Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Kimse Yok Mu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Juli 2011 13:06
Bagikan
Bagikan

Oleh:   Hamid Fahmi Zarkasyi

“Kimse Yok Mu”, itulah tulisan yang terpampang dalam sebuah bangunan tiga lantai di pusat kota Istanbul Turkey. Makna tulisan itu ternyata historis. Ceritanya pada August 17, 1999 di Turkey terjadi gempa bumi berkekuatan 6,1 skala richter.

Akibatnya beberapa gedung bertingkat roboh, korban berjatuhan. Seorang nenek yang tua renta tertimbun di reruntuhan bahan bangunan. Syukur ia masih hidup. Tapi tidak seorangpun datang menolongnya. Ia berteriak-teriak “Kimse Yok Mu…. Kimse Yok Mu… kimse yok mu… ” artinya apakah ada orang disitu. Ternyata nenek itu tidak sendirian. Yang lain pun berteriak sama kim se yok mu… kim se yok mu…. Banyak lembaga bantuan kemanusiaan, tapi tidak semua bekerja cepat dan sesuaidengan hajat korban. Memang.

Nenek dan korban-korban lain itu pun diselamatkan oleh LSM dari dalam negeri Turkey sendiri. Stasiun TV Samanyolu turun tangan. Kimse Yok Mu seperti terdengar di seantero Turkey. Negeri yang telah disekulerkan puluhan tahun itu ternyata masih menyisakan prinsip berkhidmah dalam Islam yang besar pahalanya itu.

Tapi kasus nenek-nenek itu bukan pemicu kesadaran berkhidmat. Adalah Fathullah Gulen, seorang guru bangsa, yang memetikkan api khidmah itu. Maka, salah satu program S TV diberi nama “Kimse Yok Mu”. Inilah yang mengilhami berdirinya LSM dan sekaligus mengambil nama dari keluhan nenek itu “Kim Se Yok Mu”. Program TV itu semakin hari semakin banyak pemirsanya. Donasi yang diberikan oleh para donator itu diluar dugaan program TV.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Pada tahun 2002 didirikanlah sebuah asosiasi untuk menampung jumlah donator yang semakin meningkat itu. Asosiasi yang kemudian dinamakan Kimse Yok Mu itu pada bulan Maret, 2004 berkembang menjadi organisasi yang bertaraf internasional. Tapi ia bukan organisasi yang menadah bantuan asing. Bukan pulan LSM yang menunggu program Negara Barat untuk liberalisasi. Ini adalah LSM yang murni dari kesadaran umat Islam di Turkey sebagai lembaga batuan kemanusiaan.

Maka ketika tsunami menimpa Indonesia pada tahun 2004, telpun kantor Kimse Yok Mu yang baru berdiri itu tidak pernah berhenti berdering. Umat Islam disana seperti wanti-wanti “anda harus tampil membantu korban”. Perjalanan pertama bantuan kemanusiaan ini disusul setahun kemudian dengan bantuan terhadap gempa bumi di Pakistan.

Dengan kedua pengalaman internasional diatas Kimse Yok Mu semakin memperkuat misi kemanusiaannya. Misinya berturut-turut dikirim ke Palestine-Lebanon, Peru, Bangladesh, Sudan-Darfur, Georgia-Ossetia, Myanmar, China, Gaza and Haiti. Bahkan bukan hanya itu, bantuan kemanusiaan Kimse Yok Mu terkadang berubah menjadi distribusi zakat dan sadaqah di bulan Ramadhan ke 60 negara di dunia.

Dengan 28 cabangnya di berbagai kota di Turkey, di ulang tahunnya yang ke 7 Kimse Yok Mu telah dapat membuat divisi-divisi bantuan. Sekurangnya telah ada 7 kategori yang ditangani seperti bantuan bencana, kesehatan, pendidikan, individu, bantuan keluarga miskin Afrika. Dari kategori tersebut bantuan terhadap keluarga bermasalah mengambil porsi terbesar.

Asosiasi Kimse Yok Mu memang bukan model LSM yang membantu lantas pasang nama. Usahanya memakmurkan dunia untuk setiap orang tidak melalui wacana teologis. Tidak terdengar disitu teologi pembebasan a’la Asghar Ali atau teologi anthropomorphis model Hasan Hanafi. Mereka adalah orang-orang Ahlussunnah wal Jama’ah. Tidak anda potongan untuk dituduh teroris atau salafi. Tidak tercium pula bau-bau liberal sekuler yang ekstrim. Ideologinya hanya satu kata hismat.

Organisasinya bermisi hismat. Organisatornya berjiwa hismat. Pekerja lapangannya bermental hismat.

Kimse Yok Mu adalah LSM yang membantu dan Karena itu dibantu. Kini ia tidak perlu bergerak di masjid-masjid dengan edaran kotak amal atau berkoar-koar dijalan-jalan meminta belas kasih donatur. Kini ia hanya membuka pintu kantornya lebar-lebar untuk menunggu calon donator yang berjiwa hismat. Mereka hanya seperti pasang maklumat: “Kami telah membangun jembatan kasih sayang bagi dunia.

Adakah di antara kalian yang mau melewatinya? Mungkin ini boleh jadi jembatan siratal mustaqim yang tidak dapat dilalui kecuali oleh mereka ikhlas berkhidmat atau berhismat.*

Penulis adalah Direktur Program PKU ISID

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tentara Yaman Berupaya Rebut Kota Zinjibar
Tulisan selanjutnya Tiga Kapal Prancis Dibajak Zionis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kelompok Pro-Zionis Teror Media Australia dengan 40 Ribu Email Komplain

Berita
23 September 2026 17:08
PBB Identifikasi 214 Perusahaan Berkaitan dengan Pemukiman Ilegal Yahudi Israel
Orang Terkaya Afrika Bantu Pembangunan Jaringan Pipa BBM antara Ethiopia dan Djibouti
LPH Hidayatullah Perkuat Kemitraan dengan Maybank, Fasilitasi 1.000 Sertifikat Halal untuk UMK Indonesia
Presiden Brazil Teken Larangan Judi Online

Terbaru

  • Ubah Tradisi, Rektor UNIDA Gontor Ajak Dosen Jadi Magnet Keilmuan Mahasiswa karena Kepakarannya
  • UNIDA Gontor Kukuhkan 4 Guru Besar Baru, Dorong Tradisi Kepakaran Keilmuan
  • Jadi Beban dan Masalah, Malaysia Repatriasi Ribuan Pengungsi dan Migran Myanmar
  • Negara Bagian California Tetapkan Idul Fitri dan Idul Adha sebagai Hari Libur Resmi
  • Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
  • Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi
  • Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100
  • Timnas Irlandia Tolak Jabat Tangan dengan ‘Israel’ sebelum Libas Tiga Gol Tanpa Balas
  • Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut Amerika di Selat Hormuz
  • Warga Maroko di Belasan Kota Gelar Demo Tolak Normalisasi Pemerintahnya dengan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?