Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Zakat dan Kesalehan Diri

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Juli 2016 10:08 10:08 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Juli 2016 10:08
Bagikan
Bagikan

Oleh: Imam Nawawi

 

AMALAN yang tidak bisa dipisahkan dari rangkaian ibadah Ramadhan adalah menjalankan perintah zakat. Begitu urgensinya amanat zakat dalam kehidupan, Allah Ta’ala merangkaikannya dengan perintah yang nilai baik buruknya seorang Muslim sangat bergantung dari komitmennya dalam mendirikan sholat. Berarti, siapa sholat namun enggan zakat berarti ia telah merelakan kerusakan iman di dalam jiwanya.

Kerusakan iman tidak saja menciderai hubungan diri dengan Tuhan (hablum minallah) tetapi juga mendorong terjadinya  kerusakan keseimbangan hidup umat manusia (hablum minannas). Kesenjangan sosial, nihilnya pemerataan hingga buruknya pranata sosial dalam kehidupan, bahkan pada tahap paling buruk, rusaknya moral dan adab umat.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Abu Bakar Ash-Shiddiq mengambil tindakan tegas terhadap para pembangkang zakat dengan menyatakan perang. Sebab, pada prinsipnya, Muslim yang disiplin mendirikan sholat namun enggan membayar zakat sama saja dengan menolak kebenaran Islam secara mutlak. Dengan kata lain, menunaikan zakat adalah wujud kesalehan diri yang hakiki.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Kesalehan diri tidak akan terwujud tanpa keikhlasan hati menjalankan amanat zakat. Di dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Taubah [9]: 103).

Pada ayat di atas disebutkan bahwa zakat itu membersihkan, mensucikan dan mendatangkan ketenangan jiwa. Membersihkan, sebagian ulama tafsir menjelaskan dengan bersihnya diri dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan terhadap harta benda. Sedangkan mensucikan, zakat itu mampu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati dan memanfaatkan harta benda mereka sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian ketenangan adalah ‘bonus’ yang Allah berikan kepada muzakki (orang yang menunaikan zakat) dengan memerintahkan para amil mendoakan para muzakki.

Hal ini telah diteladankan oleh Rasulullah. “Jika Rasulullah menerima zakat dari suatu kaum, maka beliau mendoakan mereka. Kemudian ayahku menyerahkan zakatnya kepada beiau, maka beliau pun berdoa, “Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada keluarga Abi Aufa.” (HR. Muslim).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibn Hudzaifah, dari ayahnya, dari Nabi, bahwa apabila beliau mendoakan kebaikan untuk seseorang, maka doa itu diperuntukkan bagi orang tersebut, anaknya dan cucunya.

Dengan demikian,  bisa diharapkan dari zakat yang ditunaikan akan turun anugerah dari Allah berupa kebaikan yang bukan saja untuk diri kita, tetapi juga keluarga dan keturunan kita. Pada saat yang sama, zakat telah ikut serta membuktikan kebenaran iman dalam wujud kemaslahatan bagi kehidupan sesama. Mereka yang dalam kekurangan bisa tersantuni, dan mereka yang papa bisa diberdayakan.

Bahkan lebih jauh, bangsa yang dalam keterpurukan bisa bangkit dengan kesadaran zakat kaum Muslimin. Dalam konteks kekinian misalnya, potensi zakat nasional yang mencapai angka Rp 286 triliuntentu sangat signifikan dalam mendukung segala macam bentuk program mensolusikan masalah umat.Inilah keindahan perintah zakat, dimana kesalehan diri terjamin dan kemaslahatan bersama juga bisa diwujudkan secara sekaligus.

Pengembangan SDM

Kesalehan diri yang diwujudkan melalui kesadaran membayar zakat pada akhirnya akan meningkatkan mutu pribadi dan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) secara bersamaan. Kekurangan bahan makanan dan kemiskinan bisa diangkat secara perlahan namun pasti dengan zakat, yang pada akhirnya bukan saja kemiskinan yang dapat diatasi, tetapi merebaknya tindak kriminal, guncangan kemanan dan kericuhan dapat diminimalisir secara signifikan.

Ketika saya berkesempatan mengunjungi sebuah rumah yang masih beralas tanah di Distrik Muting Merauke Papua, zakat benar-benar terasa manfaatnya bagi pengembangan SDM. Dari rumah trans yang sangat sederhana itu, lahir seorang anak yang berkat dana zakat dari para muzakki mengantarkannya menjadi seorang mahasiswa perguruan tinggi jurusan bahasa Arab di Jawa Barat. Sebagian lagi tumbuh menjadi dai dan ikut menggerakkan dakwah di Kota Rusa itu. Suatu keajaiban tentu bagi keluarga dan anak itu sendiri. Demikianlah zakat mengangkat harkat dan derajat sesama, tidak saja menjadikan mereka cerdas dan berdaya, tetapi juga berdaya dukung terhadap estafet pengembangan dakwah di tanah Papua. Menjadikan yang absurd dapat terwujud.

Kondisi tersebut terjadi dimana zakat masih belum dilakukan secara gegap gempita oleh umat Islam. Bisa dibayangkan bagaimana jika seluruh kaum Muslimin di Republik ini dari rakyat hingga pejabat sadar dan berbondong-bondong membayar zakat. Tentu sebuah lompatan sosial, ekonomi dan budaya akan lahir dan menggerakkan kemajuan bangsa dan negara.Jadi, mari tunaikan zakat kita, karena dengan zakat, kebersamaan, kekuatan, dan ketangguhan kaum Muslimin dapat dibuktikan.

Tetapi, catatan terpentingnya adalah, semua itu tidak akan terlaksana jika kesalehan diri masih jauh dari keseharian. Oleh karena itu, mari perbanyak menunduk, melakukan intropeksi diri, siapakah yang paling kita cintai, paling kita harapkan jadi sandaran dalam hidup ini. Jika harta, maka sungguh zakat itu akan dianggap sebagai penghambat. Namun, jika Allah Ta’ala, maka zakat itu adalah thariqat untuk sampai pada kebahagiaan sejati. Kebahagiaan diri terlepas dari penyakit wahn (cinta dunia takut mati).

Saleh itu tidak egois, apalagi merasa akan mendapat surga hanya dengan rajin ibadah tanpa peduli sesama. Perlu kita ingat bahwa pertolongan Allah justru hadir bagi siapa saja yang peduli dan mau membantu sesama. “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Sebaliknya, Allah menolak keimanan seorang Muslim jika dalam hidupnya tidak terbesit sedikit pun niat untuk peduli terhada sesama. “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al Maun: 1-3). Jika zakat dapat menolong anak yatim dan orang miskin, maka siapa yang enggan menunaikannya, maka sungguh tidak ada kesalehan hakiki dalam dirinya. Na’udzubillah.*

Kepala Humas BMH Pusat

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hartakesalehanzakat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Video: Komedian Menaiki Karpet Terbang Jelaskan Ramadhan pada Penduduk Berlin
Tulisan selanjutnya Kapal Turki Pembawa Bantuan untuk Gaza Tiba di Ashdod

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Berita
18 Juli 2026 09:49
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Terbaru

  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?