Oleh: Kholili Hasib
“SYIAH dan NU memiliki titik temu di bidang fikih dan tasawuf seperti tahlilan, qunut, maulidan, ziarah kubur, hormati ahlulbait dll jadi bisa bersatu..
Titik Temu Islam Ahlus Sunnah (NU) dan Islam Syi’ah ada dibidang fikih dan tasawuf serta sama sama anti Wahabi Nejed,” demikian salah satu klaim kaum Syiah dalam sebuah situsnya belum lama ini.
Hari-hari ini adalah momen di mana Syiah mencari tempat pijakan di tubuh NU, dengan alasan memiliki beberasa kesamaan kultur. Di internet, bisa mudah kita temukan bagaimana kaum Syiah mencari momen ‘meminjam’ tangan NU guna memusuhi sesama Ahlus Sunnah.
Strategi lain dari dakwah Syiah saat ini yang perlu diperhatikan adalah, klaim-klaim Syiah terhadap tradisi sebagian penganut Ahlus Sunnah dan indikasi adu domba antar kelompok.
Isu tentang tradisi atau kultur yang berlaku di kalangan NU, misalnya menjadi semakin marak, ketika Syiah mengklaim sebagian tradisi diamalkan. Tradisi-tradisi yang menjadi isu di antaranya; pembacaan maulid Nabi shallallahu’alaihi Wassallam, diba’an, metode membaca harakat tulisan Arab di kalangan orang Jawa dan lain sebagainya.
Selain itu, Syiah juga ‘bermain’ dengan memunculkan wacana seoalah-olah keturunan Ahlul Bait (Alawiyyin) itu representasi Syiah. Polemik makin serius, sebab pada satu sisi, sebagian tradisi tersebut dipersoalkan oleh satu kelompok dari kalangan Sunni, dan pada sisi lain Syiah tampil seakan-akan membela keabsahan tradisi tersebut.
Sebelumnya, pada 19 Maret 1996, budayawan Agus Sunyoto, memunculkan isu tersebut di harian Jawa Pos.
Waktu itu, muncul istilah ‘Syiah kultural’ untuk menyebut kaum nahdliyyin yang mengamalkan tradisi-tradisi yang ia katakan mirip dengan Syiah. Namun, tulisan Agus Sunyoto tersebut baru sebatas spekulasi. Bahkan lebih mengedepankan mitos-mitos.
Beberapa waktu lalu, di sejumlah kota, seorang tokoh Syiah mengadakan peringatan maulid Nabi Saw sembari mengklaim bahwa tradisi tersebut dari Syiah. Dikatakan, mula-mula dipelopori Dinasti Fatimiyah. Lagi-lagi, klaim ini spekulatif dan ahistoris. Sejarawan Muslim Alwi Alattas membantah klaim tersebut dalam tulisannya “Mencari Asal-Usul Maulid Nabi” dengan data-data ilmiah. Ia menulis:
“Di antara informasi awal yang menyebutkan tentang adanya peringatan maulid di dunia Sunni adalah catatan perjalanan Ibn Jubair. Ia melintasi Mesir dari Aleksandria ke pelabuhan Aydzab, dalam perjalanan hajinya, antara bulan Dzul Hijjah 578 H (April 1183) dan Rabiul Awwal 579 H (Juli 1183). Setelah menetap di Tanah Haram dan melakukan ibadah haji, ia meneruskan perjalanan ke Iraq dan Suriah sebelum kembali ke negerinya, Andalusia. Satu-satunya peringatan maulid yang ia sebutkan hanya berlangsung di kota Makkah yang berlangsung setiap bulan Rabiul Awwal. Maulid yang disebutkan oleh Ibn Jubair (2001: 111) berbeda dengan perayaan maulid yang kita kenal sekarang dan mungkin memiliki asal-usul yang lebih tua daripada maulid Fatimiyah” (baca lengkap Alwi Alattas, Mencari Asal-Usul Maulid Nabi 1-3 di hidayatullah.com).
Persia pasti Syiah?
Klaim Syiah terhadap traidis membaca diba’ dan barzanji juga tidak tepat. Sebab, di Iran pusat Syiah, tidak pernah ditemukan diba’ . Klaim Syiah makin lemah, sebab di dalam kitab diba’ terdapat syair-syari pujian kepada Sahabat Nabi. Syair tersebut misalnya berbunyi: “Ya Rabbi wardha ‘ani al-Shahabah ya Rabbi wardha ‘ani al-Sulalah” (Ya Allah semoga ridha atas para Sahabat, Ya Allah semoga ridha atas keturunan Nabi).*/lanjut halaman berikutnya