Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Mengikis Hidup 24 Tahun

Ahmad
Terakhir diupdate: 4 Januari 2025 16:44 4:44 pm
Ahmad
Dipublikasikan 4 Januari 2025 11:00
Bagikan
Bagikan

Kita semua ingin hidup sehat, bukan sekadar menjadi statistik dalam laporan tahunan badan kesehatan dunia. Inilah catatan Cak AT

oleh: Ahmadie Thaha

Hidayatullah.com | KEPONAKAN saya, anak semata wayang, belum lama menemukan keindahan dunia usaha. Namun, harapan itu patah — secara harfiah. Suatu pagi, saat menarik pintu rumahnya, tubuhnya ambruk. Bukan karena ada jeritan “maling!”, melainkan karena tulangnya tiba-tiba seperti kerupuk yang direndam teh hangat.

Rumah sakit di Jakarta menyerah mendiagnosis, hingga Malaysia menjadi pelabuhan terakhir. Di sana, alat diagnosa mendeteksi bahwa darahnya “memakan” tulangnya, seperti air garam menggerus baja. Akhirnya, engsel tulang selangkangannya diganti dengan buatan sepanjang 20 cm.

Cerita ini menjadi pembuka yang memilukan, tetapi juga menjadi pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Baca Juga

Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin

Salah satu dugaan kuat hasil diagnosa, kerapuhan itu dampak dari vaksin Covid-19. Sebuah dugaan yang, meskipun kontroversial, kian mendapatkan perhatian berkat sederet fakta mencengangkan.

Narasi fakta seolah sulit ditelan. Pernahkah Anda mendengar bahwa vaksin mRNA bisa memperpendek usia manusia? Sebuah laporan dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention) yang diungkapkan oleh Dr. Robert Malone, penemu teknologi mRNA, menyebutkan bahwa: “Vaksin Covid-19 dapat mengurangi harapan hidup hingga 24 tahun.”

Seperti keponakan yang tulangnya keropos, dampaknya juga diam-diam. Menurut data dari Cleveland Clinic, semakin banyak dosis vaksin yang diambil, semakin rentan tubuh terhadap infeksi Covid-19.

Sebagai contoh, di tahun 2022, orang dengan tiga dosis vaksin 35 kali lebih mungkin terinfeksi Covid-19 dibandingkan mereka yang tidak divaksin. Lebih dari itu, angka kematian meningkat 7% per dosis setiap tahunnya.

Ini bukan angka sembarangan; ini adalah statistik yang dihasilkan dari data besar. Vaksin, yang semula dianggap sebagai penyelamat, kini berubah menjadi antagonis dalam drama kesehatan global.

Jika hidup adalah panggung teater, vaksin Covid-19 adalah aktor antagonis yang memenangkan peran utama. Dengan janji “perlindungan”, ia justru membawa kita ke era baru imunodefisiensi buatan, atau dalam bahasa satiris: “AIDS versi farmasi.”

Seperti kisah keponakan saya, banyak yang merasa tubuh mereka telah “diupdate” seperti aplikasi ponsel —sayangnya, hasilnya adalah bug besar.

Bayangkan jika vaksin ini dijual seperti produk di e-commerce. Deskripsinya mungkin akan berbunyi: “Vaksin anti-Covid, meningkatkan kemungkinan tertular hingga 35x, bonus risiko kanker, dan pengurangan harapan hidup hingga 24 tahun. Stok terbatas, beli sekarang!” Ironisnya, orang tetap saja membelinya karena “ini perintah.”

Kisah keponakan saya adalah pengingat bahwa kita hidup di zaman di mana fakta dan fiksi sering bercampur aduk. Apakah benar vaksin menyebabkan tulangnya rapuh? Atau ini hanyalah kebetulan medis yang tragis?

Fakta-fakta dari CDC, Cleveland Clinic, dan berbagai studi lainnya memang menunjukkan korelasi yang mengerikan. Namun, seperti kata pepatah, “korelasi tidak selalu berarti kausalitas.”

Tapi, di mana kita menarik batas antara kehati-hatian dan paranoia? Jika vaksin benar-benar memiliki dampak sebesar ini, mengapa pemerintah global tidak segera menghentikan programnya? Apakah ini murni konspirasi, ataukah hanya ketidaktahuan yang merajalela?

Keponakan saya mungkin hanyalah satu dari sekian banyak korban “eksperimen global” ini. Cerita tentang tulang rapuhnya mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, tetapi ia adalah cermin dari kebingungan dunia tentang vaksinasi.

Di tengah klaim-klaim yang membingungkan, satu hal yang pasti: kita butuh lebih banyak transparansi, lebih banyak data, dan lebih banyak keberanian untuk mengakui kesalahan jika memang ada.

Karena pada akhirnya, kita semua ingin hidup sehat, bukan sekadar menjadi statistik dalam laporan tahunan badan kesehatan dunia. Dan tentu saja, kita ingin melihat orang seperti keponakan saya menari lagi, kali ini bukan tarian patah tulang, tetapi tarian kemenangan atas tragedi.*/Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 4/1/2025

Penulis seorang wartawan senior

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ahmadie Thahaidup sehatKolom
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pernah di CIA, Editor BBC Ini Berperan Tutupi Kejahatan Genosida ‘Israel’ di Gaza
Tulisan selanjutnya Populasi Paris Menurun Gegara Biaya Sewa Rumah Mahal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Berita
18 Juli 2026 10:12
Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
  • Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

2 Juli 2026 12:14
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?