Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Iraq, SaraLee, dan Poros Kejahatan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 April 2003 14:05 2:05 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 April 2003 14:05
Bagikan
Bagikan

Oleh M. Fauzil Adhim

Agresi Amerika dan sekutunya ke Iraq kali ini, bukan terjadi secara mendadak. Tahun 1998, kelompok pemikir konservatif yang tergabung dalam Project for the New American Century, mengajukan proposal kepada Bill Clinton. Kelompok yang terdiri 18 pemikir ini memperingatkan Bill Clinton bahwa containtment (pembendungan) –tindakan semacam boikot, embargo sekaligus isolasi—yang diberlakukan bagi Irak, telah gagal total. Proposal ini rupanya kurang mendapat respon dari Clinton, sehingga tidak ada tindak-lanjut.

Lima tahun kemudian, separo dari 18 penandatangan yang ketika itu tidak memiliki kewenangan apa-apa, telah menjadi pejabat tinggi kepercayaan George W. Bush. Mereka antara lain Donald Rumsfeld yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Paul Wolfiwitz, mantan dubes AS di Indonesia yang sekarang menjadi deputi Menhan; dua pejabat tinggi Deplu, yakni Richard Armitage dan John Bolton; serta Elliot Adams, pejabat tinggi di Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat. Begitu Gatra, 5 April 2003, melaporkan.

Tidak dipungkiri perang Iraq adalah untuk kepentingan Israel. Koordinasi Amerika dengan Israel terus digencarkan semenjak perang belum dimulai. Penggunaan Jeep Humve dalam perang kali ini misalnya, merupakan rekomendasi dari arsitek perang Israel berdasar pengalaman melumpuhkan perlawanan Palestina. Menyusul kegagalan koalisi Amerika melakukan penghancuran Irak sesuai rencana, Amerika juga dengan sigap berkoordinasi dengan Israel. Senin, 31 Maret lalu, Colin Powell melapor kepada AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) –sebuah lembaga lobi Yahudi yang sangat berpengaruh di mana Menlu Colin Powel kemarin sempat mengancam Iran dan Suriah— untuk mendiskusikan langkah-langkah ke depan.

Langkah koordinasi Amerika-Israel ini membenarkan dugaan bahwa perang Irak ini bukanlah untuk membebaskan rakyat Irak dari penindasan, tetapi untuk meluaskan daerah jajahan Israel. Ini juga berarti bahwa Irak bukanlah satu-satunya. Ada negara lain yang menjadi target berikutnya untuk kepentingan zionisme internasional. “Irak itu cuma permulaan,” begitu kutipan New York Times. Ini bukan isapan jempol belaka. Majalah Esquire bahkan telah menyajikan secara gamblang negara berikutnya yang menjadi target berikutnya kebiadaban Israel melalui tangan kejam Pentagon. Dalam artikelnya berjudul “The Pentagon’s New Map”, ahli strategi Pentagon bernama Thomas P.M. Barnett menunjukkan negara-negara yang menjadi burun Amerika selain Irak, Iran dan Korea Utara tak lain kelompok The Axis of Evil (Poros Kejahatan Dunia)..

Baca Juga

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

Beberapa negara yang menjadi target berikutnya, ironisnya, justru yang sekarang membantu Amerika dalam serangan ke Irak, Qatar, Arab Saudi dan Yordania. Negara lain yang ada dalam daftar adalah Republik Demokratik Kongo, Libanon, Bahrain, Pakistan termasuk Indonesia. Bersama Israel, negara-negara tersebut dimasukkan dalam apa yang disebut oleh Pentagon sebagai “Titik Panas yang Akan Datang”. Bedanya, Israel adalah titik panas yang akan datang yang harus dibela oleh Amerika.

SaraLee dan Pepsi

Kejahatan kemanusiaan luar biasa (extraordinary humanity crime) yang dilakukan koalisi Amerika di Irak sekarang tidak lepas dari ambisi Israel untuk meluaskan wilayah jajahan. Michael Colin Piper, penulis buku “Final Judgment: The Missing Link in the JFK Assassination Conspiracy”menunjukkan bahwa keberingasan Amerika di Irak adalah untuk memenuhi lobi Israel.

Penulis yang juga pemikir asal Amerika ini mengatakan bahwa perang ke Iraq bisa berjalan mulus, maka Israel akan sukses menghapuskan wilayah Palestina dengan mudah. Rencana terselubung nini tak lain berkenaan dengan impian besar Israel –melalui tangan AS—untuk memperluas wilayah jajahan.

Keganasan Israel –kali ini dengan meminjam tangan Amerika—tidak lepas dari dukungan yang sangat besar dari berbagai perusahaan. Di antara perusahaan yang pernah memperoleh Jubilee Award –penghargaan tertinggi Israel kepada perusahaan yang memberi sumbangan terbesar untuk perjuangan Israel—adalah Coca-cola Company dan SaraLee.

Berbeda dengan Coca-cola, inminds.com melaporkan bahwa Pepsi bersikap angin-anginan. Sekedar catatan, Coca-coal sudah berperan aktif untuk mendanai kejahatan zionisme Yahudi secara konsisten sejak tahun 1966. Pada tahun 1997, Misi Ekonomi Pemerintah Israel menganugerahkan kepada Coca-cola Company pada jamuan makan malam Israel Trade Award atas dukungannya yang penuh secara terus-menerus kepada ambisi Israel dan atas perannya menolak keputusan boikot Israel dari Liga Arab.

Bertolak-belakang dengan Coca-cola, Pepsi memberi dukungan pada keputusan Liga Arab untuk memboikot Israel yang berakhir pada bulan Mei 1991. Setahun kemudian, yakni 1992, Pepsi menjalin hubungan dagang dengan Israel.

Atas perannya yang sangat besar terhadap ambisi Israel, belum lama ini diumumkan bahwa Coca-cola akan membangun pabrik di atas tanah milik Palestina yang dirampas oleh Israel. Tanah di Kiryat Gat untuk pendirian pabrik Coca-cola ini sebagai imbalan atas sumbangan bernilai jutaan dolar yang diberikan oleh Coca-cola. Besarnya sumbangan Coca-cola ini sangat ditopang oleh tingginya angka penjualan produk-produk Coca-cola, serta banyaknya produk yang mereka hasilkan.

M. Fauzil Azim adalah seorang penulis buku dan dosen Psikologi di UII Yogyakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Inggris dan AS Mulai Terlibat Konflik
Tulisan selanjutnya Bayi Iraq Terancam Lahir Kerdil dan Cacat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Buku Pemikiran KH Ma’ruf Amin Diluncurkan, Ajak NU Tetap Berpegang pada Fikrah, Manhaj, dan Harakah

Berita
6 Agustus 2026 11:30
152 Warga Palestina Syahid pada Juli, Tertinggi Tahun Ini
‘Israel’ Siapkan Invasi Besar-Besaran di Tepi Barat, Ancam Perlakukan Seperti Gaza
Presiden Suriah: Tergulingnya Rezim Assad Diperlukan Bagi Timur Tengah
Ajak Masyarakat Shalat Berjamaah, Pemerintah Johor Kenalkan Semarak Maghrib dan Isya’

Terbaru

  • Nasyiatul Aisyiyah Gelar Muktamar ke-15, Dihadiri 6.700 Kader
  • Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
  • Serangan Houthi Lukai 11 Orang, Koalisi Saudi: Sengaja Targetkan Sipil
  • Menko Pangan: Ponpes dengan 1.000 Santri Lebih Boleh Bikin SPPG
  • Investigasi Drop Site: Ada Pejabat PBB Jadi Informan ‘Israel’
  • Mayoritas Orang Amerika Menentang Perang AS-Iran, Menurut Jajak Pendapat Reuters/Ipsos
  • Kebohongan Profesor Cambridge Jason Arday yang Diungkap Media
  • Dua Tentara Penjajah ‘Israel’ Tewas Akibat Bom di Lebanon Selatan
  • Malaysia Tegaskan Tak Akan Pulangkan Pengungsi Rohingya Jika Nyawa Mereka Terancam
  • Penjara Seumur Hidup Bagi Pemuda Afghanistan yang Menabrakkan Mobil ke Kerumunan di Munich Jerman

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?