Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Pembunuhan Pasukan Penjajah Atas Warga Sipil Afghanistan “Selalu Ditutupi”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Agustus 2014 14:07 2:07 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Agustus 2014 13:48
Bagikan
Bagikan

Oleh: Nick Barrickman

LAPORAN yang dirilis oleh Amnesty International, Yang Tertinggal dalam Kegelapan: Kegagalan Pertanggungjawaban terhadap Korban Sipil yang Disebabkan oleh Operasi Militer Internasional di Afghanistan, menyelidiki pembunuhan massal terhadap warga sipil dalam beberapa tahun terakhir di bawah pendudukan yang dipimpin Amerika Serikat di Afghanistan.

Amnesty menyelidiki hampir selusin kasus pembunuhan massal oleh NATO dan Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) yang berlangsung antara tahun 2009 dan 2013. Laporan ini berfokus pada peran yang dimainkan oleh pejabat pasukan pendudukan AS karena faktor dominan mereka di ISAF, sebagai kekuatan utama pendudukan internasional di Afghanistan.

“Kita mengamati, tak satu pun dari kasus yang melibatkan kematian lebih dari 140 warga sipil dituntut oleh militer AS,” demikian laporan itu menyimpulkan. “Bukti kemungkinan adanya kejahatan perang dan pembunuhan di luar hukum, tampaknya telah diabaikan.”

Sejumlah saksi telah diwawancarai oleh berbagai kelompok lokal, termasuk organisasi hak asasi manusia, polisi Afghanistan, dan penyelidik PBB. Namun, hanya dua saksi saja yang telah menyampaikan laporan kepada penyidik militer, yang dapat “membawa pelakunya ke dalam penuntutan pidana”.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Hal ini terutama disebabkan, tulis laporan itu, sistem peradilan militer yang berdasarkan “perintah komandan “, yang didasarkan “kebijakan tertentu”. Dengan kata lain, kejahatan perang tersebut umumnya digolongkan ke dalam impunitas (kekebalan hukum).

Meskipun sebagian besar kematian warga sipil juga disebabkan oleh serangan Taliban –para penyusun laporan mencatat, statistik ini terlihat sebagian besar terjadi saat penarikan pasukan pendudukan dan pergeseran kepada pasukan pemerintah Afghanistan– namun dalam delapan bulan pertama tahun 2007 saja, “pasukan pro-pemerintah” yang dipimpin oleh AS bertanggung jawab atas hampir separuh dari semua kematian warga sipil.

Laporan ini menjelaskan beberapa kejadian di mana sejumlah besar warga sipil tewas oleh operasi ISAF.

Ini termasuk:

* 4 September 2009: pemberondongan oleh jet tempur F-15E terhadap dua kendaraan pembawa bahan bakar di Sungai Kunduz, yang terjadi setelah pihak berwenang melaporkan pencurian pembawa bahan bakar tersebut oleh pejuang. Laporan ini mencatat bahwa, “Daripada meninggalkan pembawa bahan bakar tersebut begitu saja, para pejuang membuka (tangki) pembawa bahan bakar untuk mengosongkan bahan bakar,” yang mendorong penduduk setempat melakukan hal yang sama. “Puluhan pria dan anak laki-laki bergegas ke daerah itu; untuk mengambil dan membawa pulang bahan bakar secara gratis,” kata laporan itu mengutip seorang saksi mata.

Komandan ISAF memerintahkan menghancurkan kendaraan pembawa bahan bakar tersebut. Pada jam 1:20 pagi hari berikutnya, dua jet menembaki pembawa bahan bakar dengan beberapa bom seberat 500 kg yang bisa dipandu, membunuh sebanyak 142 orang.

* Pembunuhan lima orang, termasuk dua wanita hamil, di satu pesta di provinsi Paktia pada 12 Februari 2010. Pasukan Khusus AS menggerebek rumah milik Haji Sharabuddin (70 tahun), yang sedang mengadakan acara keluarga merayakan kelahiran cucunya. Setelah meminta orang yang datang untuk “bubar”, tim pasukan komando elit kemudian menembaki siapa saja yang berada di pintu, termasuk dua wanita hamil yang mencoba mencegah orang lain ditembak.

Laporan AI mengutip Pelapor Khusus PBB, bahwa khususnya serangan malam hari “selalu berbahaya bagi warga sipil,” dan tidak ada perhitungan yang akurat yang dilakukan oleh pasukan pendudukan atas korban tewas sipil atas segala tindakannya.

Satu-satunya badan militer yang bertugas mengawasi kematian warga sipil, Joint Incident Assessment Teams (JIATs), sebagian besar ompong, tidak melakukan “fungsi investigasi,” jelas laporan Amnesty. Pergerakan badan-badan tersebut biasanya dilakukan hanya berdasarkan “insiden yang telah mengakibatkan sejumlah besar korban sipil atau yang telah mendapat perhatian politik”, yang dengan kata lain peristiwa tersebut tidak bisa lagi dapat diabaikan.

Amnesty International pun hanya menjumpai enam kasus penuntutan terhadap tentara atas pembunuhan warga sipil Afghanistan. Keadaan ini sebagian besar karena tentara –mengikuti tindakan rekannya– untuk mencari mata rantai komando. Laporan ini juga mencatat, “sangat jarang orang-orang Afghanistan sendiri diminta bersaksi dalam kasus-kasus tersebut”.

Yang paling terkenal dari insiden tersebut adalah pada Maret 2012 berupa pembunuhan terhadap 16 warga Afghanistan oleh sersan Angkatan Darat AS Robert Bales di provinsi Kandahar di Afghanistan selatan. Pada saat itu, banyak politisi, termasuk Presiden Obama, dan kemudian Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, yang hanya mengatakan tindakan Bales sebagai “tentara nakal” dan membenarkan tujuan keseluruhan pendudukan.

Bahkan, laporan AI menunjukkan, alih-alih menangani “apel busuk,” kekejaman seperti pembantaian semacam di Kandahar tampak umum dan sering tidak dilaporkan oleh penjajah militer di Afghanistan, dan tindakan penindasan berdarah terhadap penduduk merupakan tujuan imperialisme AS secara keseluruhan.

Laporan ini juga belum menghitung jumlah insiden serupa yang melibatkan hampir 100.000 kontraktor militer swasta yang beroperasi di Afghanistan. Mengingat banyaknya ‘pasukan-pasukan” semacam ini, serta tidak adanya pengawasan terhadap kelompok-kelompok ini, kejadian-kejadian yang dilakukan di sektor militer swasta ada kemungkian juga cukup banyak.

Tragedi yang juga cukup besar sebagaimana dilakukan oleh pesawat tanpa awak Aerial, atau drone, yang menjadi andalan strategi pertempuran Obama, sebagaimana insiden pada warga sipil di pos pemeriksaan yang salah mengartikan perintah, sehingga mengakibatkan sejumlah pembunuhan.

Yang disebut Amerika Serikat “penarikan” (pasukan) dari Afghanistan sebagaimana dinyatakan Obama pada bulan Mei tahun ini, sebenarnya masih menempatkan sekitar 10.000 tentara di Afghanistan sampai tahun 2015, dan semua pasukan AS akan berada dalam “selimut pemerintah” guna memperoleh kekebalan (hukum).*/Tulisan ini dimuat di Global Research pada 17 Agustus 2014.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AfghanistanAmerika Serikat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Abdullah Gul: Davutoglu Sepertinya akan Jadi PM Turki
Tulisan selanjutnya Virus Ebola Sampai di Austria, Dua Pria Dikarantina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?