Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 14 Juli 2023 20:15 8:15 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 15 Juli 2023 05:30
Bagikan
Ilustrasi anak dididik sejak dini.* [Foto: SKR/hidayatullah.com]
Bagikan

Hidayatullah.com | MENJADI ibu dari dua orang putri, membuatku banyak memikirkan masa depan.

Seperti apa pendidikan yang akan mereka jalani, bahwa aku harus memastikan mereka beradab dahulu sebelum berilmu, seperti apa nantinya menjaga mereka tumbuh besar di tengah ganasnya pergaulan dan kejamnya dunia.

Aku mungkin terlalu pengecut dan lebay, tapi, melihat dunia hari ini, wajar kalau para ibu menjadi lebih was-was.

Hari ini saja sudah sehancur ini, bagaimana besok? Akan seganas apa lagi pergaulan sepuluh tahun ke depan? Akan secanggih apa lagi teknologi dua puluh tahun yang akan datang?

Semuanya masih misteri, namun garis besarnya sudah bisa terbaca, bahwa generasi masa depan akan mengalami tantangan yang sangat berat. Maka tugas orangtua untuk memastikan bahwa mereka siap dan sanggup menghadapinya.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Mulailah di kepala ini membuat daftar pendidikan yang baik, yang akan mengarahkan hidup mereka tidak melulu soal duniawi tetapi lebih mementingkan akhiratnya.

Ini bukan mimpi, ini visi yang harus tercapai dan ini jelas penuh rintangan yang amat berat.

Semakin lama, semakin selektiflah diri ini. Mulai menganalisa keadaan, mulai pula membandingkan, lembaga A dan B, keunggulan dan kelemahannya.

Dari jenjang PAUD hingga kuliah nanti, seperti apa pilihan-pilihan yang akan mereka ambil, bagaimana jika minat dan bakatnya mengarah ke sana dan ke sini, maka harus ada opsi.

Karena anak kami tidak boleh menjadi alat mencapai impian orangtuanya yang tidak kesampaian. Mereka punya pilihan dan setiap anak memiliki jalannya sendiri.

Bahkan sampai pada tingkat perkiraan biaya pendidikan, mulailah kami membuat buku tabungan pendidikan untuk dua buah hati kami yang masih bayi ini.

Zaman ini, ada harga, ada kualitas. Berani membayar lebih tinggi, seringkali memang lebih unggul secara fasilitas dan kualitas, meski tidak selalu seperti itu, tapi faktanya sekompetitif itu dunia pendidikan saat ini.

Sebagai seorang “working mom” yang bergelut di lembaga pendidikan, sedikit banyaknya membuka wawasan terkait kegiatan belajar mengajar, kurikulum, pembiayaan, marketing sekolah, dan yang berkaitan dengan sekolah lainnya.

Merasa puas dengan segala rencana dan analisa tentang “bagaimana pendidikan anak kami nantinya”, saya dengan bangga bisa menceritakan ke orang lain tentang opsi-opsi pendidikan terbaik versi kami.

Tidak ada yang salah sebenarnya, kata Benjamin Franklin, if you fail to plan, you plan to fail. Merencanakan hal-hal baik akan mempermudah untuk melaksanakan kebaikan tersebut.

“25 Tahun Sebelum Lahir“

Hingga di suatu hari, putri sulungku yang kala itu belum genap dua tahun menatapku dengan mata jernihnya, hanya karena aku mampu menggambar beberapa hewan untuknya, kudapati binar kekaguman, cinta dan sanjungannya untukku.

Ia tak mampu membahasakannya, namun aku tahu, kala itu, baginya aku adalah pahlawannya. Mendadak aku dihantam oleh kenyataan. Selama ini aku terlalu disibukkan dengan ide-ide dan rencana jangka panjang, sampai-sampai aku lupa bahwa al-umm Madrasatul Ula. Yang pertama lebih utama.

Di pundakku pendidikan itu bermuara. Intensitas, kelekatan hati, dan pertautan doa adalah tiga hal yang tidak mungkin bisa digantikan oleh orang lain.

Bagaimana mungkin aku merencanakan pendidikan buah hatiku yang nantinya di tangani orang lain, sementara aku tidak merencanakan pendidikan anak yang harusnya kutangani? Aku mendidik anakku adalah kewajiban, sementara para guru mendidik anakku adalah pilihan, yang aku buat dan putuskan sendiri.

Aku menuntut kurikulum sekolah harus begini dan begitu, sementara aku mendidik mereka tanpa skill, dengan emosi yang labil, dengan ilmu yang pas-pasan, dengan komunikasi yang tidak terarah. Aduhai…!

Maka wajarlah jika Imam Al-Ghazali mengatakan, “Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir.” Ini tentunya yang dimaksud adalah perencanaan. Beratnya mendidik anak itu tidak akan bisa dipikul jika tanpa persiapan yang tepat dan memadai.

Bahwa menikah bukan hanya penyatuan dua insan, tetapi juga penyatuan komitmen untuk menjadi orang tua yang sevisi dalam pendidikan dan pengasuhan anak, sehingga ketika menikah dan memiliki anak, masing-masing sudah memahami tugasnya, tidak ada lagi perasaan, “Aku yang lebih lelah, atau aku yang lebih berjasa.”

Anak sejatinya membangun kepercayaan diri, kemampuan survive, kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi yang baik jika ia memiliki support system yang baik. Ini ada pada keluarga.

Orang tua sebagai pilar keluarga wajib menciptakan inner circle yang baik, sehingga anak bisa mengaktualisasikan kebaikan tersebut meski ia berada di luar lingkarannya.

Persiapkan diri kita untuk menjadi muara kebaikan untuk anak, mendidik dengan keikhlasan, menjaga dengan ketaatan, mencintai dengan segenap doa.* (Najmatun Nahdhah/Kepala Sekolah di Kalimantan Timur)

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anakKeluargaparentingPendidikanrumah tanggasekolah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Konflik Tigray, Gereja Ortodoks Ethiopia Takut Umatnya Pecah
Tulisan selanjutnya Mansur Escudero, Mualaf yang Menyebarkan dan Memperjuangkan Islam di Spanyol

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PUI Dukung Perpres 111/2025 Soal LGBT, Ketahanan Keluarga Penting bagi Pertahanan Nasional

Berita
6 Juli 2026 15:04
Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
Analisa Israel: Iran dan Hizbullah Tidak Bantu Hamas Lancarkan Operasi Thufan Al-Aqsha
MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
Pelatih Timnas Mesir Suarakan Solidaritas untuk Palestina di Piala Dunia 2026

Terbaru

  • Perwira Cadangan ‘Israel’: Pasukan Kami Sedang Mengalami Kemerosotan Moral
  • Amerika Serikat Kembali Serang Iran, Berdalih Bela Warga Sipil
  • ‘Israel’ Gunakan Kesepakatan Gas dan Air untuk Menekan Yordania
  • PBNU Tetapkan PP Bahrul Ulum Jombang Lokasi Muktamar Ke-35 NU
  • Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
  • Vatikan Pecat Kelompok Katolik Tradisional SSPX karena Menentang Paus
  • Menko Yusril Sebut Penyebarluasan LGBT Perlu Diantisipasi demi Ketahanan Nasional
  • Serukan Balas Dendam untuk Ali Khamenei, Lautan Pelayan Serukan Kematian Trump
  • Pelatih Timnas Mesir Suarakan Solidaritas untuk Palestina di Piala Dunia 2026
  • Tak Ingin Disaingi, ‘Israel’ Minta AS Blokir Penjualan F-35 ke Turki

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?