Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Mengenang Mosi Integral Mohammad Natsir

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 April 2018 07:42 7:42 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 April 2018 08:00
Bagikan
Diskusi memperingati momentum Mosi Integral di Ruang Pleno FPKS, Kompleks DPR/MPR/DPD RI, Senayan, Jakarta, Selasa (03/04/2018).
Bagikan

Oleh: Arya Jagad Pamungkas

 

UMURNYA masih balita sejak menyatakan kemerdekaannya. Indonesia sudah dirongrong berbagai masalah dari dalam maupun luar negeri. Ketimpangan ekonomi serta usaha Belanda untuk meredam gejolak kemerdekaan Indonesia dengan tidak mengakui kemerdekaannya dengan melakukan agresi militer secara besar-besaran menjadi masalah tersendiri.

Provokasi militer yang dilakukan oleh Belanda pada tahun 1947 dan 1948 membuat dunia Internasional yang diwakili PBB mendesak agar kedua belah pihak mengambil langkah diplomasi melalui meja perundingan. Perundingan Linggarjati, Renville, Roem-Royen, hingga Konferensi Meja Bundar adalah usaha halus Belanda agar Indonesia tidak memperoleh kemerdekaannya secara utuh.

Pada Konferensi Meja Bundar, kedaulatan Indonesia semakin tercabik-cabik. Karena hasil dari konferensi tersebut memutuskan bentuk negara Indonesia adalah Federal, bukan negara kesatuan. Dengan Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta dengan 15 negara bagian lain minus Irian Barat berada dalam satu naungan bernama Republik Indonesia Serikat. Hasil dari perundingan KMB ini bukan hanya ditentang oleh kalangan elit partai politik, tapi juga di akar rumput masyarakat menolak dibentuknya negara federal karena dianggap sebagai warisan dari kolonial Belanda.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Jalannya roda pemerintahan Republik Indonesia Serikat pasca perundingan KMB dapat dikatakan sangat kacau. Rangkaian peristiwa politik terjadi pasca Republik Indonesia Serikat (RIS) berdiri.

Baca: Mosi Integral Natsir Tegaskan Umat Islam Tulang Punggung Bangsa

Aksi unjukrasa besar-besaran terjadi menuntut dibubarkannya RIS. Keadaan semakin meruncing karena selain merebaknya unjukrasa. Beberapa negara bagian juga menghadapi pemberontakan dan perebutan kekuasaan. Sebut saja Peristiwa Westerling di Bandung, Pemberontakan Andi Azis di Makasar, serta munculnya gerakan Republik Maluku Selatan yang digagas oleh Dr. Soumokil.

Dalam kondisi krisis yang serba tidak menentu muncul gagasan cemerlang dari seorang tokoh bangsa, ulama, sekaligus pejuang kemerdekaan. Mohammad Natsir yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Fraksi Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) di DPRS-RIS.

Natsir mengemukakan bahwa solusi untuk menyikapi hal yang sedang terjadi saat ini adalah dengan membentuk negara kesatuan, bukan negara federasi dengan melibatkan negara-negara bagian tanpa menimbulkan konflik baru.

Untuk mewujudkan gagasannya, Natsir melakukan lobi-lobi politik yang cukup alot dengan perwakilan negara bagian dan parlemen di DPRS. di parlemen, Natsir tidak hanya melakukan lobi politik dengan tokoh Islam saja seperti Sirajuddin Abbas dari Persatuan Tarbiyah Indonesia dan Amelz dari Partai Syarikat Islam Indonesia, tapi Natsir juga melobi I.J Kasimo dari Partai Katolik, A.M Tambunan dari Partai Kristen Indonesia, dan Sukirman dari PKI.

Baca: Mosi Integral Natsir Dinilai Bukti Tokoh Islam Cinta Keutuhan NKRI

Tepat 3 April 1950, pada sidang parlemen DPR Sementara RIS. Natsir mengemukakan pendapatnya agar Indonesia kembali kedalam bentuk negara kesatuan. pidato Natsir mendapat riuh tepuk tangan anggota parlemen disusul disetujui sepenuhnya oleh seluruh anggota DPRS-RIS. pada 17 Agustus 1950 empat bulan pasca Mosi Integral dibacakan.

Ir Soekarno membubarkan RIS dan memproklamasikan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai kelanjutan dari Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Mosi Integral telah mengembalikan Indonesia kedalam bentuk Negara Kesatuan dan terhindar dari ancaman perpecahan. Dengan cara yang demokratis, konstitusional, dan terhormat. Usaha ini adalah buah upaya sosok ulama dan negarawan Mohammad Natsir. Oleh karena itu tidak tepat rasanya jika tuduhan tidak nasionalis dan tidak cinta tanah air dituduhkan kepada kaum islamis saat ini. karena Natsir sendiri berasal dari faksi Islamis Masyumi.

Natsir layak disebut sebagai sebagai sosok ulama, negarawan, sekaligus “Bapak Pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Namun sayang, peran besar Mohammad Natsir dalam mempersatukan kembali bangsa ini dalam bingkai NKRI kurang sering disinggung di dalam buku-buku sejarah yang menjadi panduan bagi generasi muda saat ini.*

Mantan Ketua Umum Lembaga Dakwah Kampus BSI se Jabodetabek, selain aktif di organisasi kampus

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bangsa Indonesiakedaulatan IndonesiamasyumiMohammad Natsirmosi integralnegara kesatuan Republik IndonesiaRepublik Indonesia SerikatRIS
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Turki Memberikan Beasiswa kepada 20.000 Mahasiswa Suriah
Tulisan selanjutnya Ilmuwan Inggris Tak Mampu Verifikasi dari Mana Asal Gas Saraf untuk Meracuni Skripal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Berita
18 Juli 2026 09:49
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?