Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Mengikis Hidup 24 Tahun

Ahmad
Terakhir diupdate: 4 Januari 2025 16:44 4:44 pm
Ahmad
Dipublikasikan 4 Januari 2025 11:00
Bagikan
Bagikan

Kita semua ingin hidup sehat, bukan sekadar menjadi statistik dalam laporan tahunan badan kesehatan dunia. Inilah catatan Cak AT

oleh: Ahmadie Thaha

Hidayatullah.com | KEPONAKAN saya, anak semata wayang, belum lama menemukan keindahan dunia usaha. Namun, harapan itu patah — secara harfiah. Suatu pagi, saat menarik pintu rumahnya, tubuhnya ambruk. Bukan karena ada jeritan “maling!”, melainkan karena tulangnya tiba-tiba seperti kerupuk yang direndam teh hangat.

Rumah sakit di Jakarta menyerah mendiagnosis, hingga Malaysia menjadi pelabuhan terakhir. Di sana, alat diagnosa mendeteksi bahwa darahnya “memakan” tulangnya, seperti air garam menggerus baja. Akhirnya, engsel tulang selangkangannya diganti dengan buatan sepanjang 20 cm.

Cerita ini menjadi pembuka yang memilukan, tetapi juga menjadi pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Baca Juga

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Di Bawah Teduh Tauhid Rahamutiyah: Sebuah Obituari
Tragedi San Diego & Hipokrisi Barat
Tolak Penyembelihan Dam Haji di Indonesia, Begini Fatwa MUI
Mengelola Ikhtilaf: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Salah satu dugaan kuat hasil diagnosa, kerapuhan itu dampak dari vaksin Covid-19. Sebuah dugaan yang, meskipun kontroversial, kian mendapatkan perhatian berkat sederet fakta mencengangkan.

Narasi fakta seolah sulit ditelan. Pernahkah Anda mendengar bahwa vaksin mRNA bisa memperpendek usia manusia? Sebuah laporan dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention) yang diungkapkan oleh Dr. Robert Malone, penemu teknologi mRNA, menyebutkan bahwa: “Vaksin Covid-19 dapat mengurangi harapan hidup hingga 24 tahun.”

Seperti keponakan yang tulangnya keropos, dampaknya juga diam-diam. Menurut data dari Cleveland Clinic, semakin banyak dosis vaksin yang diambil, semakin rentan tubuh terhadap infeksi Covid-19.

Sebagai contoh, di tahun 2022, orang dengan tiga dosis vaksin 35 kali lebih mungkin terinfeksi Covid-19 dibandingkan mereka yang tidak divaksin. Lebih dari itu, angka kematian meningkat 7% per dosis setiap tahunnya.

Ini bukan angka sembarangan; ini adalah statistik yang dihasilkan dari data besar. Vaksin, yang semula dianggap sebagai penyelamat, kini berubah menjadi antagonis dalam drama kesehatan global.

Jika hidup adalah panggung teater, vaksin Covid-19 adalah aktor antagonis yang memenangkan peran utama. Dengan janji “perlindungan”, ia justru membawa kita ke era baru imunodefisiensi buatan, atau dalam bahasa satiris: “AIDS versi farmasi.”

Seperti kisah keponakan saya, banyak yang merasa tubuh mereka telah “diupdate” seperti aplikasi ponsel —sayangnya, hasilnya adalah bug besar.

Bayangkan jika vaksin ini dijual seperti produk di e-commerce. Deskripsinya mungkin akan berbunyi: “Vaksin anti-Covid, meningkatkan kemungkinan tertular hingga 35x, bonus risiko kanker, dan pengurangan harapan hidup hingga 24 tahun. Stok terbatas, beli sekarang!” Ironisnya, orang tetap saja membelinya karena “ini perintah.”

Kisah keponakan saya adalah pengingat bahwa kita hidup di zaman di mana fakta dan fiksi sering bercampur aduk. Apakah benar vaksin menyebabkan tulangnya rapuh? Atau ini hanyalah kebetulan medis yang tragis?

Fakta-fakta dari CDC, Cleveland Clinic, dan berbagai studi lainnya memang menunjukkan korelasi yang mengerikan. Namun, seperti kata pepatah, “korelasi tidak selalu berarti kausalitas.”

Tapi, di mana kita menarik batas antara kehati-hatian dan paranoia? Jika vaksin benar-benar memiliki dampak sebesar ini, mengapa pemerintah global tidak segera menghentikan programnya? Apakah ini murni konspirasi, ataukah hanya ketidaktahuan yang merajalela?

Keponakan saya mungkin hanyalah satu dari sekian banyak korban “eksperimen global” ini. Cerita tentang tulang rapuhnya mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, tetapi ia adalah cermin dari kebingungan dunia tentang vaksinasi.

Di tengah klaim-klaim yang membingungkan, satu hal yang pasti: kita butuh lebih banyak transparansi, lebih banyak data, dan lebih banyak keberanian untuk mengakui kesalahan jika memang ada.

Karena pada akhirnya, kita semua ingin hidup sehat, bukan sekadar menjadi statistik dalam laporan tahunan badan kesehatan dunia. Dan tentu saja, kita ingin melihat orang seperti keponakan saya menari lagi, kali ini bukan tarian patah tulang, tetapi tarian kemenangan atas tragedi.*/Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 4/1/2025

Penulis seorang wartawan senior

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ahmadie Thahaidup sehatKolom
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pernah di CIA, Editor BBC Ini Berperan Tutupi Kejahatan Genosida ‘Israel’ di Gaza
Tulisan selanjutnya Populasi Paris Menurun Gegara Biaya Sewa Rumah Mahal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaGhazwul Fikr

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!

6 Mei 2026 12:55
Pustaka

Menuangkan Ide Melalui Novel: Telaah Karya Abbas Aqqad, Malek Bennabi dan Hamka

4 Mei 2026 11:13
Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Pustaka

Telaah Buku Dr. Raghib As-Sirjani: Syi’ah dalam Timbangan Sejarah dan Aqidah

22 April 2026 22:47
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?