Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Bangsa Patah Leher dan Momentum Kebangkitan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Mei 2015 12:00 12:00 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Mei 2015 11:20
Bagikan
Bagikan

Oleh: Yacong B. Halike  

DI LINGKUNGAN Pesantren saya ada kelakar jenaka yang populer khususnya di kalangan para santri; patah leher. Seperti berzikir khusyuk, memang, tapi sebenarnya berdengkur nikmat.

Frasa ini sejatinya adalah seloroh sindiran untuk santri yang ngantukan. Umumnya santri yang dijuluki demikian bisa tidur duduk bersila lepas shalat dengan tengkuk layaknya patah.

Karena itu, alih-alih duduk di ruang kelas seraya mengkaji kitab dengan khusyuk, ia malah tidur mendengkur.  Di sinilah kemudian istilah itu bermula.

Namun, sekarang kita tidak sedang membahas itu. Belakangan menyembul gejala “patah leher” baru yang rasanya lebih menarik untuk kita bincangkan.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Bedanya, patah leher era baru ini bukan bermuasal karena olah fisik melelahkan, tetapi lebih dipengaruhi gaya hidup modern yang oleh Sammy Margo dari Chartered Society of Physiotherapy, Inggris, disebut sebagai fenomena text neck.

Istilah text neck sebenarnya kali pertama dikemukakan oleh chiropractor (ahli terapis tulang) asal Amerika Serikat, Dean Fishman. Fenomena yang disebut Fishman sebagai epidemik global ini merupakan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh keranjingan gadget. Peneliti di bidang ini menitikberatkan kajiannya pada bagaimana penggunaan gadget/ smartphone dapat mempengaruhi kesehatan terutama karena kepala yang kerap menunduk dalam tempo lama.

Di sebuah laporan medis diketahui bahwa saat kondisi normal, kepala kita beratnya sekitar 4,5 sampai 5,5 kilogram. Pada saat menunduk sebanyak 15 derajat saat menggunakan ponsel, beratnya menjadi 12 kilogram. Berat kepala dapat mencapai 27 kilogram jika menunduk pada 60 derajat.

Bagi maniac gadget, boleh jadi akan segera menepikan riset-riset yang dianggap tidak penting dan mengganggu tersebut. Tapi faktanya, memang, kita melihat dan juga mungkin merasakan ada gejala abnormal terhadap pemanfaatan perangkat teknologi hari ini.

Tanpa bermaksud menggeneralisir atau mencoba mendemoralisasi, namun kasus asusila belum lama ini seperti prostitusi anak usia belia di apartemen Kalibata City, praktik pelacuran kelas kakap oknum selebriti dan Deudeuh Alfisahrin di Tebet, serta marak prostitusi online lainnya, adalah fenomena gunung es yang terutama dipicu oleh “leher yang patah”.

Kita melihat gejala bahwa ada hal ihwal gasal yang ironi dan patut diperhatikan dimana umumnya anak-anak muda kita, nampaknya,  sedang terjangkit hawar patah leher.

Patah leher di sini adalah padanan metaforis untuk sengaja mencela kita yang tak sempat lagi menyapa kanan kiri. “Leher yang patah” telah menihilkan kedekatan empatik dan di waktu yang sama menawarkan keramaian palsu. Tak ternyana, ia kemudian terakumulasi menjadi egosentrisme akut yang tak lagi menganggap penting relasi komunal.

Sehingga akhirnya terjadilah, misalnya, peristiwa penelantaran anak meski orangtua secara akademik (juga ekonomi) sangat mumpuni. Pun fenomena hunian indekos dan apartemen yang menjadi tempat prostitusi di tengah pemukiman elit nan ramai secara zahir.

Patah leher telah menggiring pribadi (dan bangsa) menjadi tak acuh, menegasikan interaksi verbal, yang puncaknya meminggirkan imanensi seraya memungut irasionalitas sebagai pedoman arah. Lalu tak lama mencuatlah narasi angkuh: “Dosa urusan gue dengan Tuhan, bukan urusan lu”.

Nahasnya, terdapat jurang menganga yang sewaktu-waktu bisa saja menyedot anak-anak muda hari ini menjadi “generasi patah leher” menahun. Kita jelas khawatir dengan masa depan generasi bangsa yang tidak ringan di tengah jumpalitan anomali bangsa ini.

Momentum Kebangkitan

Kita tentu khawatir akan sakit dan meluasnya epidemi global text neck meski di Indonesia sendiri gangguan kesehatan ini relatif baru terdengar. Karenanya, sudah waktunya kita untuk segera menegakkan leher yang sudah cukup lama menunduk. Mari menengadah, mari berpaling ke kanan dan kiri. Sapalah istri, anak, jenguk tetangga, sapalah setempat duduk kita.

Kita optimis di tengah pertumbuhan bisnis e-commerce di Indonesia yang menunjukkan peningkatan grafik yang luar biasa dan umumnya dilakoni oleh anak-anak muda kreatif. Namun di waktu yang sama kita miris dengan laku pemanfaatan teknologi yang justru jauh dari kata smart.

Saat ini ada setidaknya 30 juta orang remaja di Indonesia yang mengakses internet secara reguler. Diprediksi masyarakat Indonesia saat ini memiliki 75 juta pengguna internet, maka itu berarti hampir setengah pengguna internet di negeri ini adalah remaja.

Dari data yang dirilis Menkomnfo tersebut bisa ditebak anak-anak Indonesia, yakni kita kita ini, telah menjadi konsumen jumbo untuk komoditas pasar global termasuk di dalamnya gadget teknologi. Tak heran setiap kali ada rilis terbaru produk smartphone selalu ludes bahkan dalam hitungan menit. Memang tak dielakkan, perubahan dalam dunia teknologi informasi selalu mengalami percepatan setiap waktu.

Ekonom Muhaimin Iqbal mengemukakan bahwa perubahan cepat semacam ini turut merotasi jenis-jenis profesi yang juga berubah secara drastis. Dia mencontohkan, hanya dalam dua atau tiga generasi di Amerika (sekitar 150 tahun), pekerjaan petani yang dahulunya dilakukan oleh 90 % penduduk Paman Sam, kini tinggal 2 %-nya saja yang tetap bekerja di sektor ini.

Dengan perkembangan teknologi saat ini menjadikan berbagai profesi “terpaksa” menyesuaikan diri dengan perkembangan agar tidak tergusur oleh solusi teknologi sebagaimana tergusurnya sebagian besar profesi para petani di negeri maju tersebut di atas.

Kita kini hidup dalam belantara informasi. Namun, ditegaskan Muhaimin, bahwa di belantara era informasi inipun petunjuk kita tetap sama, yaitu petunjuk Tuhan yang menjamin kita tidak akan celaka, tidak akan tersesat, bersedih dan khawatir.

Mari lebih sering memandang ke sekitar kita dengan mata hati dan rasa empati. Mari mulai menyapa dalam dekat sebab kita masih punya asa dan peduli sesama. Kiranya kepala masih terus menunduk dalam pekur sibuk di ranah maya, kita rasanya pesimis kebangkitan bangsa mewujud nyata.

Saya lalu teringat dengan pesan elektronik bergerak yang menggantung pada panel atap KRL Commuter Line Bogor-Jakarta Kota sejak beberapa hari ini dalam rangka menyambut peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei.

Pesan itu berbunyi: Hanya Bangsa yang Sakit yang Tak Pernah Bangkit!

Penulis adalah kerani Pinopini.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kaum mudaKebangkitanPemuda
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Biksu Buddha Pembenci Muslim Rohingya Jadi Sorotan Dunia
Tulisan selanjutnya Refleksi Harkitnas: Kita Sudah Dimana?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Berita
14 Juli 2026 19:51
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Terbaru

  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?