Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Antara Merdeka dan Hijrah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Agustus 2023 20:24 8:24 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Agustus 2023 20:24
Bagikan
Negara Pertama Kemerdekaan Indonesia
Dok. (Istimewa)
Bagikan

Kemerdekaan pernah diperjuangkan oleh Rasulullah ﷺ lewat sebuah fase yang harus beliau lalui. Fase itu bernama “hijrah”

Oleh: Mahladi Murni

Hidayatullah.com | MERDEKA artinya bebas dari penghambaan, pengekangan, dan penjajahan. Lawannya adalah terjajah atau terkekang.

Tidak merdeka tentu saja tidak enak. Orang yang kemerdekaannya dirampas, tak akan bisa bebas melakukan banyak hal, tak bisa melakukan apa yang ia yakini, tak bisa juga mendapatkan apa yang ia sukai.

Dulu, bangsa Indonesia terjajah. Ketika itu kita tak bisa mengatur negeri kita sendiri. Kita tak leluasa bergerak.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Bahkan, sekadar bersuara pun, kita tak boleh. Moncong senjata Kompeni akan langsung diarahkan ke kita agar kita diam. Saat itu kita tak berdaulat.

Lalu para pejuang tampil ke depan. Mereka melawan dengan senjata seadanya.

Jika ada bambu runcing, maka senjata itulah yang mereka pakai untuk tampil ke gelanggang perang. Mereka tak ingin bangsanya dijajah.

“Kami cinta perdamaian, tapi lebih mencintai kemerdekaan.” Begitulah kata Panglima Besar Jendral Soedirman ketika itu.

Sejumlah wilayah di Indonesia berhasil dibebaskan dari penjajah walau sesaat. Sebutlah, misalnya, Yogyakarta.

Pertempuran sengit antara para pejuang Republik Indonesia dengan tentara Belanda yang dikenal dengan sebutan Serangan Umum 1 Maret (1949), berhasil mengusir penjajah dari wilayah itu.

Begitu juga di Surabaya. Takbir yang diteriakkan Bung Tomo mampu memompa semangat masyarakat Surabaya dan sekitarnya untuk melawan penjajah Inggris yang ketika itu hendak merebut kembali Indonesia. Bumi Surabaya berguncang. Para penjajah akhirnya bisa  diusir dari tanah Surabaya.

Penjajahan pernah pula dialami oleh Rasulullah ﷺ bersama kaum Muslim yang mengikuti beliau. Ketika Rasulullah ﷺ mulai berdakwah secara terang-terangan di Makkah, maka sejak itu pula gangguang datang bertubi-tubi.

Baginda ﷺ mengalami penyiksaan demi penyiksaan harus dialami kaum Muslim yang mempertahankan keyakinannya.

Bilal bin Rabah, salah seorang budak berkulit kelam yang kemudian menjadi sahabat terbaik Rasulullah ﷺ, disiksa oleh majikannya sendiri. Ia dijemur di tengah gurun pasir yang panas selama berhari-hari.

Perut Bilall ditindih batu besar dan lehernya diikat tali.  Begitu juga keluarga Yasir, budak dari Bani Makhzum.

Dalam sejarah Islam, keluarga Yasir adalah contoh kaum lemah yang amat sabar menerima segala siksaan dari kaum kafir Quraisy.

Rasulullah ﷺ pernah melintas di depan keluarga Yasir yang sedang disiksa. Beliau ketika itu tak kuasa membantu keluarga itu.

Beliau hanya bisa berkata kepada keluarga Yasir, sebagaimana dikisahkan oleh Ahmad dalam al-Musnad dan Hakim al-Naisaburi dalam al-Mustadrak, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”

Ketika itu, Rasulullah ﷺ tidak berusaha melawan. Bahkan, ketika jumlah kaum Muslim perlahan-lahan mulai membanyak, dan sejumlah tokoh berpengaruh juga ikut menjadi Muslim, Rasulullah ﷺ tetap tak mau melawan.

Mengapa? Karena perintah untuk berperang dari Allah Ta’ala ketika itu memang belum turun.

Bahkan, ketika kaum kafir Quraisy hampir kewalahan memadamkan dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah, mereka sempat menawarkan kepada beliau kekuasaan, sesuatu yang seharusnya bisa menjadi modal utama untuk merdeka. Bahkan, bukan sekadar kekuasaan, juga harta yang banyak.

Tersebutlah dalam sejarah, sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Ishaq, bahwa pada suatu hari salah seorang pemuka Quraisy, Utbah bin Rabi’ah, yang juga terbilang paman bagi Rasulullah ﷺ, menghampiri Rasulullah ﷺ yang sedang duduk di Masjidil Haram sendirian.

Utbah berkata, “Wahai anak saudaraku, engkau termasuk golongan kami. Dari segi keluarga dan keturunan, aku juga tahu kedudukanmu. Engkau telah membawa satu urusan yang besar kepada kaummu, yang dengan urusan itu engkau memecah belah persatuan mereka, memupuskan harapan mereka, mencela sesembahan mereka, dan mengingkari golongan leluhur mereka. Sekarang dengarkanlah, aku akan menawarkan beberapa hal kepadamu dan engkau bisa memeriksanya, siapa tahu engkau mau menerima sebagian di antaranya.”

Rasulullah ﷺ menjawab, ”Katakanlah Utbah, biar kudengarkan.”

”Wahai anak saudaraku, jika engkau menginginkan harta kekayaan sebagai pengganti apa yang engkau bawa ini (Islam), maka kami siap menghimpun harta kami untukmu. Jika engkau ingin kedudukan, maka kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin kami. Jika engkau ingin kerajaan, maka kami siap mengangkatmu sebagai raja kami.”

Rasulullah ﷺ kontan menolak semua yang ditawarkan Utbah. Namun, kaum Quraisy belum berputus-asa. Beberapa tawaran lain mereka sodorkan kepada Rasulullah, di antaranya kaum kafir Quraisy siap meninggalkan sebagian dari apa yang ada pada diri mereka, dan begitu pula Rasulullah ﷺ, mereka minta untuk meninggalkan sebagian dari Islam.

Tawaran ini digambarkan dalam al-Qur’an surat Al-Qalam [68] ayat 9:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak maka mereka bersikap lunak (pula).”

Lagi-lagi Rasulullah ﷺ menolak tawaran ini. Bahkan, setelah berkali-kali kaum kafir Quraisy memberi tawaran, Rasulullah ﷺ pun membuat pernyataan tegas kepada Utbah, “Wahai Paman, Demi Allah, kalaupun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (menyampaikan risalah) sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa, pastilah tidak akan aku meninggalkannya.”

Begitulah keteguhan Rasulullah ﷺ. Rupanya, kemerdekaan yang diinginkan Rasulullah ﷺ bukanlah kemerdekaan yang diberikan dengan syarat.

Tak ada gunanya merdeka tapi tidak berdaulat.  Kemerdekaan yang diinginkan Rasulullah ﷺ adalah kemerdekaan yang benar-benar merdeka.

Dan, kemerdekaan seperti itu harus diperjuangkan oleh Rasulullah ﷺ lewat sebuah fase yang harus beliau lalui. Fase itu bernama “hijrah”.

Lalu, atas petunjuk Allah Ta’ala, Rasulullah ﷺ dan kaum Muslim di Makkah pergi ke Madinah secara bergelombang dan diam-diam. Mereka hijrah ke Madinah bukan karena takut, bukan pula karena menyerah kalah. Ini semua karena petunjuk Ilahi.

Pada saatnya, mereka akan pulang untuk memerdekakan tanah airnya dari kejahiliahan. Memang benar! Delapan tahun kemudian, atau tahun ke-8 hijriah, Makkah berhasil dibebaskan oleh kaum Muslim tanpa darah tertumpah.

Saat itu, Rasulullah ﷺ berpidato dengan mengutip surat al-Hujarat [49] ayat 13.

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَأُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا  ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقٰىكُمْ  ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Mari kita isi kemerdekaan Bangsa Indonesia yang telah diproklamasikan sejak 79 tahun yang lalu ini dengan terus berjuang, sehingga kita bisa menjadi negara yang merdeka dan berdaulat, bukan negara yang tergantung kepada pihak lain. Wallahu a’lam. *

Penulis adalah wartawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinehijrahmerdeka
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hidayatullah Surabaya Gelar Forum Pemuda ASEAN
Tulisan selanjutnya Psikiater Stanford Menelusuri Kembali Sejarah Perawatan Kesehatan Mental dalam Tradisi Islam untuk Penyembuhan Holistik

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura

Berita
30 Agustus 2026 10:37
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?