Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Amerika dan Pampasan Perang

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 April 2003 07:53 7:53 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 April 2003 07:53
Bagikan
Bagikan

AS membagi-bagi pampasan pascaserangan ke Iraq dengan sekutunya, yaitu negara-negara yang ikut andil dalam agresi yang dinilai banyak kalangan melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional.

Serangan ke wilayah Irak hanya membunuh rakyat Iraq, mulai dari bayi hingga orang lanjut usia yang tidak berdosa. Layak bagi PBB untuk segera memperhitungkan kebijakannya terhadap Bush dan para pendukungnya.

Yang pasti, tentara AS sudah banyak berkorban, dengan biaya lebih dari 80 miliar dolar AS. Tujuannya, sejak awal siap menghancurkan segala macam potensi ekonomi Irak. Bush sangat mengharapkan agar sumur-sumur minyak Iraq supaya terjaga baik, walau pihak Iraq membumihanguskan terlebih dulu.

Potensi Minyak

Pakar perminyakan Bachrawi Sanusi menilai adanya dendam Bush terhadap Iraq, terutama sejak menjelang terjadi perang Oktober 1973 di Timur Tengah, saat Irak berhasil melakukan nasionalisasi Iraq Petroleum Co (IPC) senilai 350 juta dolar AS. IPC itu terdiri atas perusahaan minyak asing seperti British Petroleum Co Ltd, Cie Francaise des Petroles (CFP), Shell Petroleum Co Ltd, Near East Development Corp ( 50-50 Exxon Copr Mobil Oil Corp.)

Baca Juga

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

Terjadinya perang Oktober 1973 di Timur Tengah juga sebenarnya karena keberhasilan pihak AS yang membujuk Israel untuk menyerang Mesir dan Suria, serta pihak AS mampu memberi angin adu-domba kepada negara-negara Arab pengekspor minyak, khususnya Arab Saudi, agar melakukan embargo. Akibatnya, harga minyak dunia yang hingga bulan September 1973 hanya di bawah 2,50 dolar AS per barel terus melonjak menjadi belasan bahkan di atas 30 dolar AS per barel.

Dengan kenaikan harga ini, berarti ladang-ladang Migas, khususnya yang sudah ditemukan di Laut Utara/Laut Dalam, menjadi sangat ekonomis.

Karena itu, masih menurut catatan pengajar Universitas Trisakti Jakarta itu, salah satu hasil dari perang Oktober 1973 di Timur Tengah, terutama bagi Inggris dan Norwegia, adalah perubahan dari yang semula negara pengimpor minyak berbalik menjadi negara-negara pengekspor minyak hingga sekarang dan bahkan masa mendatang.

Walaupun perang Oktober 1973 juga berhasil membangkitkan berbagai energi alternatif, termasuk energi nuklir dunia, bangkitnya berbagai mesin-mesin yang serba hemat BBM, meningkatkan moneter/ekonomi negara-negara maju, dan lain-lain, namun bagi AS masih ada kerikil tajamnya. Kerikil itu ialah Saddam Hussein yang mampu memengaruhi OPEC dan terutama memengaruhi negara-negara Arab pengekspor minyak. Tidak heran ketika Dr Kissinger yang waktu itu sebagai Menteri Luar Negeri AS berupaya membubarkan OPEC, tetapi tidak berhasil. Kemudian pihak AS berhasil mengadu-domba antara Irak dan Iran. Bahkan terakhir, Iraq diadu-domba dengan Kuwait. “Semuanya itu telah menghasilkan kehancuran, terutama kehancuran ekonomi migas Iraq.”

Minyak Timur Tengah

Layak jika Bush makin berambisi untuk menggulingkan pemerintahan Saddam, karena dinilai sebagai penghalang bagi kemajuan perusahaan-perusahaan migas milik Bush beserta keluarga dan rekan-rekannya.

Dilihat dari cadangan minyak mentah dunia pada Januari 1995 sekitar satu triliun barel, dari jumlah ini terdapat di Irak sekitar 10%, Arab Saudi 26,1%, Persatuan Emirat Arab 9,8%, Iran 8.9%; Kuwait 9,7%, Qatar 0,2% . Semua negara di wilayah Timur Tengah itu tidak bisa berkutik menghadapi Bush, dan hanya Iraq saja. Karena itu, Saddam harus segera digulingkan.

Sebenarnya, kalau saja Irak tidak berhasil diadu-domba, sehingga terjadi perang antara Iran dan Irak pada tahun 1980-1988 dan perang dengan Kuwait Agustus 1990 yang berakhir Irak terkena embargo PBB hingga sekarang, maka potensi ekonomi migas Irak pasti makin besar. Tetapi karena pihak Bush tidak senang terhadap kebijakan politik Saddam, maka berbagai cara telah dilakukan dalam upaya menggulingkan.

Bachrawi mencoba memberi gambaran, GDP Irak pada tahun 1979 mampu mencapai angka tertinggi sepanjang kehidupan ekonomi Irak, yakni mencapai 104,6 miliar dolar AS. Dengan angka ini, maka GDP per kapita rakyat Irak mencapai sekitar delapan ribu dolar AS.

Tetapi karena berperang dengan Iran, maka GDP Irak pada tahun 1980 hanya 85,8 miliar dolar AS dan GDP perkapitanya sekitar enam ribu dolar AS.

Begitu juga setelah Iraq menyerang Kuwait, dan terkena embargo serta tekanan dari pihak AS dan sekutunya, maka GDP Irak pada tahun 1991 terus merosot menjadi 14,5 miliar dolar AS dan GDP perkapitanya hanya 780 dolar AS, dan pada tahun 1993 GDP Irak hanya 12,6 miliar dolar AS dan GDP per kapitanya hanya sekitar 600 dolar AS. Bush dan sekutunya memperkirakan, serangan terhadap Irak dapat diselesaikan dalam waktu singkat, dan Iraq diharapkan akan bangkit lagi sekiranya orang-orang Bush di Iraq sebagai pengganti Saddam Hussein mulai pegang peranan.

Iraq bagi AS dan sekutunya tidak seperti Afghanistan, Somalia, dan Aljazair. Negeri 1001 Malam itu punya keunikan tersendiri yang menarik bagi Bush untuk mengatur negeri itu pascaagresi. Wajar jika Bush dan sekutunya tidak memperbolehkan pihak lain termasuk PBB ikut campur urusan Irak pascaperang, terutama mengatur pampasan perang berupa minyak. (A Adib, dari Analisis Berita Suara Merdeka, Senin, 7 April 2003)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya AS Akan Segera Menguasai Minyak Iraq
Tulisan selanjutnya Mullah Umar Serukan Umat Islam Melawan AS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Korea Selatan Mencatat Rekor Suhu Udara Terpanas 42,5 Derajat Celsius

Berita
2 Agustus 2026 16:43
Presiden Iran Kesulitan Berkomunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei
152 Warga Palestina Syahid pada Juli, Tertinggi Tahun Ini
Satu Nyawa Yahudi Setara 10 Juta Warga Palestina, Pengacara ‘Israel’ Serukan Pembersihan Etnis
Ajak Masyarakat Shalat Berjamaah, Pemerintah Johor Kenalkan Semarak Maghrib dan Isya’

Terbaru

  • Nasyiatul Aisyiyah Gelar Muktamar ke-15, Dihadiri 6.700 Kader
  • Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
  • Serangan Houthi Lukai 11 Orang, Koalisi Saudi: Sengaja Targetkan Sipil
  • Menko Pangan: Ponpes dengan 1.000 Santri Lebih Boleh Bikin SPPG
  • Investigasi Drop Site: Ada Pejabat PBB Jadi Informan ‘Israel’
  • Mayoritas Orang Amerika Menentang Perang AS-Iran, Menurut Jajak Pendapat Reuters/Ipsos
  • Kebohongan Profesor Cambridge Jason Arday yang Diungkap Media
  • Dua Tentara Penjajah ‘Israel’ Tewas Akibat Bom di Lebanon Selatan
  • Malaysia Tegaskan Tak Akan Pulangkan Pengungsi Rohingya Jika Nyawa Mereka Terancam
  • Penjara Seumur Hidup Bagi Pemuda Afghanistan yang Menabrakkan Mobil ke Kerumunan di Munich Jerman

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?