Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Ancaman Ayah Berbuah Hidayah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 April 2016 08:03 8:03 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 April 2016 09:00
Bagikan
Bagikan

KATA orang, “Masa anak-anak adalah masa bermain”. Ungkapan ini sudah jamak diketahui. Dan semua memafhumi; bahwa usia anak-anak adalah usia beriang-bergembira, karena waktu yang ada digunakan untuk bermain dan bergembira dengan anak-anak sebaya.

Namun tidak demikian yang kualami. Boleh dibilang, masa anak-anakku justru kulalui dengan tindakan-tindakan kriminalitas.

Tumbuh kembang di lingkungan yang akrab dengan aksi kekerasan, tawuran dan kriminalitas, telah menyeretku ke dalam kubangan serupa. Tidak main-main tingkat kejahatan yang pernah kulakukan, bukan lagi sekedar tawuran, mengedar sabu-sabu juga pernah kujalani.

Pernah suatu hari; aku bersama komplotan yang umur mereka jauh lebih tua dariku yang baru duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar (SD) melakukan transaksi barang haram jenis sabu-sabu.

Di luar dugaan, ternyata aksi kami ini terendus oleh aparat keamanan. Singkat cerita, tertangkap basahlah kami semua, sehingga digiring ke kantor polisi.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Meski demikian parah pengalaman pahit yang pernah kuaalami, semua itu sama sekali tidak membuatku jera. Terhitung, lebih dari empat kali aku harus keluar-masuk bui untuk mempertanggungjawabkan kriminalitas yang kulakukan.

Ada kejadian lain yang tidak kalah parah, bahkan nyaris merenggut nyawa. Suatu hari aku terlibat aksi tawuran antar pemuda. Kericuhan itu memicu kemarah warga sekitar sehingga mereka bersatu padu menghakimi para pembuat onar.

Akupun tak lepas dari amukan mereka. Beruntung, aku yang memiliki hobi lari, mampu meloloskan diri dari masa yang sudah sangat emosi/marah/jengkel dengan ulah pemuda yang gemar tawuran.

Ancaman Ayah

Sejatinya bukan sekali dua kali ayah berusaha menasehatiku agar merubah sikap; baik itu dengan jalur lemah lembut maupun keras. Akan tetapi semua tak kugubris.

Hingga tibalah suatu hari, ayah melayangkan ancaman keras sehingga menyiutkan nyaliku. Beliau yang notabene pensiunan meliter mengancam akan memasukkanku ke penjara meliter bila masih tidak ingin berubah.

“Ayah akan memasukkan kamu ke penjara meliter, kalau tetap tidak mau berubah. Biar kamu tahu, bagaimana sengsaranya dipenjara di sana,” ancam ayah waktu itu.

Saya yang memahami betul sikap tegas ayah hanya bisa tertunduk. Nyaliku langsung ciut. Dan tekat berubah semakin menguat, ketika bersilaturrahim ke rumah seorang paman, dan beliau mengingatkanku untuk berubah, karena sudah terlalu lama munyusahkan orang tua.

“Kasihan bapak ibu kamu. Sudah cukup kamu menyusahkan mereka. Buatlah mereka bahagia,” nasihatnya yang membuat hati tersentuh.

Dan tekat itu semakin membaja, ketika suatu sore aku harus mengantar adik belajar mengaji di salah satu masjid besar di tempat kami berdomisili.

Sesampainya di sana, sayup-sayup aku mendengar lantunan ayat suci al-Qur’an. Ternyata yang membaca adalah guru ngaji adikku. Bacaan itu benar-benar mampu membuat gemuruh di hati. Aku terpesona dengan keindahan bacaan itu. Entah mengapa ada ketenangan yang kurasa ketika menyimak lantunan ayat-ayat al-Qur’an. Padahal aku sama sekali tidak mengerti arti dari ayat-ayat itu.

Singkat cerita, selepas shalat Maghrib, kuberanikan diri untuk menghadap sang ustadz. Kepadanya kuutarakan niat untuk belajar mengaji. Kukisahkan juga tentang kegelapan masa laluku.

Pada akhirnya, sang ustadz menunjukkanku kepada sebuah pondok pesantren yang juga menjadi tempat beliau mengabdikan diri belajar al-Qur’an. Beliau merekomendasikanku untuk masuk ke pesantren, bila memang ingin serius mengubah diri dan belajar al-Qur’an.

Sedari itu lah aku akrab dengan dunia pesantren, bahkan hingga hari ini. Selain mengabdikan diri di pesantren,  saat ini alhamdulillah  beberapa waktu silam, aku pun telah menyelesaikkan S2 ku di salah satu universitas Islam di Jawa Timur, mengambil bidang pendidikan.

Semoga ilmu yang kupelajari ini bisa membawa kebaikan bagi diri, keluarga, dan orang lain, tentunya, di dunia lebih-lebih di akhirat kelak. Amiin.*/Khairul Hibri, sebagaimana dikisahkan oleh Rijal (nama samaran), asal Jakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ayahhidayahkenakalan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Isra’ Mi’raj Biasakan Diri Dekat dengan Masjid
Tulisan selanjutnya Wahabi dan Deradikalisasi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?