Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Wahabi dan Deradikalisasi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 April 2016 08:52 8:52 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 April 2016 09:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Agung Puspito

 

SEJARAH mencatat nama intelektual Muhammad bin Abdul Waĥĥab (1703–1791 Masehi) yang mazhab fiqh-nya (ilmu hukumnya) dianggap menjadi mazhab resmi kerajaan Arab Saudi. Ia dan kelompoknya tidak menamakan diri “Wahhabi” melainkan Al-Muwahiddun, ‘Pendukung Tauhid’. “Wahabi” adalah julukan yang berasal dari pihak-pihak lain.

Muhammad bin Abdul Waĥĥab adalah pengikut ajaran Ibnu Taymiyah (1263—1328 M), seorang faqiĥ (ahli ilmu hukum) bermazhab Hanbali. Ibnu Taymiyah adalah seorang pembaharu dan pemurni, dengan ajarannya yang terkenal, “Kembali kepada Kitab Suci dan kepada Sunnah Nabi”, dan seruannya untuk meneladani kaum Salaf yang saleh yaitu kaum muslim dari tiga generasi pertama.

Ia memperjuangkan dibukanya pintu ijtihad (upaya merumuskan hukum menggunakan Quran, sunnah Nabi, dan akal) sepanjang masa. Ibnu Taymiyah dikenal menentang sikap-sikap taqlid (menuruti kata orang berdasarkan otoritas semata) dan jumud (beku, statis). Seperti Ibnu Taymiyah, Muhammad bi Abdul Waĥĥab juga tak mau ber-taqlid kepada keempat mazhab (Hanbali, Hanafi, Maliki, dan Syafi`i). Karenanya, ia tak disukai kalangan ulama.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Apakah Ibnu Taymiyah dan Muhammad bin Abdul Waĥĥab bertanggung jawab atas gerakan-gerakan ekstrem yang dikaitkan dengan Wahabi? Ini tentu tak masuk akal, karena setiap individu menanggung dosa dan pahala masing-masing.

Saat ini banyak istilah yang disandingkan dengan gerakan-gerakan yang dijuluki “wahabi”. Terkadang diimbuhi “radikal” dan “takfiri” (atau mengafir-kafirkan orang lain). Perlu analisis kritis sebelum memberi atribut “radikal” kepada seseorang atau kelompok.

 Kamus bahasa Inggris (misalnya Oxford Advanced Dictionary) menyebutkan radical sama artinya dengan fundamental, yaitu ‘thorough and complete’ (menyeluruh dan utuh); ‘favouring fundamental reforms’ (mendukung reformasi fundamental); ‘advanced in opinions and policies’ (maju dalam pandangan dan kebijakan).

Setidaknya, tak ada konotasi negatif di sana. Berasal dari kata Yunani radics (akar), kata ini menjadi salah satu ciri studi filsafat yaitu sampai ke akar, tuntas.

Jadi, mengapa harus ada “deradikalisasi”? Term ini mengacu kepada penanggulangan terorisme yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meliputi pencegahan dan perbaikan, yang mengandaikan adanya tindakan radikal dari para pelaku teroris. Padahal, kasus-kasus terorisme di negeri ini, juga di mancanegara seperti yang dilakukan ISIS, melibatkan pembunuhan menggunakan bom atau senjata lainnya.

Itu tindakan yang tidak berkonotasi radikal tapi lebih kepada tindakan ekstrem, bahkan kriminal. Kita perlu berbuat sesuatu agar program deradikalisasi yang ada tidak menjurus kepada anti-intelektual.

Tindakan-tindakan radikal lebih merupakan penafsiran terhadap ajaran agama. Karenanya, bisa benar dan bisa salah. Ini yang terjadi pada awal 2000-an ketika kelompok Taliban di Afghanistan merusak warisan budaya umat Buddha yang dipahat di bukit-bukit batu.

Di Tiongkok, tokoh nasionalis Tionghoa Dr Sun Yat Sen (lahir 1859) sewaktu remaja bergabung dengan gereja di sekolah pemondokan di Hawaii. Ketika kembali ke Tiongkok pada usia 17, Sun menjadi pemuda yang radikal. Ia merusak patung-patung di kuil lokal karena dianggap berhala, lalu melanjutkan studi di Queen’s College, Hong Kong, dan dibaptis menjadi seorang Kristen di Gereja Congregational di sana.

Pada 1920-an di Hindia Belanda, kedatangan pihak kolonial Belanda di Papua disertai dengan penyebaran agama. Mereka menggantikan religi penduduk lokal Sentani yang dianggap menyembah berhala, dengan membakari rumah-rumah keramat serta lukisan-lukisan kayu karya warga Sentani.

Kita baca kisah tentang Ibrahim Bapak Para Nabi, pewaris ajaran monoteistik yang lurus kepada penganut agama-agama wahyu.

Ibrahim muda adalah seorang yang radikal. Ia secara demonstratif menunjukkan kezaliman rakyat di negerinya yang mempertuhan patung-patung ciptaan mereka. Itu patung-patung yang bahkan tidak mampu menolong diri sendiri, ketika Ibrahim menghancurkan seluruh patung dan menaruh kapak penghancur itu di pundak patung terbesar seakan ingin menunjukkan bahwa berhala itulah pelakunya.

Aparat kerajaan bisa saja menangkapnya dengan sangkaan melakukan penistaan agama atau penghinaan simbol-simbol negara. Tapi, pesan tauhid Ibrahim tak terpatahkan dari generasi ke generasi: Allah Yang Esa tak boleh diduakan.

Risalah tauhid baru berhenti sampai hadirnya nabi sekaligus rasul terakhir, Muhammad. Dia adalah satu-satunya pewaris kenabian Ibrahim dari garis keturunan putera pertama, Nabi Ismail, yang selama berabad-abad tak menurunkan seorang nabi pun.

Sedangkan putera kedua Ibrahim, Ishaq, menurunkan Yaqub atau dikenal juga dengan nama Israil, sehingga keturunannya digelari Bani Israil (Anak-anak Israil). Bani Israil menurunkan nabi-nabi dan para rasul hingga rasul terakhir sebelum Nabi Muhammad, Isa bin Maryam. Suku paling pembangkang dari Bani Israil enggan menerima bahwa rasul terakhir, yang namanya tercantum di kitab suci mereka (Ahmad), ternyata gembala dari Arab. Itu kan negeri padang pasir yang nyaris tak berbudaya kecuali di bidang susastra.

Ahmad, pemalu dan buta huruf, bukanlah orang yang dengan gagah memasuki ka-bah untuk menghancurkan patung-patung berhala yang saat itu memenuhi rumah Allah. Alih-alih, nabi ini dengan sabar menepati perjanjian yang dibuat dengan kaum kafir untuk tidak memasuki Mekah dalam jangka waktu tertentu.

Kelak, manusia dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong berhaji ke Makkah mengunjungi rumah yang didirikan Ibrahim. Kejujuran adalah karakter integral dari Muhammad dan ia tidak menyampaikan dakwah kecuali sebatas yang diwahyukan. Bahkan Tuhan pun menggunakan lisan sang Nabi ketika Dia berfirman, “Jika bukan karena engkau Muhammad, Aku tidak akan menciptakan Adam.”

Muhammad yang istiqomah (konsisten) menyampaikan ayat-ayat untuk tak melakukan penyerangan secara verbal terhadap praktik-praktik pemujaan berhala. Secara verbal saja dilarang, apalagi secara fisik. Kini perbuatan itu dinilai ekstrem, dan tampaknya tidak perlu tafsir yang rumit bagi larangan di bawah ini,

وَلاَ تَسُبُّواْ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ فَيَسُبُّواْ اللّهَ عَدْواً بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”{Quran S Al An’am [6]: 108}.*

Penulis dan Freelance Journalist

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BNPTradikalwahabi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ancaman Ayah Berbuah Hidayah
Tulisan selanjutnya Loss of Adab dan Kepercayaan Diri Muslim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli

Berita
13 Oktober 2026 16:03
Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak
Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?

Terbaru

  • Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?
  • Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
  • Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain
  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?