Oleh: Imam Nawawi
DI TENGAH keterpurukan dan krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat kecil di Indonesia, tiba-tiba publik dikejutkan oleh berita media tentang kunjungan Ketua DPR dan Wakil Ketua DPR ke Amerika yang bertemu pengusaha besar properti asal Amerika yang juga seorang rasis Donald Trump yang berlanjut ‘kehebohan’ komunikasi antara Fadli Zon dengan Imam Masjid New York Shamsi Ali.
Tetapi, tulisan ini tidak tertarik untuk membahas siapa yang benar dalam soal ‘komunikasi’ antara Fadli Zon dan Shamsi Ali. Yang menarik disimak adalah mengapa seorang pemimpin DPR mau datang ke Amerika dan kemudian yang diblow up media justru pertemuan mereka dengan pengusaha Donald Trump (DT)?
Sejatinya, persoalan fundamental negeri ini setelah kemerdekaan adalah kepercayaan diri, yang dalam konteks lebih luas yaitu superioritas. Ketika seseorang, terlebih pemimpin dalam suatu negara melihat bahwa SDM dari negara lain lebih unggul dari SDM dalam negeri, maka pembangunan SDM di dalam negeri tidak akan mengalami peningkatan yang membanggakan. Karena ketika seorang pemimpin berpikir buruk atau setidaknya pesimis dengan negerinya sendiri, maka tindakan negatiflah yang kemudian akan dipilih untuk negerinya sendiri.
Sebagai contoh, apakah Indonesia kekurangan lahan untuk ber-swasembada dalam hal pangan? Jawabannya tidak.
Tetapi kenapa negeri ini seperti sulit lepas dari ketergantungan impor? Karena pemimpin kita tidak berpikir dan bertindak optimis terhadap negerinya sendiri, sehingga impor seolah tak bisa dihindari. Jadi, akar masalah yang dihadapi negeri ini ada pada sikap buruk terhadap negeri sendiri. Padahal ada aksioma yang menyatakan, “Sikap kita menentukan cara pandang kita.”
Karena sikap menentukan cara pandang seseorang, maka sikap pula yang menentukan dengan siapa relasi yang membanggakan dibangun. Berhubungan dengan Amerika, cenderung negara manapun di dunia ini, terutama negara-negara yang disebut sebagai dunia ketiga, akan memiliki kebanggaan tersendiri.
Seorang anggota DPR atau siapapun yang mendapat jadwal kunjungan kerja ke Amerika dengan negara lainnya, apalagi Afrika tentu akan sangat antusias yang ke Amerika. Jawabannya jelas, cara pandang kita menempatkan Amerika sebagai negara unggul, sehingga bertemu orang Amerika akan terasa lebih bergensi ketimbang ketemu orang yang bukan Amerika, lebih-lebih tidak di Amerika.
Dalam kamus Inlanders (bahasa Belanda untuk “pribumi”) atau pada akhir abad ke-19 seringkali disebut dengan istilah Indonesiërs (“orang Indonesia”) adalah satu dari tiga kelompok penduduk Hindia-Belanda menurut undang-undang tahun 1854. Dalam kelompok ini dimasukkan semua penduduk pribumi Nusantara yang tidak disamakan statusnya dengan kelompok Europeanen atau bangsa Eropa. (Wikipedia)
Mental Inlander ditandai dengan tidak dimilikinya rasa percaya diri sebagai sebuah bangsa,
ebuah kata yang bermakna “ejekan” penjajah Belanda pada kaum pribumi, tepatnya masyarakat nusantara.
Menurut Dr Amien Rais, mentalitas Inlander ini tidak hanya mewabah di kalangan rakyat bawah. Tapi juga dialami, dengan sama-sama akutnya, oleh para pemimpin dan elite politik kita.
Mental atau sikap semacam inilah yang selanjutnya disebut inferior. Dalam bahasa orang masa kini biasa disebut udik atau inlander. Dan, dalam pandangan Bapak Sosiologi Dunia, Ibn Khaldun inilah yang disebut sebagai mental yang terjajah.
“Bangsa terjajah selalu mengikuti mode penjajah, baik dalam slogan-slogan, gaya busana, agama dan keyakinan, serta berbagai aktivitas dan perilaku mereka.” (Mukaddimah Ibn Khaldun pasal ke-23).
Lebih lanjut Ibn Khaldun menjelaskan, “Semua ini terjadi karena jiwa manusia selalu meyakini kesempurnaan orang yang menguasainya dan ia pun patuh kepadanya. Pandangan seperti ini, bisa jadi dipengaruhi oleh keyakinan pada kesempurnaan jiwa yang dihormati dari orang yang menundukkkannya tersebut. Sebab, jiwa ini mempunyai asumsi keliru bahwa kepatuhannya kepada orang yang menguasainya bukanlah kepatuhan yang wajar, tapi karena kesempurnaan orang tersebut.”
Hal inilah yang dialami oleh kebanyakan penduduk di negeri ini, tidak terkecuali pejabat tinggi negara. Ibn Khaldun melanjutkan. “Jika suatu jiwa telah memiliki asumsi yang keliru dan kemudian asumsi ini berlanjut menjadi suatu keyakinan, maka ia akan mengadposi gaya dan pandangan hidup orang yang menaklukkannya dan berupaya meniru mereka semaksimal mungkin. Inilah yang biasa disebut dengan mengikuti mode, sebagaimana yang Anda lihat.”
Pendapat ini seolah terkonfirmasi ketika sikap seorang pimpinan DPR yang mendapat ‘kritik’ dari seorang penduduk asal Indonesia atas sikapnya yang bersuka cita bertemu dengan warga negara asing, berlanjut cukup serius sampai pada tahap akan disomasi. Artinya apa, mental menyatakan bahwa warga negara asing itu lebih terhormat daripada orang asal Indonesia, meskipun sudah lama tinggal di luar negeri.
Pokok bahasan dalam uraian ini adalah, ketika mental inferior atau inlander ini belum diatasi, maka segala macam rencana pembangunan meskipun didasarkan pada dasar negara lengkap dengan yel-yel-nya yang retoris, semua tak akan pernah melampaui dari sekedar menjadi slogan belaka. Jawabannya jelas, kita masih negatif dalam memandang negeri sendiri.
Buruknya lagi, suatu bangsa yang pemimpinnya bermental inferior alias inlander tidak saja hormat kepada negara maju, tetapi juga bangga menjamu pemimpin dari negara lain yang dalam prosesnya tidak mengindahkan hukum dan nurani kemanusiaan. Dengan kata lain, hadirnya Al-Sisi di istana adalah wujud dari inferiorisme bangsa dan pemimpin negeri ini sendiri, sehingga andaikata satu juta orang turun ke jalan menolak Al-Sisi, pertemuan itu akan tetap digelar.
Berdikari
Satu-satunya cara untuk melepaskan jiwa-raga bangsa Indonesia dari mental inlander adalah meyakini dan memantabkan gerakan Berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri. Secara psikologis, term Berdikari ini sangat superior. Dan, ini tidak mungkin lahir dari pikiran orang yang berpikiran kerdil. Oleh karena itu penting bangsa ini segera menerapkan konsep pembangunan yang mengarah terciptanya kemandirian bangsa dalam segala sektor kehidupan.
Secara lebih operasional, berdikari dalam bingkai peraadaban kini dan kedepan dijelaskan oleh BJ. Habibie sebagaimana dikutip dalam buku The Next Civilization Menggagas Indonesia sebagai Puncak Peradaban Dunia karya Nanat Fatah Natsir dengan kalimat, “Tiga tiang peradaban yang diperlukan dan dikembangkan untuk membangun peradaban Indonesia yang maju, sejahtera, mandiri dan kuat adalah; Manusia Indonesia yang memiliki keunggulan ‘HO2’ yakni, “Hati (iman dan taqwa), Otak, (ilmu pengetahuan) dan Otot (teknologi).”
Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa, sejauh bangsa ini meyakini mengunjungi negeri maju bisa memajukan negeri sendiri maka sejauh itu kemajuan tidak lebih dari ilusi. Tetapi, sejauh pembangunan bangsa ini dimulai dari konsep memberdikarikan bangsa sendiri sebagaimana wasiat Bung Karno, andaikata pun tidak berkunjung kemana-mana, dengan kekuatan HO2 yang dikatakan BJ. Habibie Indonesia ke depan bisa menjadi negara yang disegani dunia.*
Mantan Sekretaris Jenderal Syabab Hidayatullah 2009-2013