Hidayatullah.com | PEMUDA hari ini adalah pemimpin masa depan, demikian Syeikh Musthafa al-Galayani mengungkapkan dalam kitab Idha-atun Nasyi’in. Ungkapan tersebut merupakan sugesti istimewa yang patut disandarkan pada sosok pemuda Muslim.
Sejarah mencatat, kemajuan dan kemenangan agama Islam tak lain diawaki oleh semangat jihad sahabat yang notabene adalah pemuda-pemuda di belakang komando Rasulullah ﷺ. Disebutkan, jiwa muda para sahabat ketika itu menyatu dalam gelora jihad menjemput janji-janji Allah.
Ada sederet nama pemuda yang bisa disebut dalam sejarah peradaban Islam. Sebut misalnya, Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Umar, Usamah ibn Zaid dan lain sebagainya.
Juga ada Umar ibn Abdul Aziz (Gubernur muda Hijaz), Ibn Sina (dokter pertama dunia), yang disebut menguasai berbagai cabang ilmu saat usianya baru menginjak 18 tahun. Tentunya ada Muhammad al-Fatih, pemuda 21 tahun yang berhasil mewujudkan bisyarah (kabar gembira) Rasulullah dengan menaklukkan Konstantinopel saat itu.
Sebagai panduan hidup umat Islam, al-Qur’an mengumpulkan kisah sekaligus profil dan kriteria karakter seorang pemuda Muslim. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama: Memiliki keimanan yang teguh
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi [18]:13).
Sayyid Quthb berkata, mereka adalah remaja gagah dan pemilik badan kuat perkasa. Hati mereka teguh dengan iman tulus membaja, berpendidikan, dan bersikap tegas dalam menghadapi kemunkaran kaum mereka.
Kedua: Kuat melawan hawa nafsu
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
“Dan perempuan (Zulaihah) yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata: Marilah mendekat kepadaku. Yusuf berkata: Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik.’ Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung.” (QS: Yusuf [12]: 23).
Kisah Nabi Yusuf selayaknya menjadi panutan bagi pemuda Muslim. Yusuf memberi pelajaran bahwa melawan hawa nafsu dan menjaga kehormatan itu dilakukan dengan cara meminta perlindungan kepada Allah dan bersikap baik terhadap orang lain.
Perang melawan hawa nafsu adalah jihad yang berat. Di antara cara mengusir hawa nafsu adalah dengan selalu melakukan kegiatan yang bersifat positif.Rasa malas atau keinginan yang batil sudah seharusnya terenyahkan dari sosok pemuda Muslim.
Ketiga: Giat menuntut ilmu
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
“Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada pembantunya: Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.“ (QS: Al-Kahfi [18]: 60).
Ayat selanjutnya menceritakan bagaimana kegigihan Nabi Musa dan akhirnya diberi rahmat Allah hingga bertemu orang alim, yakni Nabi Khidir. Kegigihan Musa patut menjadi karakter pemuda Muslim.
Ilmu merupakan cahaya dan kebutuhan yang tak bisa diabaikan meski harus bersusah payah mendapatkannya. Kata Imam Ahmad, “Sesungguhnya kebutuhan manusia terhadap ilmu melebihi kebutuhannya pada makanan dan minuman.”
Keempat: Memerangi kebathilan
فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ
قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ
“Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya); agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh dia termasuk orang yang zalim. Mereka yang lain berkata: Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” (QS: Al-Anbiya: 58-60).
Ibrahim muda dengan sifat heroiknya mampu melakukan perlawanan terhadap pembesar-pembesar kaumnya saat itu. Dakwah dengan lisan saja menurutnya tak cukup, maka ia mengumpulkan keberaniannya untuk menghancurkan berhala-berhala yang selama ini menjadi sesembahan kaumnya.
Sesungguhnya amanah besar sebagai manusia di dunia adalah sebagai seorang khalifah (pemimpin di masa depan) dan abdullah (dan hamba Allah). Dua hal ini, hanya bisa ditunaikan dengan dakwah secara lisan (bil kalam), tulisan (bil qalam), ataupun dengan perilaku dan tata karma (bil hal dan bil adab).*/Arsyis Musyahadah