Oleh: Imam Nawawi
Hidayatullah.com | UMAT Islam di Indonesia kembali harus “terbangun” seiring dengan mencuatnya RUU HIP yang mengguncang ketenangan berbangsa dan bernegara. Di tengah pandemi, dimana korban terus berjatuhan, rakyat dalam kesulitan, para pejabat bangsa, dalam hal ini pemerintah dan DPR-RI terindikasi menyepakati pembahasan RUU yang sama sekali tidak dibutuhkan oleh rakyat dan umat Islam.
Pada saat yang sama, ketidakadilan hukum begitu gamblang terpampang di panggung kehidupan bangsa dan negara. Kasus Novel Baswedan sempat menjadi headline di beragam media massa dan media sosial, terutama setelah ia tampil dalam acara Mata Najwa dalam tajuk “Novel Tak Berujung.”
Satu ungkapan menarik dari penyidik senior KPK itu adalah perihal yang benar jangan takut, harus berani mengkritisi dan mendorong Presiden Jokowi bertindak tegas dan jelas dalam segala permasalahan yang ada agar ke depan kejahatan dan ketidakadilan hukum tidak lagi terjadi di negeri ini.
“Ayolah kita nggak boleh diam, kita kritisi. Tapi mengkritisi untuk ke depan akan menjadi lebih baik. Kita dorong agar Pak Presiden benar-benar mau dan punya kekuatan untuk mengambil sikap yang tegas, mengusut segala permasalahan yang ada di balik ini. Kenapa, kalau kita melihat negara kita tentu kita berharap kepada Pak Presiden. Beliau adalah Presiden kita semua. Kita berharap apabila ini diusut tidak menjadi keburukan. Semoga orang-orang yang berbuat begini tidak berani lagi berbuat ke depan. Itu poin pentingnya.”
Secara langsung, seorang Novel Baswedan memberikan arahan jelas bahwa untuk membawa bangsa ini lebih baik, semua pihak harus berani tegas dan langsung menyampaikan aspirasi, mendorong dan mendesak Presiden RI Bapak Jokowi berani bertindak secara objektif, adil, dan benar-benar mengedepankan nurani dan kemaslahatan bangsa dan negara. Sebab dalam sistem presidensial seperti Indonesia ini, presiden menjadi pihak terdepan untuk semua permasalahan didorong berjalan secara baik, adil, dan transparan.
Gelombang Umat
Sejak kecil kita telah mengenal pepatah, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” RUU HIP tentu akan menjadi sebuah bencana besar jika umat Islam tidak bersatu. Bersyukur kepada Allah, umat Islam sigap dan bergerak cepat, hingga akhirnya Pemerintah memutuskan untuk menunda bahasan RUU yang sangat destruktif bagi dasar dan ideologi negara ini.
Menariknya, begitu umat Islam bergerak yang dalam hal ini diwakili oleh ormas Islam bahkan MUI, banyak partai yang kemudian “cuci tangan.” Beramai-ramai anggota DPR mengeluarkan statement yang intinya mereka tidak terlibat menyetujui pembahasan RUU HIP itu. Dalam kata yang lain, bersatunya umat Islam dalam suara yang padu telah menjadikan pihak yang tadinya merasa aman belingsatan seperti tikus kena perangkap.
Poin ini sangat penting dijaga, bahwa kala umat Islam bersatu, suaranya, aspirasinya sudah cukup menjadi gelombang besar yang memporakporandakan agenda terselubung yang merongrong keutuhan bangsa dan negara. Bagaimana jika momentum ini dijadikan sebagai titik balik kebangkitan umat dengan melakukan konsolidasi lebih terarah agar ke depan tidak ada lagi “kenekatan” yang dipertontonkan di depan publik, sehingga banyak menimbulkan keresahan dan ketidakadilan.
Langkah terbaik untuk mengatasi dan mencegah kemunkaran lebih merajalela di dalam negeri ini maka orang-orang baik harus terus menyuarakan kebenaran. Semakin banyak yang bersuara semakin ciut nyali para penjahat. Semakin serempak bersuara semakin tenggelam narasi yang tidak berdasar di ruang publik.
Dan, dalam hal ini kita bisa sama-sama melihat bagaimana kebanyakan anggota DPR yang justru paling awal ketakutan. Karena mereka sadar bahwa apa yang dilakukannya ternyata berbanding terbalik dengan janji-janji saat kampanye. Bahkan, dalam situasi sulit karena wabah Covid-19 mereka tega menjadikan jabatannya sebagai wakil rakyat untuk mengkhianati kepercayaan yang selama ini diberikan kepada mereka.
Sadarlah, bahwa orang yang berpikir jahat tidak pernah merasa kuat apalagi tenang dan aman. Justru mereka sangat ketakutan. Oleh karena itu, pihak-pihak yang baik, yang menghendaki bangsa ini selamat dan kian baik ke depan harus bersatu dalam suara dan gerak nyata. Agar gelombang yang sekarang ada dapat menjadi kekuatan penentu kembalinya bangsa dan negara ini pada dasar negara yang sama-sama kita cintai yakni Pancasila.*
Peminat Media Sosial