Oleh: Fahmi Wira Angkasa
UMAT Islam yang notabene menjadi kelompok manusia terbesar kedua di dunia, sedang mengalami masa keprihatan. Krisis metode pemahaman menjadi faktor utama atas klaim ini.
Gesekan bahkan kericuhan antar kelompok masih menjadi penyakit yang tidak pernah hilang di setiap tempat, terutama di Indonesia.
Dimulai dari diusirnya seorang da’i oleh suatu kelompok masa ketika sedang memberikan ceramah, bahkan fenomena saling mentahdzir antar pendakwah.
Tahdzir sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya mengawasi, atau secara istilah berarti mencela sesama umat Islam yang berbeda pemahaman dengan kelompoknya.
Ini menjadi hal yang selalu menjadi permasalahan umat Islam dari dulu sampai sekarang, tidak saling memahami atas adanya perbedaan di dalam mengambil istinbath hukum. Apalagi yang dipemasalahkan hanya sekedar masalah furu’iyyah yang menjadi perdebatan panjang di dalam kajian para ulama Ahlussunnah.
Perbedaan di dalam memahami suatu produksi hukum, menandakan semangat yang kuat dari umat islam dalam belajar mempelajari agamanya. Seharusnya ini yang menjadi peluang emas para da’i dan pemimpin umat islam dalam meluaskan dan menguatkan asas berkembangnya ajaran islam di dunia.
Namun tetap harus berdasar kepada akhlaq dan adab yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, yang secara diutus oleh Allah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam untuk menyempurnakan akhlaq manusia.
Nah, jika antara semangat yang tinggi dalam mempelajari agama diiringi dengan pengajaran akhlaq yang sungguh-sungguh, maka asas persatuan akan tercipta. Karena dengan akhlaq, manusia akan mengerti dalam bersikap, dan menghormati perbedaan yang ada pada setiap kelompok umat.
Di sinilah peran ulama dan pemimpin agama bermain. Kalau pemimpin agama dan pendakwah saja saling mentahdzir, maka yang akan menjadi musibah lebih besar adalah umat Islam yang masih awam dan lemah yang belum mengerti betul tentang agama, mereka akan bingung mana yang seharusya diambil sebagai pedoman amalan mereka di dunia. Bahkan bisa sampai kepada keraguan mereka kepada Islam.
Semuanya setuju bahwa tujuan manusia dalam mentaati pedoman agama adalah untuk mendapatkan surganya Allah Subhanahu Wata’ala.
Maka dengan tujuan yang sama, seharusnya memotivasi kita untuk selalu bersatu dalam membela agama ini. Dalam hadits Rasulullah Shalallahu’alai Wassallam disebutkan bahwa setiap muslim adalah saudara untuk muslim lainnya.
Dianalogikan juga umat Islam seperti bangunan yang berdiri kokoh, jika satu bagian lemah, maka akan melemahkan bagian yang lain. Dan juga umat islam seperti satu tubuh, jika satu bagian sakit, maka bagian tubuh lainnya akan merasakannya pula.
Dari banyaknya nash tentang persatuan, menunjukan urgensi persatuan umat. Yang menjadi musuh kita bukanlah saudara di luar kelompoknya, namun kaum kuffar yang selalu menyerang umat Islam. Kenapa kita selalu ribut dengan perbedaan antar kelompok, namun diam dengan fenomena dibantainya umat Islam di Myanmar, didzaliminya umat muslim di Palestina, Bosnia, dan muslim China Uighur. Apakah hati kita ini sudah keras dengan kesombongan dan fanatik buta dengan kelompok kita ?
Memang penyakit kesombongan ini sangat berbahaya. Sampai Rosulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam memperingati umatnya dengan keras tentang bahayanya penyakit ini,dengan tidak dipersilahkan masuk Surga Allah Subhanahu Wata’ala walau dengan sebesar biji sawi di hatinya. Sombong adalah meremehkan orang lain, dan menolak kebenaran.
Mari kita coba selidiki, hal apa yang menjadi faktor tidak bersatunya umat.
Kalau tadi kita sempat membahas tentang fenomena saling mentahdzir antar pendakwah, ini juga bisa menjadi faktor utama tidak bersatunya umat.
Seorang pemimpin selalu menjadi rujukan para pengikutnya dalam berbuat. Maka seharusnya,ini bisa menjadi peluang emas terciptanya persatuan. Jika para pemimpin kelompok memberikan pengertian kepada pengikutnya, bahwa perbedaan itu ada dan menjadi tabiat manusia dalam hidup di dunia, maka umat pun akan mengikutinya.
Pahamilah bahwa setiap kelompok memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hal ini yang seharusnya menjadi kunci bersatunya umat, bukan malah menjadi sebab perpecahan, dengan mengambil sisi positif dan kelebihan dari setiap kelompok. Kembali, pemimpin masing-masing kelompok mengambil peran penting dalam hal ini.
Alangkah indahnya jika forum diskusi antar pemimpin umat dibuka, dengan menghilangkan kesombongan dan fanatik tinggi dengan kelompoknya. Agama adalah nasihat, namun tidak akan pernah bisa berlaku jika dilaksanakan tanpa ilmu dan adab, wallahu a’lam bisshawaab.*
Penulis adalah seorang aktivis media sosial yang aktif menulis. Sedang studi di International Islamic University Islamabad, Pakistan, jurusan Shariah and Law. Email: [email protected]