Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Politisasi Ungkapan ‘Islami’ dalam Riset Kota paling Islami

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Juni 2016 09:06 9:06 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Juni 2016 09:06
Bagikan
Denpasa Kota Islami?: Bali menjadi surga kaum ekspatriat dan wisatawan asing menemukan kebebasannya
Bagikan

Oleh: Abu Daud

 

BARU-BARU ini  berita tanah air diramaikan dengan sebuah fenomena menarik yang kalau boleh penulis istilahkan dengan dua istilah, politisasi istilah Islami. Riset kota ‘Islami’ versi Ma’arif Insitute tidak tanggung-tanggung menempatkan tiga Kota Denpasar, Bandung, dan Yogyakarta pada posisi teratas.

Agar tidak mengulangi kritik-kritik banyak pihak, peneliti menunjukkan secara cukup jelas problematika dalam metode riset, penulis ingin menyoroti justru aspek politisasi ungkapan ‘Islami’ itu sendiri dalam publikasi tentang kota Islami. Kata Islam dengan tambahan ‘i’ dalam bahasa indonesia atau huruf ‘ي” (ya) dalam kata Arab ‘إسلامي’ bermakna nisbat kepada Islam. Islam sebagaimana dimaklumi adalah sebuah ‘diin’ yang memuat berbagai ajaran dan aturan tentang seluruh aspek kehidupan.

Sekali lagi maklum sudah bahwa ajaran Islam memuat aturan dalam segala aspek kehidupan, akidah, ibadah, akhlak, fikih, dst.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Yang menjadi pertanyaan mengapa harus ada nisbat kepada Islam bila memang tidak mengambil aspek-aspek tersebut sebagai metode riset?

Mengapa tidak mempublikasinya dengan Riset Kota Terbahagia, Teraman dan Tersejahtera yang ketiganya merupakan indikator umum (general) yang dipakai dalam seleksi?

Dari sini mungkin terlihat bagaimana publikasi itu sendiri bertujuan mengambil perhatian khalayak sembari mencoba merubah persepsi tentang kandungan makna ‘Islami’ itu sendiri. Sehingga dengan kata lain Islami tidak mesti melaksanakan rukun Iman atau Islam, cukup dengan indikator sangat general seperti terbahagia, teraman dan tersejahtera.

Di lain sisi ada inkonsistensi dan keengganan mendekati hal yang berlabel Islam bila yang dimaksud adalah ajaran-ajaran Islam yang sudah diketahui kepastiannya. Ada kegalauan besar di sebagian orang apabila ada perda-perda atau UU atau keputusan-keputusan pemda yang mengakomodir nilai-nilai Islami yang memang justru diajarkan secara turun-temurun dalam Islam, seperti larangan minuman keras beralkohol, larangan pornografi dan prostitusi, judi, dlsb.

Seakan-akan akomodasi nilai-nilai Islami ini merusak ‘modernisasi’ atau ‘kemajuan’ (baca: amoralisasi) kota atau masyarakat. Ketimbang disebut sebagai kota yang menerapkan nilai-nilai Islami, berbagai aturan ini akan dicemooh dengan ungkapan ‘syariatisasi’ atau ‘Islamisasi’ yang telah dianalogikan dengan sesuatu yang terkesan negatif dan radikal.

Hal ini tidak lain menunjukkan adanya fenomena ‘penafsiran ulang’ konsep Islami dan penuangannya dalam ‘wajah baru’ yang tidak mesti merujuk kepada Islam itu sendiri sebagaimana komentar dari salah seorang direktur Ma’arif Institut. Lihat: http://news.detik.com/berita/3212507/penjelasan-maarif-institute-terkait-hasil-indeks-kota-islami

Politisasi istilah ‘Islami’ ini pada akhirnya menegaskan popularitas Islam sendiri bagi para periset. Meskipun segan dan enggan dengan hal-hal yang berbau ‘core’ atau ‘inti’ ajaran Islam, menggunakan istilah Islami tetap menjanjikan daya pikat yang diharapkan dari publikasi riset itu sendiri.

Setidaknya bukti di lapangan menunjukkan realitas ketidakvalidan kota Islami versi Ma’arif Institut ini. Dari ketiga kota ini, mungkin Kota Denpasar di pulau Bali menjadi kota yang paling mengusik alam sadar kita bila diklaim sebagai kota paling Islami.

Kota Islami, Kok Maksiat?

Riset ‘Kota Islami’ Dinilai Cacat Konsep

Sudah menjadi rahasia umum bahwa praktek prostitusi baik oleh pramuria laki-laki (baca: gigolo) atau pramuria perempuan dengan mudah didapati di pantai ternama pulau ini. Harian Sydney Morning Herald bahkan tidak tanggung-tanggung dalam menyebutkan fakta yang mencegangkan bahwa Bali dilaporkan sebagai tujuan teratas turis-turis pedofilia dari Australia yang hendak mencari korbannya.

Link: http://www.smh.com.au/world/indonesia-now-number-one-destination-for-australian-child-sex-tourists-20141010-1142ax.html

So, masihkah kita berani mengklaim Islami untuk sebuah kota yang gagal memberi rasa aman bahkan bagi anak-anak kecilnya?

Pemerhati masalah sosial masyarakat

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amanImanislamislamiKota IslamiMaarif Institutesyariat Islamtauhid
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Waspadai 4 Penyebab Gagal Meraih Ampunan di Bulan Ramadhan
Tulisan selanjutnya 5 Hakikat Islam Menurut Mohammad Natsir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia

Berita
1 September 2026 12:00
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman
STAI Al Bayan Gelar Wisuda Angkatan II, Ketum DPP Hidayatullah Pesankan Alumni Kuatkan Takwa Hadapi Tantangan Zaman
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?