Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Ahlussunnah dan Sikap Caci-maki Ulama

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Januari 2012 11:50 11:50 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Januari 2012 11:50
Bagikan
Bagikan

Oleh: Khairil Miswar

BEBERAPA waktu lalu penulis sempat terjebak dalam status Facebook milik seseorang yang mengakui dirinya sebagai seorang santri dan sekaligus seorang mahasiswi di salah satu Universitas Swasta di Aceh.

Dalam status Facebook wanita tersebut penulis mendapati puluhan bahkan ratusan komentar yang menyudutkan para ulama, khususnya para ulama penegak sunnah. Diantara ulama yang menjadi sasaran Facebooker tersebut adalah Syeikhul Islam Ibnu Tamiyah رحمه الله , Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab رحمه الله dan Syeikh Muhammad Nahieruddin Al Al bani رحمه الله .

Dalam banyak kasus, kejadian seperti ini juga terjadi di masarakat. Pelakunya bahkan tokoh terpandang dalam Islam .

Entah apa yang menyebabkan saudara kita tersebut sangat membenci para ulama. Dalam status Facebook tersebutdia bukan saja mencaci tetapi sampai menyesatkan dan bahkan mengkafirkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله . Sungguh sangat disayangkan apalagi kata – kata cacian tersebut keluar dari mulut (via Facebook) seorang wanita yang mengaku dirinya sebagai seorang santri.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Penulis juga pernah menjadi santri selama sebelas tahun (umur 7 tahun sampai 18 tahun ). Sebagai mantan santri penulis juga sangat keberatan dengan ulah orang – orang yang menghina ulama. Pada dasarnya penulis tidak bermaksud memperlebar persoalan ini apalagi hal tersebut terjadi di dunia maya, namun mengingat para ulama yang menjadi sasaran, maka sangat tidak etis rasanya apabila dibiarkan begitu sja.

Abu Darda رضى الله عنه meriwayatkan sebuah hadits bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم pernah bersabda: “ Sesungguhnya para Ulama adalah pewaris para Nabi, Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu” ( H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Berpedoman pada hadits ini sebagai umat Muhammad صلى الله عليه وسلم sudah selayaknya kita menghormati para ulama. Dalam hadits ini juga terlihat jelas bahwa para ulama dihormati karena ilmunya, adapun orang – orang yang bergaya sok ‘alim tapi tidak berilmu maka tidak dikatagorikan sebagai ulama. Menurut penulis persoalan ini harus benar – benar difahami khususnya bagi para penuntut ilmu semisal santri dan mahasiswa.

Pembimbing umat

Ulama adalah orang – orang yang dianugerahkan ilmu oleh Allah سبحا نه وثعالى, namun demikian ilmu itu mereka peroleh melalui proses belajar yang panjang, bukan melalui proses bertapa atau semedi seperti yang disangka oleh sebagian orang. Ulama adalah penunjuk jalan dan pembimbing umat setelah wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم. Jika yang
mereka sampaikan adalah ilmu yang berasal dari Allah سبحا نه وثعالى dan Rasulnya صلى الله عليه وسلم sangat tidak layak dan tidak patut bagi kita untuk mencela mereka apalagi sampai menuduh mereka sesat.

Apalagi jika ilmu kita masih dibawah mata kaki (bahasa Aceh; ‘et tum’et). Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama rabbani yang tidak pantas kita cela apalagi ilmu yang kita miliki tertinggal jauh jutaan kilometer dari ilmu beliau. Umur sepuluh tahun beliau
telah hafal Al–Quran dan menguasai berbagai macam ilmu syar’i seperti hadits, ushul fiqh dan tafsir sedangkan kita membaca “Bismillahirrahmanirrahim” saja harus merangkak seperti kura – kura keracunan.

Demikian juga dengan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Syeikh Muhammad Nashieruddin Al – Al Bani mereka adalah ahli ilmu bukan ahli fitnah seperti kita. Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan semangat jihadnya telah menghancurkan berbagai bentuk simbol – simbol kesyirikan yang disembah dan dipuja oleh “Ahlul Hawa” (pengikut hawa nafsu). Seharusnya kita berterima kasih kepada beliau bukan malah sebaliknya menuduh beliau sesat. Sejarah juga telah mencatat bahwa Syeikh Al Bani menghabiskan waktunya lebih dari dua puluh tahun hanya untuk meneliti hadits, tidak seperti kita yang setiap hari tersibukkan dengan judi poker malah tiba–tiba berani menyesatkan beliau. Syeikh Al Bani membeli makanan untuk diri dan keluarganya melalui jerih payahnya dengan usaha reparasi jam, bukan seperti orang – orang yang mengaku ‘alim hari ini yang tersibukkan dengan proposal dan mengiba kepada penguasa.

Jangan Tertipu Penghasut

Penulis menduga bahwa saudara kita yang menghina ulama di Facebook tersebut telah termakan oleh cerita – cerita dusta yang sengaja dihembuskan oleh “Ahlul Hawa”. Tujuan mereka tidak lain Cuma ingin menjerumuskan umat ini dalam kesesatan. Mereka menisbatkan cerita – cerita dusta dan palsu kepada ulama ahlussunnah semisal
Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahab. Cerita – cerita dusta tersebut menurut penulis kemungkinan besar ditularkan beberapa penulis buku. Sebenarnya sah – sah saja membaca buku tersebut, namun sebagai seorang yang hidup dilingkungan ilmiyah (mahasiswa dan santri) seharusnya mereka harus mampu membandingkan isi buku tersebut dengan ratusan referensi lain yang menyajikan fakta berbeda. Sebaiknya jangan hanya terpaku dengan buku – buku yang berasal dari satu sumber. Bagi seorang mahasiswa dan santri kemampuan analisa sangat dibutuhkan agar mampu bersikap bijak dan mampu melahirkan kesimpulan yang tidak keluar dari standar ilmiyah.

Tak Pantas Menghinakan Ulama

Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik رضى الله عنه, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidak beriman seseorang daripada kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (H.R Bukhari dan Muslim).

Jika kita mau berfikir sehat dan rasional tentunya hadits ini bisa menjadi dasar bagi kita untuk saling mencintai sesama muslim, bukan sebaliknya saling mencaci dan menghujat. Dalam hadits lain yang juga terdapat dalam sahih Bukhari dan Muslim, bersumber dari Abdullah bin Mas’ud رضى الله عنه, Rasul صلى الله عليه وسل bersabda: “Membenci seorang muslim adalah sebuah kefasiqan dan memerangi mereka adalah sebuah kekafiran” (H.R. Bukhari
Muslim). Tidakkah kita faham apa yang dimaksud oleh Nabi صلى الله عليه وسلم? Kita dilarang untuk membenci dan menghujat seorang muslim.

Apalagi yang kita hujat itu adalah ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dan juga ulama – ulama lainnya. Kita juga jangan tersegasa – gesa menuduh mereka (ulama) telah sesat. Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Dzar Al Ghifari رضى الله عنه, Rasul صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa memanggil seseorang dengan sebutan kafir atau menyebutnya sebagai musuh Allah sedangkan
(mereka yang dituduh) tidak demikian (bukan kafir) maka kekafiran itu akan kembali kepadanya (sipenuduh). Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam Shahihnya.

Sebagai seorang santri dan mahasiswa yang mengaku dirinya sebagai ahlussunnah waljama’ah perlu dicatat, diingat dan jika perlu harus dihafal bahwa salah satu ciri – ciri ahlussunnah waljama’ah adalah tidak mudah mencaci –apalagi– mengkafirkan orang lain. Perilaku yang mudah mengkafirkan orang mukmin adalah perilaku khawarij, jangan sampai kita menyamai mereka dalam hal ini.

Akhirnya hanya kepada Allah kita semua akan kembali sambil mengharap wajahNya serta diampuni segala dosa dan kesilapan yang telah terlanjur kita perbuat. Wallahu Waliyut Taufiq.

Penulis adalah alumni IAIN Ar – Raniry Banda Aceh / Peminat Kajian Sosial dan Keagamaan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pelajaran Dari Bangsa Burung
Tulisan selanjutnya Senyum Sumringah Salafy di Parlemen Mesir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?