Oleh: Ari Sofiyanti
Hidayatullah.com | PENDIDIKAN adalah tonggak utama dalam menyiapkan generasi emas. Namun faktanya generasi penerus kita jauh dari harapan. Anak bangsa telah menjadi generasi yang emosional sehingga banyak kasus siswa tega membunuh guru, ada juga yang membunuh orang tuanya sendiri, bahkan ada yang bunuh diri karena tekanan masalah. Generasi kita disibukkan oleh game sampai kecanduan dan sakit jiwa, bergaya hidup hedonis dan penuh dengan perilaku seks bebas. Pendidikan yang dijadikan pilar pembangun bangsa, mengapa menghasilkan potret abu-abu seperti ini?
Kini, susunan kabinet baru telah dibentuk. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah ditunjuk dengan segala beban tanggung jawab di pundaknya. Presiden optimis, Nadiem Makarim dapat membuat terobosan baru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Teknologi aplikasi tengah dirancang untuk menjadi sarana pembelajaran guru dan murid. Pak Presiden berpesan agar dunia pendidikan direformasi besar-besaran supaya terhubung erat dengan dunia kerja. Lantas, apakah ini akan menjadi solusi tuntas atas permasalahan pendidikan di negeri ini? Apakah kehidupan anak bangsa ke depannya akan lebih tertata?
Pendidikan yang selama ini dibangun adalah pendidikan yang berbasis ekonomi. Kompetensi pun menjadi fokus garapan pemerintah. Kritera keberhasilan pendidikan hanya diukur dari presentase lulusan yang mendapat pekerjaan. Sementara itu problem kerusakan moral seolah dikesampingkan. Kurikulum dengan materi berlevel tinggi diajarkan, namun tidak bisa memberi jaminan output manusia berkarakter mulia. Full day school pun digencarkan, namun tidak bisa mencegah anak bersifat individualis, tidak meningkatkan kepedulian terhadap keluarga maupun masyarakat sekitar. Teknologi disiapkan mulai dari internet hingga aplikasi, namun tidak menutup celah terhadap candu PUBG. Ilmu seolah tak ada derajatnya, yang penting lulus dan kerja mulus. Bahkan korupsi sudah menjadi hal yang alami.
Sesungguhnya, akar masalah terletak pada manusia yang enggan melirik pada sistem Islam. Mengapa harus sistem Islam dan hanya sistem Islam? Karena konsep Islam berasal dari Allah Pencipta manusia. Allah Maha Mengetahui urusan manusia dan telah menurunkan aturan terbaik dari Allah Yang Maha Baik. Konsep Islam mewajibkan seluruh tatanan kehidupan diatur dengan Islam, tak terkecuali pendidikan. Sistem pendidikan Islam berdasarkan pada akidah Islam bertujuan mewujudkan manusia bertakwa dengan kepribadian Islam, berkarakter mulia disertai bekal ilmu Islam dan ilmu pengetahuan serta kompetensi keahlian.
Negara wajib mengatur segala aspek yang berkaitan dengan pendidikan. Berdasarkan iman dan syariat, negara menyiapkan kurikulum, akreditasi, metode pengajaran, bahan ajar, guru yang profesional, sarana dan prasarana. Seluruh hal yang menunjang sistem pendidikan didanai baitul mal. Kas negara dikelola dari harta milik negara dan harta milik umum seperti kekayaan alam, bukan dari pajak juga tanpa membayar mahal. Semua akses pendidikan diberikan secara mudah dan murah, atau bahkan gratis.
Contoh praktisnya adalah Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan Khalifah Al Muntashir di Baghdad. Setiap siswa menerima beasiswa sebesar satu dinar. Fasilitas sekolah pun disediakan negara seperti perpustakaan, rumah sakit sampai pemandian.
Begitu pula Madrasah An Nuriah di Damaskus yang didirikan oleh Khalifah Nuruddin Muhammad Zanky. Asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi semuanya difasilitasi negara.
Kaum Muslim menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikirnya, pilar pemahaman kehidupannya, halal dan haram sebagai standar perbuatannya. Hasilnya, generasi yang lahir dari peradaban Islam adalah generasi emas. Ilmuwan Islam seperti Al Khawarizmi, Ibnu Sina, Ar Razi, dan Ibnu Rusyd ahli dalam multi disiplin ilmu pengetahuan dan bahkan ahli dalam ilmu Islam seperti ushul fiqih. Penemuan-penemuan mereka bukan untuk menumpuk harta kekayaan semata, tetapi untuk kemaslahatan umat dan memudahkan menjalankan syariat.
Maka, seharusnya tiada lagi keraguan dalam diri kita. Kaum Muslim seluruh dunia membutuhkan Islam. Kita ingin kembali pada Al-Qur’an dan Islam sebagai sistem kehidupan kita. Peradaban Islam adalah janji yang pasti terwujud dan menjadi kenyataan di masa depan. Memimpin manusia pada kemuliaan dan jalan menuju ampunan Allah. Wallahu a’lam.*
*Alumni Biologi, Universitas Airlangga