Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Pena dan Peradaban

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Maret 2016 13:48 1:48 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Maret 2016 13:48
Bagikan
Bagikan

Oleh: Imam Nawawi

 

“Kendati bukan satu-satunya jalan, menulis dapat mengejawantahkan eksistensi pelakunya. Dengan menulis orang sekaligus berekspresi, berkomunikasi dan – yang paling penting – meninggalkan jejak pikiran untuk masa yang tak terhingga. Wer liest, weiβ. Wer schreibt, bleibt, kata peribahasa Jerman. Siapa membaca akan mengetahui, dan siapa menulis tak akan mati,” demikian ungkap Syamsuddin Arif dalam bukunya Orientalis &Diabolisme Pemikiran.

Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa lalu jika tidak ada pena yang digerakkan untuk menulis apa yang telah terjadi. Soal kamera misalnya, publik memahami bahwa perekam moment dalam bentuk gambar itu adalah penemuan produsen kamera hari ini.

Padahal tidak. Adian Husaini dalam bukunya 10 Kuliah Agama Islam menjelaskan bahwa penemu kamera adalah Ibn Al-Haytam, ulama yang juga pakar fisika eksperimentalis yang hidup pada abad ke-11. Ia adalah seorang pakar optik, pencetus metode eksperimen. Karnyanya di bidang optik adalah al-Manazir, khususnya dalam teori pembiasan, yang kemudian diadopsi oleh Snell dalam bentuk yang lebih sistematis.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Adalah Al-Haytam juga yang dikenal sebagai pembuat perangkat yang disebut sebagai Camera Obscura atau “pinhole camera.” Bahkan kata “kamera” sendiri diduga berasal dari kata “qamara” yang bermakna “yang diterangi.” Ini karena kamera buatan Al-Haytam memang berbentuk bilik gelap yang diterangi berkas cahaya dan diberi lubang di salah satu sisinya.

Demikianlah tulisan, ia memberikan fakta masa silam dan tanpa adanya pena yang digerakkan, sungguh umat manusia akan sulit berkembang, mencapai kemajuan sains dan teknologi seperti saat ini. Namun, menulis bukan semata untuk ilmu dan teknologi, tetapi juga untuk membangun peradaban. Sebab, ilmu yang justru menghambat atau malah justru menimbulkan dehumanisasi sejatinya bukanlah ilmu, melainkan kebathilan yang terstruktur secara sistematis, membentuk hirarki yang solid, dan diabadikan dalam bentuk tulisan.

Soal LGBT misalnya, secara nalar awam, jelas perilaku tercela itu tidak memberikan manfaat apapun bagi kemanusiaan selain bicara hak dan hak semata, yang esensinya adalah pelampiasan ego manusia atas pemenuhan hawa nafsu menyimpang. Namun, sejak tahun 1973, homoseksual dihapuskan dari daftar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) sebagai penyakit jiwa, sehingga dari tulisan di DSM itulah, kelompok LGBT berdalih bahwa mereka tidak sakit.

Maka, dalam kontek ilmiah dan peradaban, gagasan seorang Muhammad Quthb dalam bukunya “Kaifa Naktubu Attarikhul Islam? yang diterjemahkan dalam edisi Indonesia dengan judul “Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam?” menjadi satu kesadaran yang wajar. Mengingat dunia di abad modern ini telah terhegemoni sedemikian rupa oleh peradaban materialistik Barat.

Senafas dengan apa yang digagas Muhammad Quthb, Ahmad Mansur Suryanegara termasuk sosok yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya menghadirkan literasi sejarah yang mengangkat kontribusi, kiprah dan perjuangan umat Islam sebagaimana benar-benar pernah terjadi dalam sejarah panjang bumi Nusantara hingga terbentuk Indonesia merdeka yang belum ditulis secara komprehensif oleh pemerintah.

Dan, dengan hadirnya buku Api Sejarah, bangsa Indonesia pun semakin paham bahwa umat Islam tidak bisa dipisahkan dari sejarah berdirinya bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mesti disadari secara ilmiah bahwa dalam setiap masa kehidupan umat manusia, interaksi peradaban baik yang bersifat saling serang dalam kontek senjata maupun pikiran tidak bisa ditanggalkan. Termasuk seperti yang sekarang massif terjadi, yakni perang informasi.

Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh tinggal diam, berpangku tangan dengan apa yang menggelegar di setiap momentum yang mengitari kehidupan bangsa dan negara di mana kita hidup dan eksis. Gerakan kembali menyalakan tradisi menulis sangat penting untuk menyadari bahwa selama ini bangsa ini telah terseret jauh dengan cara pandang peradaban Barat dengan meyakini segenap metodologi dan impor pemikiran yang terus dihujamkan di bumi pertiwi, sehingga umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini kerapkali menjadi sasaran empuk pengkambinghitaman dari segenap isu-isu negatif yang ramai dibicarakan publik internasional, seperti terorisme, intoleran, anti HAM dan lain sebagainya.

Tetapi, justru dari situlah kita mesti memahami bahwa sitgmatisasi Barat terhadap umat Islam bukan sebatas ketidaktahuan, tetapi merupakan cara pandang yang terbangun dalam sejarah panjang perjalanan Barat sendiri.

Tulisan tidak bisa lepas dari yang namanya pemikiran dan demikian pula gagasan dan pemikiran, tidak bisa terlepas dari konteks peradaban dimana sebuah teori, metodologi dan cara pandang dilahirkan, yang semua itu berpangkal dari perjalanan sejarah sebuah bangsa. Dalam kontek peradaban barat tentu tidak bisa dipisahkan bagaimana problema sejarah dan keagaam Kristen di Barat.

Dengan kata lain, menulis gagasan sesuai dengan apa yang menjadi cara pandang kita sebagai Muslim adalah hal yang biasa-biasa saja, bukan sebuah keanehan apalagi sampai disebut sebagai pembuat “onar.” Dan, dalam konteks keilmuan, sebuah argumen harus diakui benar jika memang secara nalar, empiris dan hati nurani tidak bisa dibantah lagi.

Sebagai Muslim yang mesti juga ber-Indonesia dengan baik, nasehat KH. Agus Salim untuk bangsa ini yang tertuang dalam artikelnya “Cinta Bangsa dan Tanah Air” (Harian Fajar Asia, 28 Juli 1928) yang dikutip oleh Adian Husaini dalam bukunya 10 Kuliah Agama Islam, “…demikian juga dalam cinta tanah air, kita mesti menunjukkan cita-cita kepada yang lebih tinggi daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak, keadilan, dan keutamaan yang batasnya dan ukurannya telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Jika dalam Al-Qur’an ada perintah “fastabiqul khairat,” berlomba-lomba dalam kebaikan, maka sudah saatnya kini generasi muda Muslim bangkit dan menulis, sebab bagaimanapun Barat juga memiliki berbagai keunggulan; bisa kita lihat dari etos keilmuannya selama berabad-abad, melalui pena yang terus mereka gerakkan dan sebarkan.*

Wakil Ketua Umum PENA [Penulis Muda Nusantara]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cara pandangpemikiranpenaperadabantulisan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pejabat Israel: Erdogan Masalah Bagi Israel
Tulisan selanjutnya Teror LGBT

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?