukmin pun pulang dan meninggalkannya. Selama beberapa lama si mukmin hidup dalam kondisi yang penuh derita, sementara si kafir hidup dalam makmur sentosa.

Ketika hari kiamat tiba dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan si mukmin ke dalam surga, ia pun berjalan-jalan melihat suasana. Sekonyong-konyong ia dapati sebidang tanah, kebun kurma, kebun buah, dan kanal-kanal irigasi. Ia pun bertanya, “Kepunyaan siapa ini?”

Dijawab, “Ini milik Anda.”

Ia menukas, ” Mahasuci Engkau, ya Allah, benarkah berkat amalku aku diberi balasan pahala seperti ini?”

Ia berjalan lagi, dan sekonyong-konyong ia dapati budak yang tak terhitung jumlahnya, maka ia pun bertanya, “Milik siapakah budak-budak ini?”

Dijawab, “Ini milik Anda.”

Ia menukas, ” Mahasuci Engkau, ya Allah, benarkah berkat amalku aku diberi balasan pahala seperti ini?”

Kemudian ia berjalan lagi, dan sekonyong-konyong ia dapati sebuah kubah berongga berwarna merah delima dan di dalamnya ada beberapa orang bidadari. Ia pun bertanya, “Milik siapakah ini?”

Dijawab, “Ini milik Anda.”

Ia menukas, ” Mahasuci Engkau, ya Allah, benarkah berkat amalku aku diberi balasan pahala seperti ini?”

Si mukmin lantas teringat pada rekanannya yang kafir, seraya berkata –mengutip firman Allah:

“Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman, yang berkata: ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?” (Ash-Shaffat: 51-53).

Allah berkenan memperlihatkan rekanannya di tengah-tengah neraka Jahim di antara para penghuni neraka. Ketika melihatnya, si mukmin langsung bisa mengenalinya dan berkata –mengutip firman Allah:

“Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). Maka apakah kita tidak akan mati? Melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar, untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.” (Ash-Shaffat: 56-61).

Si mukmin pun teringat akan penderitaan hidup yang ia lalui. Ia tidak ingat penderitaan yang pernah ia lalui di dunia yang lebih dahsyat daripada kematian.*/Muhammad Khalid Tsabit, dari bukunya Quantum Ridha.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kafirmukmin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kisah Dua Rekanan: Mukmin dan Kafir (1)
Tulisan selanjutnya Pemimpin Ikhwanul Muslimin Divonis Penjara Seumur Hidup

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?