Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Anomali Tren Pemikiran “Humanis” Masyarakat Modern

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Oktober 2015 08:51 8:51 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Oktober 2015 09:20
Bagikan
ABG kita rela antri beli tiker konser Justin Bieber antri hingga 1 KM
Bagikan

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

Globalisasi dan modernisasi pada masa ini merupakan realitas yang tidak bisa dihindari. Namun kata Anthony Giddens, globalisasi lebih dari sekedar pengenalan budaya Barat ke seluruh dunia.

Globalisasi katanya merupakan proses tidak seimbang, bermuatan arogansi dimana budaya lain tidak ada (Anthony Giddens, Konsekuensi-Konsekuensi Modernitas, hal. 232).

Giddens menyimpulkan seperti itu karena melihat fakta modernitas telah menjadi gaya hidup (life style) manusia. Kita di Indonesia, juga ikut-ikutan life style dari Barat ini. Pada level yang sederhana, masyarakat lebih menyukai memakai celana dan kaos oblong daripada sarung. Istilah ‘kaum sarungan’ pelan-pelan dipersepsikan sebagai komunitas masyarakat pedesaan, tidak modern dan lain-sebagainya. Orang Jawa lebih pede memakai topi koboi dari pada blankon jika keluar belanja.

Karena tren yang pantas dipakai zaman ini adalah topi bukan blankon. Padahal, sebetulnya orang memakai blankon tidak mengurangi kecerdasan. Muslim yang memakai sarung tidak menjadikan dia miskin.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Persoalannya bukan pada soal tren mode pakaian modern itu, tapi logika berpikir, cara menyikapi sesuatu dan gaya berperilaku ala modernism. Richard Rorty dan Gianni Vattimo dalam The Future of Religion membuat tesis, masyarakat modern atau pasca modern itu agamanya non-theism. Dalam tataran praktik, masyarakat dianggap sudah ‘beragama’ jika perilakunya humanis, meskipun mencela Tuhan.

Anthony Giddens menulis modernitas dan globalisasi itu bagaikan panser penghancur dengan budaya kolonialnya. Mau jadi modern harus humanis. Menjadi humanis tidak harus taat Tuhan. Di masyarakat Muslim Indonesia sudah jamak dijumpai orang yang ikut-ikutan modern dengan membela-bela ‘kemanusiaan’ itu meskipun tidak religius.

Masyarakat kita — melalui corong-corong media — dididik untuk menjadi masyarakat yang humanis, tapi kurang edukasinya tentang agama. Jika jargon ‘kemanusiaa’ diangkat, maka menjadi daya tarik setiap elemen negara. Tapi jika agama yang diangkat, maka sepi respon dari masyarakat. Seakan-akan hari ini agama (Islam) itu tidak humanis. Dan yang humanis sudah pasti sholeh, religius dan baik. Islam dan humanis seperti dipertentangkan. Inilah tren masyarakat hari ini.

Akibat mindset global ini, apapun perisitwanya, yang salah adalah agama (Islam). Masjid dibakar, Muslim yang tidak tepat bersikap. Gereja dirobohkan, Muslim yang salah. Sementara masyarakat awamnya hanya berpikir sederhana, minoritas tidak punya kekuatan itu kasihan sekali, dibakar, tidak boleh berdakwah dan lain sebagainya. Yang Muslim ikut-ikutan, orang-orang Islam itu keras, radikal dan tidak humanis.

Padahal, minoritas di sini bersifat lokal. Secara global, mereka mayoritas dengan dukungan negara-negara kapitalis. Yang Muslim mayoritas secara lokal, tapi minoritas secara global. Padahal, di era modern cara melihatnya secara global. “Think globally”, berpikir secara global.

Jika masyarakat Indonesia mau berpikir secara lokal, maka mestinya mengangkat kemanusiaan itu dengan mengikuti konstitusi lokal. Isu agama ini sangat sensitif di masyarakat kita. Jika negara tidak mengatur, dipastikan terjadi chaos.

Persoalan krusial Islam di Indonesia adalah Islam atau Muslim dituduh melakukan kekerasan terhadapa kaum minoritas. Media-media Islam terlalu provokatif jika memberitakan ada oknum-oknum beragama Islam. Kekerasan lain dimana kaum Muslim menjadi korbannya sepi diberitakan. Ini akibat terlalu menyorot dan melihat kekerasan fisik.

Menyembah dan pergi ke tempat ibadah memang hak dasar setiap manusia beragama. Namun, supaya hak dasar dicukupi secara tertib, harus ada aturan dan konsitutsi yang menertibkan.

Bayangkan jika tidak ada konstitusi yang menertibkan, umat beragama akan berlomba-lomba secara liar mendirikan tempat ibadah.

Kita mau mengambil uang di Bank adalah hak kita. Tapi dengan antre, pengambilan uang itu menjadi tertib. Hidup ini bukan sekedar bebas memenuhi hak dasar kemanusiaan, tapi juga bagaimana hidup ini tertib dan teratur.

Beda manusia dengan hewan itu adalah hewan, tidak menyukai ketertiban untuk memenuhi hak dasar. Sementara manusia yang punya akal dan hati mengambil hak dasarnya secara tertib. Ayam jika diberi makan akan berebut, bahkan kalau perlu bertarung dengan sesamanya. Manusia punya budaya antre untuk mengambil makanan. Kita ini manusia bukan ayam. Apalagi kita ini adalah manusia yang religius.

Maka, cukup aneh rasanya ada usulan mencabut peraturan pendirian tempat ibadah dengan alasan ‘demi kemanusiaan’, ‘demi memenuhi hak dasar manusia’. Kita akan kembali kebada tradisi hewani, meninggalkan budaya manusiawi.

Masyarakat Indonesia juga sudah banyak yang ikut-ikutan ‘modernis ala Barat’. “Sudahlah, itu urusan agama. Sama-sama baik. Yang penting berlomba melakukan kebaikan membangun bangsa”. Banyak kita jumpai Muslim awam yang nyerempet-nyerempet pada pluralism begini. Kita ini terlalu lama dan terlalu banyak dihegemoni modernitas Barat. Sehingga hal-hal seperti ini terkadang dianggap biasa-biasa saja, menjadi trend dan tidak aneh.

Sudah saatnya nilai humanis itu dibangun berdasarkan agama dan nilai ketuhanan. Dalam dakwah, umat Islam di Indonesia perlu memperhatikan dua hal; fikih dakwah dan fikih ahkam. Fikih dakwah, meliputi metode menyampaikan. Seperti dicontohkan para dai walisongo menggunakan cara-cara damai dan kreatif. Namun, mereka juga menerapkan fikih ahkam. Yakni memperhatikan mana yang furu dan ushul. Sehingga dakwahnya tidak menyesatkan.

Hukum Islam itu sangat manusiawi. Tujuan syari’at dalam menetapkan hukum itu ada lima; yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta (Imam al-Ghazali, Al Mustashfa, hal. 275). Pada intinya, syari’at bertujuan menghindarkan manusia dari segala hal yang merusakkan. Merusak jiwa, harta, keturunan, akal dan agama.

Hukum Islam adalah petunjuk jalan kebenaran, bukan tali yang mengikat ruang gerak manusia. Syari’ah semuanya bersifat adil, semuanya rahmat, maslahat dan berhikmah. Ketika timbul benih-benih yang memantik kerusakan maka kesalahan itu bukan terletak pada teks syari’ah tapi pada pemahaman yang salah terhadap teks (nash).

Syari’at itu secara konstan dibangun di atas konsep tauhid, bukan humanisme. Tapi syari’ah dan tauhid itu tidak berarti tidak ‘humanis’. Justru tauhid yang benar – seperti kata Isma’i Raji al-Faruqi – mengimplikasikan kepada sikap beradab dan berakhlak dalam setiap aspek kehidupan. Seperti, adab kepada sains, seni, ekonomi, diri, dan masyarakat secara umum (ummah).

Maka, semestinya, seorang muslim bertauhid itu humanis. Dan seorang humanis harus bertauhid, tidak sekular. Sebab, menurut al-Faruqi, Islam tidak mengenal predikat ‘religius-sekular’, karena seorang religius pada saat yang sama menjadi sekular, baginya, tidak mungkin (Isma’i Raji al-Faruqi, Tauhid, 62).

Penulis adalah peneliti InPAS (Institut Pemikiran dan Peradaban Islam) Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anomalibaratgaya hiduphumanisLife Stylemodern
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Uskup Rusia Berkati Misil Sebelum Serang Kelompok Oposisi Suriah
Tulisan selanjutnya Serangan Bom Molotov terhadap Bus dan Pangkalan Tentara Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?