Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Adzan di Acara Natal dan Masalah Toleransi [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Desember 2015 13:37 1:37 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Desember 2015 13:36
Bagikan
Natal Bersama Nasional di Kupang
Bagikan

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

 

Baru-baru ini perasaan ummat Islam “disayat” kembali dengan adanya terompet tahun baru 2016 yang terbuat dari sampul Al-Quran. Ini jelas pelecehan dan penistaan yang di luar batas. Dan sudah pasti menyakiti perasaan ummat Islam. Dan ternyata upaya penistaan dan pelecehan terhadap ummat Islam tidak hanya itu, ada yang lebih dahsyat di acara peringatan Natal Nasional, yang diadakah di Kupang, NTT (28/12/15), tepatnya di rumah Gubernur NTT.

Dikabarkan bahwa pada acara itu hadir sekitar 10.000 orang. Bahkan Presiden Jokowi dan beberapa menteri ikut hadir. Di saat itulah dikumangkan adzan yang mengiringi lagu rohani ‘Ave Maria’. Anehnya lagi, adzan itu dikumandangkan oleh seorang ustadz yang bernama Umarba, seorang imam di Masjid Oepura. Kumandang azan itu mengiringi lagu karya Schubert, yang dinyanyikan oleh Reny Gadja dari gereja Musafir Indonesia. (Lihat: Nyanyi Ave Maria Diiringi Adzan dalam Perayaan Natal Dinilai Kebablasan).

Anehnya lagi, Ustadz Umarba malah mengaku senang bisa turut berkontribusi bagi umat Kristiani pada perayaan Natal Nasional 2015. Menurutnya, melodi baru yang tercipta dari azan dan lagi Ave Maria itu menunjukkan bahwa perbedaan pun bisa disatukan. Dia bahkan menyatakan, “Kita satu keluarga. Alangkah baiknya hidup rukun dan damai.” (Lihat, www.tribunnews.com, “Tak Hanya Kumandang Azan, Qasidah pun Berkumandang di Perayaan Natal Nasional”, 28/12/2015).

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Dari peristiwa perayaan Natal Nasional itu setidaknya dapat ditarik beberapa hal penting berikut ini:

Pertama, salah paham tentang toleransi

Jika toleransi dipahami dengan bolehnya mencampur-adukkan ritual yang berbeda: antara azan dan lagu rohani Kristen, ini jelas tidak benar. Karena manfaat dan fungsi azan dalam Islam bukan untuk disalah-gunakan. Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa fungsi azan itu adalah empat: (1) menampakkan syiar Islam, (2) kalimat Tawhid, (3) petanda masuknya shalat, dan (4) seruan untuk melakukan shalat jamaah). (Lihat, Imam al-Nawawi, Syarh Muslim (Kairo: al-Mathba’ah al-Mishriyyah bi al-Azhar,  Cet. I, 1347 H/1929 M): 4/77).

Selain itu, tentu ada yang dilanggar dan sunnah azan itu sendir. Di mana setiap orang yang mendengar kumandang azan ia harus mengikutinya, seperti ucapan sang muazin itu. Hal ini didasarkan kepada sabda Nabi, “Jika kalian mendengar muazin mengumandangkan azan, maka katakanlah seperti apa yang dikumandangkan muazin itu. Kemudian shalawatlah kalian kepadaku. Karena jika salah seorang dari kalian bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan membalasnya sepuluh kali. Kemudian mintakanlah wasilah kepada Allah untukku, karena wasilah itu adalah satu kedudukan di surga yang diberikan hanya kepada seorang hamba Allah. Dan aku berharap hamba itu adalah aku. Dan siapa yang memohonkan wasilah itu kepada Allah untukku, dia akan mendapatkan syafaatku.” (Lihat, Imam al-Nawawi, Syarh Muslim, 4/85, hadits dari ‘Abd Allah ibn ‘Amr ibn al-‘Ashr).

Apa ia kaum Kristen di Kupang, NTT, itu mengucapkan apa yang dikumandangkan oleh muazzin? Jika ia, berarti mereka telah Muslim semua. Dan ini mustahil. Karena diyakini bahwa kaum Kristen tidak paham makna, fungsi, dan esensi azan sebagai syiar Islam itu. Di sini semestinya seorang pemuka agama Islam, seperti Ustadz Umarba itu harus jeli. Dan di sini tidak ada kaitannya dengan toleransi. Karena toleransi artinya: dapat hidup berdampingan dengan orang yang aqidahnya kita anggap salah dan menyimpang. Dan jika sudah disama-samakan satu keyakinan dalam satu agama dengan keyakinan agama yang jelas berbeda, itu namanya sikretisme, bukan toleransi.

Kedua, lakum dinukum waliyadin

Prinsip bahwa “agamamu adalah bagimu – kalau itu dianggap sebagai din (agama), dan bagiku agamaku” semestinya dapat dipahami dengan baik dan benar. Karena sebab turunnya ayat berkaitan dengan tawaran “kompromi” dan “negosiasi” antara utusan kaum musyrik Makah dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

Di mana mereka menawarkan untuk beribadah menyembah tuhan kaum musyrik dan Allah yang disembah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam secara bergantian, selama satu tahun. Jadi, kaum musyrik menyembah Allah selama setahun, sebaliknya nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menyembah tuhan mereka selama satu tahun. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam kemudian menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari mengkompromikan din Allah dengan yang lainnya.” Lalu Allah turunkan Qs. Al-Kafirun. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam pergi ke al-Masjid al-Haram dimana pemuka kaum musyrik berada di dalamnya, kemudian beliau membacakan Qs. Al-Kafirun sampai selesai. Akhirnya, mereka pun putus asa dari upaya kompromi itu. (Lihat, Imam Abu al-Hasan ‘Ali ibn Ahmad al-Wahidi (w. 468 H), Asbab al-Nuzul, tahqiq dan studi: Kamal Basyuni Zaghloul (Beirut-Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1411 H/1991 M), 496. Lihat juga, Imam al-Suyuthi (w. 911 H), Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Beirut-Lebanon: Mu’assasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah, Cet. I, 1422 H/2002 M), 310).

Dalam masalah ‘aqidah Rasulullah Saw. mengajarkan kita ketegasan yang luar biasa. Bak kata pepatah, “Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.” Kisah hijrahnya para Sahabat Nabi Saw. ke Habasyah (Ethiopia) yang dipimpin oleh Ja’far ibn Abi Thalib semestinya jadi pelajaran penting. Dimana dalam kondisi “mecari suaka” pun ‘aqidah pantang dikorbankan. * (BERSAMBUNG)

Penulis adalah staf pengajar di PP. Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AdzanAve Mariagerejanataltauhid
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Anggota DPR Desak Kepolisian RI Minta Maaf Kepada Keluarga Korban Salah Tangkap
Tulisan selanjutnya Para Dai Mestinya Harus Melek Ekonomi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Berita
13 Juli 2026 06:00
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?