Oleh: Sana Al Yemen
SETELAH kejadian di Paris lalu, aku terbangun dan menemukan banyak teman-temanku yang jelas-jelas Muslim menyuarakan kekhawatiran mereka lewat sosial media.
Banyak dari para hijaber peminum Starbucks, pengguna kereta bawah tanah London, pengambil selfie, kelahiran Inggris ini merasa sebagai orang asing dan tidak diterima oleh tempat yang kini mereka sebut rumah. Seperti seorang teman dekat katakana secara pedas: “Keluargaku berasal dari Iraq, tapi aku hanya pernah tinggal di sana dua minggu. Bagaimana bisa itu kusebut rumah?”
Namun, tempat ini yang kami sebut rumah mendadak berubah menjadi 300% lebih tidak nyaman, seperti sebuah laporan sebutkan. Dengan meningkatnya kejahatan anti-Muslim yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, tidak mengejutkan bahwa aku mendengar kotoran dioleskan di pintu depan tempat ibadah kami atau melihat seorang wanita Muslim diincar, diserang, bahkan dengan sengaja didorong ke arah kereta yang berjalan.
Tidak mengejutkan pula untuk mendengar sebutan-sebutan kasar ditujukan kepada kami, atau mereka merasa perlu untuk tidak menghormati orang tua kami dan melempar alat bantu jalan mereka keluar bis, seperti tidak cukup bagi mereka untuk meluncurkan semburan penghinaan verbal dan penganiyayaan Islamophobic. Pada kenyataannya, sangat normal bagi kami untuk dipanggil ISIS bitches (perempuan jalang ISIS) dan para wanita yang jelas-jelas sedang hamil ditakut-takuti dengan tendangan ke arah perut.
Kasus-kasus yang kusebutkan bukan barang baru atau mengejutkan bagi komunitas Muslim di Barat. Kami menghadapi perlakuan kejam yang sama dan kami mengalami sendiri tatapan tidak ramah dari sesama penduduk setiap kali sekelompok teroris menggunakan agama kami untuk meledakkan sesuatu atau mengambil nyawa orang-orang tidak bersalah.
Hal-hal yang sama juga terjadi saat serangan Boston Marathon, saat Lee Rigby dibunuh secara kejam oleh seorang teroris bersenjatakan machete (sejenis golok) di Woolwich, saat ISIS memenggal korban bule pertama mereka pada 2014, saat bom London pada 2005 dan tentu saja, ibu dari semua kejadian tersebut: saat runtuhnya World Trade Centre pada 2001 menghancurkan dunia.
Sebagai seorang seniman Muslim, aku berusaha mengantarkan pesan kepada dunia Barat. Puisiku, Dear West tidak ditulis sebagai respon kepada serangan Paris seperti kebanyakan kritikus kira. Ini adalah jawaban terhadap sentimen Barat yang datang setelah peristiwa-peristiwa yang kusebutkan.
Ini termasuk jari-jari yang ditudingkan oleh kolega-kolega dan tetangga-tetangga kami, pandangan-pandangan menakutkan yang diberikan oleh sesama penumpang transportasi umum, dan tentu saja headline media yang memberikan atmosfer yang menyulitkan kami. Ini termasuk saran-saran konyol dari pers-pers nasional yang menyarankan kami yang berjumlah jutaan berkumpul dan berkonvoi di Trafalgar Square untuk menunjukkan betapa kami sangat mengutuk terorisme dan hasutan palsu bahwa satu dari lima anggota keluargaku bersimpati kepada para ‘pelaku jihad’ tersebut.
Banyak orang menuduhku bersimpati atau memihak issue utama: para teroris ini menyatakan diri mereka Muslim dan oleh karena itu tanggung jawab komunitas Muslim untuk berdiri melawan mereka dan bukannya Barat.
Aku akan berkata kepada para komentator-komentator bahwa aku merasa memang penting mengirim pesan ini kepada ISIS sebelum aku mengutarakan pesan kepada Barat. Tapi apakah itu akan merubah pandanganmu kepadaku?
Sementara aku paham bahwa Barat perlu merasa tenang, tapi mengapa aku harus menyalahkan segala serangan yang terjadi? Apakah aku terlibat pada serangan tersebut? Apakah ayahku yang melakukan serangan di Paris malam itu? Apakah ibuku memberikan hasutan-hasutan tentang kekerasan dari rumah kami di London? Jawaban singkatnya tentu, tidak. Jadi kenapa aku dipaksa harus menyalahkan aksi-aksi dari kelompok bodoh yang percaya bahwa Tuhan Yang Maha Esa yang kami sembah akan membuka gerbang surganya selama mereka menunjukkan darah para korban tidak bersalah yang ada di tangan mereka.
Kami sebagai komunitas Muslim, merasa muak dan lelah karena selalu disidang setiap kali ada serangan teroris dimana saja di belahan dunia ini. Kami adalah yang pertama yang mengumumkan tentang serangan tersebut, kami adalah yang pertama berdoa untuk para korban, kami adalah yang pertama mengumpulkan donasi kepada keluarga korban, tetapi setiap kali hal ini terjadi, kami yang disalahkan, diinterogasi, dan disanksikan oleh seluruh komunitas.
Untuk mengakhiri puisiku, aku menyebutkan sejumlah peristiwa yang aku yakin dunia Barat harus minta maaf kepada kami. Bagi para pendengar, itu ungkin terdengar konyol – karena memang itu konyol.
Sangat konyol bagiku untuk meminta seluruh komunitas meminta maaf atas apa yang minoritas lakukan. Seperti konyolnya dan menyedihkannya permintaan kalian agar komunitas Muslim meminta maaf atas serangan-serangan tersebut.*
Tulisan tersebut diambil dari middleeasteye.net, yang ditulis oleh Sana Al Yemen, muslimah 23 tahun yang berprofesi sebagai penyair, aktivis, dan jurnalis yang dilahirkan di Yaman dan dibesarkan di London Barat