Oleh: Bambang Galih S
Hidayatullah.com | Masjid merupakan salah satu tempat terpenting bagi masyarakat Islam melakukan aktivitas keagamaannya. Dengan banyaknya keutamaan untuk melakukan ibadah di dalamnya, masjid menjadi institusi yang tidak pernah terpisahkan dalam keseharian dan kebutuhan setiap pribadi yang rindu dalam ketenangan untuk dekat kepada-Nya. Maka masjid yang makmur, dapat menandakan baiknya keadaan spiritual dan sosial di daerah masjid tersebut.
Selain sebagai pusat ibadah, masjid memiliki peran sentral dalam peningkatan intelektualitas dan menjadi ruang pendidikan Islam yang menyentuh semua elemen masyarakat Muslim. Hal tersebut dapat kita lihat sejak kurun pertama perkembangan Islam, dengan banyaknya para sahabat yang tinggal dan mendalami keilmuan di salah satu bagian masjid yang dikenal sebagai “ahlu suffah“.
Abu Hurairah ra, Abu Dzar Al Ghifari ra, Salman Al Farisi, Abdullah ibn Mas’ud adalah salah sekian sahabat yang terkenal dan berjasa, sebagai tokoh ulama dan ilmuan angkatan pertama, yang tumbuh dalam didikan langsung Rasulullah ﷺ di Masjid Nabawi ini. Sehingga masjid tidak hanya berperan untuk membentuk masyarakat yang baik dan berakhlak mulia, namun juga mencetak banyak ulama, pemimpin dan intelektual Islam pada masanya.
Pada dunia Islam kita juga dapat melihat, bagaimana masjid telah memberikan warna pemikiran bagi peradaban dunia. Universitas Al-Azhar Mesir, sebagai salah satu perguruan tinggi Islam tertua di dunia, yang setiap tahunnya meluluskan puluhan ribu ulama dan intelektual Islam yang tersebar ke seluruh wilayah dunia, juga memiliki sejarah yang bermula dari masjid Al Azhar. Dengan banyaknya para pelajar dan tradisi ilmu yang kuat di masjid tersebut, Al Azhar pun bertransformasi menjadi perguruan tinggi besar yang berangkat dari Masjid Al Azhar.
Demikian juga di Indonesia, di bawah kepemimpinan Buya Hamka, masjid jami yang dibangun di Kebayoran, di tengah wajah Indonesia baru, Jakarta. Dalam waktu singkat telah menjadi pusat dakwah dan kebangkitan Muslim pertama ibu kota, pada era modern.
Atas petuah Buya Hamka, masjid agung Al Azhar pun membuka sayap lembaga pendidikan hingga layanan sosial bagi masyarakat. Kelompok masyarakat, pemuda Islam dan pemimpinnya kemudian mulai memenuhi ruang masjid Al Azhar, dan Hamka mengajak mereka untuk menjadikan masjid sebagai rumah kedua. Jamaah semakin membesar dan masjid ini telah menjadi basis pergerakan Muslim dan pendidikan Islam di ibu kota.
Masjid Agung Al Azhar beserta Hamka, para jenderal dan tokoh bangsa, ketika itu telah menginisiasi satu pengaruh dan perubahan besar dari masjid. Masjid Agung Al Azhar tidak hanya menjadi tempat beribadah yang nyaman bagi banyak masyarakat Muslim di ibu kota. Namun ia juga telah menjadi ruang bermukim dari perubahan sosial dan saksi bisu perguliran sejarah dari hiruk pikuknya kekuasaan yang pernah rapuh pada masa Orde Lama, ketika ideologi Komunis merongrong kekuasaan negara. Sehingga masjid tersebut menjadi basis untuk menghimpun kekuatan baru dan perbaikan yang tidak terlepas dari pertolongan dan keyakinan kepada Allah Subhanahu wata`ala.
Dari kota Malang Jawa Timur, Masjid Sabilillah juga menjadi salah satu saksi perjuangan umat Islam melawan penjajah pada Agresi Militer II Belanda. Pada dasarnya pembangunan Masjid Sabilillah diperuntukan sebagai monumen perjuangan arek Malang yang turut bertempur melawan penjajah saat pertempuran 10 November di Surabaya.
Lokasi masjid Sabilillah tersebut dahulu merupakan markas dari dari dua angkatan perjuangan Laskar Sabilillah dan Hizbullah yang dibentuk oleh para ulama dan kyai di Malang. Nama Sabilillah sendiri diambil dari kelompok pejuang yang bernama barisan Sabilillah pimpinan KH Masykur yang turut bertempur di Surabaya pada 10 November 1945. Yang hingga era ini masjid tersebut tetap berjuang melalui masjid dan membuka lembaga pendidikan dari usia SD hingga SMA Islam Sabilillah, yang cukup terkenal dan menjadi pilihan di kota Malang.
Uniknya, Masjid Sabilillah ini pun memiliki konstruksi bangunan dengan melambangkan pergerakan perjuangan Indonesia, jumlah pilar di luar masjid sebanyak 17 buah, melambangkan tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Selain itu, ada juga ada bangunan menara setinggi 45 meter, yang menjadi lambang tahun kemerdekaan Indonesia.
Menurut Ketua Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia (DDII), Dr. Adian Husaini, idealnya setiap masjid dapat melahirkan atau menyiapkan seorang ulama. Sebagaimana Buya Hamka seorg ulama kharismatik yang pernah memimpin dan menjadi imam besar langsung di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta.
Masyarakat atau para jamaah akan mendapatkan pembinaan Islam, serta bisa meminta nasehat langsung kepada sang ulama yang merupakan seorg imam masjid di suatu tempatnya. Jika ulama hadir lebih dekat dan lebih banyak dengan ummat, maka curahan rahmat juga akan lebih mudah hadir melalui interaksi antara org berilmu dan org soleh tersebut. Sehingga menciptakan mata rantai lingkungan yang baik, dalam kehidupan sosial masyarakat Muslim.
Maka sudah seharusnya masjid-masjid yang baik dengan banyaknya jumlah jamaah, serta kas ratusan juta yang selalu disampaikan setiap pekannya. Tidak hanya dialokasikan untuk memperbagus dan mempertinggi bangunan, atau menghabiskan dana besar untuk sekali tablig akbar dan menyelenggarakan kegiatan. Namun para takmir harus berupaya dan memikirkan, bagaimana caranya mencetak kader-kader ulama yang dapat melanjutkan misi kenabian, membuat program pembinaan masyarakat Muslim untuk cinta Islam, serta membentuk masjid menjadi pusat keilmuan dan sosial, di samping sebagai pusat ibadah yang selalu dikunjungi oleh masyarakat Islam. Dengan menyiapkan pemimpin masjid yang tidak hanya mampu melantunkan bacaan Al Qur’an dengan baik dan benar, namun ia juga sekaligus seorg ulama yang memiliki keilmuan dan kepakaran, serra menjadi teladan. Agar masyarakat dapat mengenal lebih dekat dan mudah terhadap Islam, dari masjid sebagai miniatur utama yang berkontribusi dalam membangun peradaban negara dan dunia.*
Penulis tinggal di Solo, Jawa Tengah