Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Ricuh Demo Sopir Taksi, Siapa Untung Siapa Rugi?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Maret 2016 19:06 7:06 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Maret 2016 17:15
Bagikan
Konvoi sebagian taksi dari kawasan Cawang, Jakarta Timur menuju lokasi demo di pusat Jakarta, Selasa (22/03/2016) pagi.
Bagikan

SIAPA yang bertanggung jawab atas kericuhan dalam unjuk rasa sopir taksi reguler di Jakarta, Selasa (22/03/2016) kemarin? Semua pihak seakan hilang melarikan diri.

Tapi satu hal yang harus kita sadari. Mau sopir taksi reguler seperti Blue Bird, Express, sopir taksi online seperti Uber dan GrabCar, atau pengemudi Go-jek, GrabBike, dll, semua tetaplah anak bangsa, tetaplah rakyat Indonesia yang satu.

Sebagai sopir taksi atau tukang ojek, jalankanlah aktivitas mencari rezeki dengan baik. Bukankah rezeki itu sudah ada yang mengatur? Setiap orang mengerti akan hal itu.

Jika kita berpikir cerdas, di sela-sela mencari nafkah untuk keluarga di rumah, mengapa masih sempat terpikir untuk melakukan aksi kericuhan yang berujung kekerasan?

Jika kita bertanya, siapa yang salah atas kericuhan kemarin? Sopir taksi reguler akan mengatakan, “Pengemudi layanan online yang memulai, mereka telah mengambil lahan rezeki kami.”

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Sementara pihak satunya akan menjawab, “Sopir taksi yang memulai, mereka mendemo kami dan tidak berpikir maju tentang teknologi informasi yang sedang berkembang.”

Sesama rakyat Indonesia sebaiknya kita bersatu dalam membangun negeri ini jadi lebih baik dan lebih baik lagi. Jika terus saling menyalahkan dan bermain fisik dalam menyelesaikan permasalahan, sampai kapan akan selesai? Tidak akan pernah ada akhirnya.

Dengan tidak membela salah satu pihak, kita tidak bisa menyalahkan berbagai aplikasi online tersebut, di tengah melajunya teknologi informasi saat ini. Jika bangsa ini tidak mengikuti perkembangan zaman, maka kita bisa tidak akan menjadi bangsa yang berkembang. Justru terus menjadi kacung bagi bangsa lain yang hanya mampu menerima dan menerima saja.

Carilah Solusi Cerdas

Mulai hari ini, marilah kita tetap bersatu membangun negeri mencari solusi yang cerdas. Sopir taksi reguler maupun pengemudi layanan transportasi berbasis online yang terlibat kericuhan dan kekerasan, keuntungan apa yang mereka dapatkan?

Pada akhirnya semua hanya akan menjadi abu kesia-siaan, yang menyisakan luka fisik untuk mereka yang menjadi korban. Lalu menimbulkan kecanggungan setiap kali berpapasan di jalan.

Untuk mereka yang masih menyimpan dendam dan hasrat untuk saling membalas, siapa yang dirugikan selain sopir taksi dan pengojek?

Pelanggan juga akan dirugikan. Kami pelanggan hanya mampu menggelengkan kepala. Kami menggunakan kendaraan umum berdasarkan kebutuhan. Jika kami terjebak kemacetan, mungkin transportasi sepeda motor jadi solusi.

Jika kami membutuhkan kenyamanan dalam perjalanan, bukankah taksi adalah pilihan. Semua sudah jelas. Tinggal bagaimana kita semua menyikapi secara tenang, santai, dan berpikir cerdas, tidak terburu-buru.

Adanya kericuhan hanya menguntungkan para pemodal. Bukan orang-orang yang bekerja di bawah dengan berpeluh keringat di wajah, leher dan badan yang siang-malam banting tulang.

Para pemilik modal hanya duduk manis, menunggu hasil kerja orang lain lalu mengeruknya sebisa mungkin. Siapa yang menang dan kalah dalam kericuhan yang berakhir dengan bentrok kekerasan fisik kemarin? Pemilik modal itulah yang memenangkan keuntungan.

Jika memang aplikasi online telah merusak sistem bisnis di tanah air, maka pantas sekiranya para loper koran berdemo akan adanya berbagai media online dan memintanya ditutup. Pantaslah pula berbagai toko konvensional meminta agar toko-toko berbasis online ditutup.

Yang lebih ekstrem, bisa pula seluruh karyawan PT Pos Indonesia dan perkumpulan tukang pos berdemo besar-besaran di seluruh Indonesia untuk menutup layanan e-mail karena telah mematikan mata pencaharian mereka.

Tapi tentu tidak demikian. Demo bukan solusi mengembalikan pelanggan yang berpindah haluan. Bersaing dengan strategi cerdas merupakan solusi.

Bila mau, bukankah bisa, taksi merambah aplikasi online dan mengembangkan sistem bisnis angkutannya, lalu ikut bersaing dengan Uber, GrabCar, GrabBike, Go-jek, atau layanan sejenis lainnya.*

Putra Afriansyah, pelanggan transportasi umum di Jakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anarkidemodimensi sosialDKI Jakartasopir taksitransportasi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mewujudkan “Masyarakat Madinah”, Bisakah?
Tulisan selanjutnya Peradaban Islam Terus Bergerak Meski Sebagai Entitas Masih Berserak

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sering Rugikan Pabrik Senjata ‘Israel’, Palestine Action Ditetapkan AS sebagai “Kelompok Teroris”

Berita
27 Agustus 2026 14:15
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?